DBD Serang Warga Kendal

311
MEMBAHAYAKAN : Salah seorang pasien DBD di RSUD dr Soewondo, Kendal rata-rata penderita adalah usia anak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MEMBAHAYAKAN : Salah seorang pasien DBD di RSUD dr Soewondo, Kendal rata-rata penderita adalah usia anak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MEMBAHAYAKAN : Salah seorang pasien DBD di RSUD dr Soewondo, Kendal rata-rata penderita adalah usia anak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Penyakit demam berdarah (DBD), kian meresahkan masyarakat Kendal. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, dalam satu bulan terakhir ini sudah terjadi 26 kasus satu diantaranya meninggal dunia. Sementara di Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal ada 57 kasus pasien menderita DBD. Untuk itu masyarakat diminta waspada akan penyakit yang disebarkan oleh gigitan nyamuk aides aigepty. Sebab penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak saja, tapi juga orang dewasa.

Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soewondo Kendal, Endang Setyorini mengatakan dalam satu hari kemarin setidaknya tujuh orang pasien diidentifikasi terjangkit DBD. “Tujuh pasien DBD tersebut semua anak-anak dan mereka sudah ditangani oleh tim medis RS,” katanya, Jumat (30/1).

Penderita DBD yang masuk RSUD Dr Soewondo, dalam dua bulan terakhir mengalami peningkatan. “Tapi masih dalam ambang batas kewajaran, dalam arti belum sampai membludak. Kalaupun membludak kami akan siapkan ruang dan tim medis,” tambahnya.
Humas RSI Kendal, Farid Hermawan mengatakan dalam dua bulan terakhir ada 95 kasus DBD. Sedangkan dalam bulan Januari ini ada 57 kasus, 40 diantaranya adalah orang dewasa dan 17 sisanya anak-anak. “Sejauh ini masih tertangani, tidak sampai ada yang meninggal,” katanya.

Dokter spesalis anak di RSI Kendal, Dwi Laksmi, meminta agar masyarakat waspada, sebab DBD ini hampir menjangkiti seluruh daerah di Kendal, terutama wilayah atas. Yakni agar menjaga kebersihan dengan melakukan 3M (menguras dan menutup bak air serta mengubur barang bekas). “Nyamuk bisa berkembang biak di dalam air, makanya hindari air menggenang. Pastikan saluran air tidak ada yang mampet sehingga tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” katanya.

Selain itu, ia meminta jangan membrantas nyamuk dengan pengasapan atau fogging. Hal itu justru akan membahayakan manusia karena asap sangat berbahaya dan beracun. “Pengasapan hanya membunuh nyamuk, tidak membrantas dari akarnya. Jika tidak mati karena asap, justru nyamuk menjadi kebal dan berbahaya,” tambahnya.

Ia memaparkan tanda-tanda orang terserang DBD diantaranya, demam tinggi, muntah-muntah. “Jika sudah empat hari panas turun, tapi ini adalah kondisi menipu yang berbahaya. Bahkan pasien bisa mengalami muntah disertai darah. Makanya jika demam segera periksakan ke dokter atau puskesmas setempat,” tambahnya.

Kabid Penanangan dan Pembrantasan Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal, Ariani Wardiati mengatakan Januari ini sudah ada 26 kasus DBD di Kendal. Dari 26 kasus, satu pasien diantaranya meninggal atau tidak tertolong. “Data ini dari laporan SMS Gateway yang masuk ke Dinkes Kendal. Penanganannya, kami lakukan sosialisasi kepada masyarakat jika suatu wilayah ada yang terjangkiti penyakit DBD. Jadi sosialisasi disesuaikan dengan kondisi dilapangan,” katanya.

Ely Miawati, 33, warga Bebengan Kecamatan Boja mengatakan sejauh ini ada di kampungnya ada tiga orang terkena DBD dan semua anak-anak. “Kami berharap ada tindakan dari pemerintah untuk mencegah DBD ini, sebab jika dibiarkan maka akan banyak masyarakat yang jadi korban DBD,” pintanya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.