Bergelut dengan Perkusi

705
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI

DRUMMER cewek satu ini sudah tak asing lagi di kalangan musisi di Kota Semarang. Sebab, sejak usia belia, Ratih Wardoyo, sudah mengawali karir gemilang sebagai penabuh drum. Saat ini gadis kelahiran Semarang, 10 Agustus 1988 ini juga mengembangkan kemampuannya dengan memainkan musik perkusi.

”Saya bermain drum sejak usia 12 tahun. Waktu itu, saya masih duduk di kelas I SMP,” kenang Ratih saat berbincang dengan Radar Semarang.

Ratih mengaku, bermain drum mendapat dukungan penuh dari sang ayah. ”Orang tua saya mendukung penuh. Saya dulu pernah belajar drum di sekolah Purnomo Musik Semarang selama 6 bulan. Dari situ saya kembangkan,” ungkap gadis yang akrab disapa Penyenk ini.

Dia mengaku tertarik main drum karena secara umum, pemain drum cewek itu langka. ”Saya tertantang untuk main drum. Karena cewek main drum itu keren,” katanya.

Sederet prestasi disabet dari panggung ke panggung. Dari ajang festival musik lokal hingga nasional. Di antaranya, menyabet the best drum di acara Festival Musik Remaja 2006 yang digelar DPD Partai Demokrat Jateng. Ratih bersama grup bandnya, Espresso, juga sempat meraih juara III Festival Java Musik Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang diikuti 180 kelompok band se-Indonesia.

Kelihaiannya memainkan drum tak membuatnya puas untuk berekspresi. Ia pun kini menggeluti alat musik perkusi. Ratih pernah berkolaborasi dengan Keras Percussion, dan bersama beberapa talent female drummer di Semarang. Kelompok Keras Percussion lebih intens menggarap karya musik kreatif. Konsepnya memadukan unsur perkusi modern, perkusi etno (gamelan) hingga drum light. ”Bisa dilihat di Youtube. Search aja Keras Percussion,” ujar dara bergelar Sarjana Komputer (SKom) Universitas AKI Semarang ini.

Saat ini, ia juga memiliki kelompok The Laddy Percussion, yang merupakan eksplorasi dari hobinya menggebuk drum. ”Segala sesuatu kalau ditekuni dengan serius tidak ada yang sia-sia,” katanya.

Bersama kelompoknya, Ratih tak jarang mengisi acara di sejumlah kota. Mulai Manado, Balikpapan hingga Bali. ”Sampai sekarang, saya terus mengembangkan teknik bermain drum,” ujar wanita yang menggarap skripsi berjudul ’Simulasi Pembelajaran Alat Musik Drum bagi Pemula dengan Macromedia Flash8’ dan meraih nilai A ini.

Pengalaman dan jam terbang di masa silam memang memengaruhi keahlian saat ini. Tercatat, pada 2008, Ratih juga pernah manggung di event bergengsi perhelatan musik Soundrenaline di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Bersama temannya, Ajeng, yang tergabung dalam Super Girl Percussion, Ratih satu panggung dengan grup musik Kotak, J Rock dan Andra and The Backbone. ”Saat itu, kami satu-satunya grup asal Jateng,” katanya bangga.

Hebatnya lagi, selain disibukkan berkarya dalam bidang musik, Ratih juga berkecimpung dalam dunia bisnis. Ia membuka usaha kreatif berupa kafe di Semarang. ”Ya, harus pintar-pintar bagi waktu, antara hobi dan bisnis,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.