94 Kasus DBD, 2 Meninggal

381
PEDULI POHON: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mencabut paku yang menancap di pohon tepi jalan Banjardowo. (M. RIZAL KURNIAWAN/RADAR SEMARANG)
PEDULI POHON: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mencabut paku yang menancap di pohon tepi jalan Banjardowo. (M. RIZAL KURNIAWAN/RADAR SEMARANG)
PEDULI POHON: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mencabut paku yang menancap di pohon tepi jalan Banjardowo. (M. RIZAL KURNIAWAN/RADAR SEMARANG)

BANJARDOWO – Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian serius Pemkot Semarang. Berdasar data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) hingga 30 Januari kemarin tercatat sudah ada 94 kasus DBD, dengan 2 orang meninggal. Untuk menekan angka DBD yang masih tergolong tinggi, Wali Kota Hendrar Prihadi meminta seluruh warga menjaga lingkungan sekitar sebagai bentuk tindakan memerangi wabah penyakit mematikan ini.

Menurut Hendrar Prihadi, tindakan membersihkan sampah di saluran, mencabut paku di pohon, memangkas rumput liar yang mulai semrawut, merupakan bentuk antisipasi menyebaran kasus DBD. ”Setelah absen selama dua bulan, kegiatan resik-resik kali ini kita aktifkan kembali. Mari kita perangi DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan,” terang wali kota saat memimpin gerakan resik-resik kali di Kelurahan Banjardowo, Genuk, Jumat (30/1).

Kegiatan tersebut juga diikuti, kelompok senam jantung sehat, warga, jajaran TNI dan Polri serta SKPD Pemkot Semarang.
Wali kota membeber, hingga 30 Januari kemarin, terdapat 94 kasus DBD dengan 2 angka kematian. Tingginya kasus DBD ini, membutuhkan kewaspadaan dan upaya preventif bersama. Kepada seluruh aparat hingga tingkat kelurahan diminta untuk dapat menggerakkan seluruh warga menjaga kebersihan lingkungan serta saluran yang ada di wilayah masing-masing. ”Gerakan resik-resik kali ini merupakan gerakan bersama membersihkan saluran dari sedimentasi serta tanaman-tanaman liar yang menghalangi arus air,” ungkap wali kota.

Harapannya, dengan kegiatan ini saluran drainase yang sudah akan kembali bersih, sehingga aliran kembali normal dan sempurna. Dengan demikian, potensi banjir serta rob dapat dikurangi sekaligus menciptakan lingkugan bersih serta nyaman. Lingkungan bersih dan sehat sangat diperlukan guna menjauhkan bahaya DBD. ”Inilah bentuk upaya preventif dari bahaya demam berdarah. Titik awal di Kelurahan Banjardowo ini harapannya dapat diikuti dan dicontoh oleh kelurahan, RT, RW dan titik-titik lain, sehingga akan tercipta lingkungan Kota Semarang yang bersih, nyaman dan sehat,” harapnya.

Hendi, sapaan akrab wali kota, menambahkan, untuk memerangi DBD, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan fogging (pengasapan) saja. Melainkan juga dapat dilakukan dengan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). ”Dengan fogging hanya nyamuk dewasa yang mati sementara jentik akan musnah dengan adanya PSN secara rutin,” jelasnya.

Dikatakan, menjaga kebersihan, cek bak mandi, tempat sampah, kaleng serta tempat-tempat lain yang berpotensi menjadi sarang nyamuk juga harus terus dilakukan untuk memerangi kasus demam berdarah. Kondisi curah hujan yang masih cukup tinggi hingga 2-3 bulan ke depan, lanjut wali kota, perlu terus diwaspadai dan disikapi dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya rob, banjir serta DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, menambahkan, lingkungan yang kotor, didukung anomali cuaca memang sangat rentan mewabahnya penyakit DBD. ”Karena curah hujan tinggi, masyarakat harus waspada, sebab pada Februari dan Maret merupakan puncak musim penghujan. Sementara itu nyamuk penyebab penyakit tersebut persebarannya juga tinggi saat musim-musim seperti ini,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, sepanjang 2014 tercatat sebanyak 1.628 kasus DB, dengan korban jiwa mencapai 27 orang. Widoyono menjelaskan, pihaknya terus mengupayakan berbagai program untuk semakin menekan angka kasus DBD di Kota Semarang pada tahun ini.

”Salah satunya dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini dikarenakan pemberantasan melalui fogging kurang efektif. Sebab fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, serta menimbulkan polutan dari sisa pengasapan,” kata Widoyono.
Dalam kesempatan tersebut diserahkan pula Kartu Semarang Sehat (KSS) kepada warga. Juga bantuan alat kebersihan berupa 3 unit mesin pemotong rumput, cangkul, serta bibit tanaman. (zal/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.