SD Kartini Jadi Cagar Budaya

497
BATIK: Beberapa siswa terlihat asyik membatik menggunakan metode ciprat di kain yang disediakan oleh pihak sekolah dalam 100 tahun berdirinya SD Kartini Semarang, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
BATIK: Beberapa siswa terlihat asyik membatik menggunakan metode ciprat di kain yang disediakan oleh pihak sekolah dalam 100 tahun berdirinya SD Kartini Semarang, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
BATIK: Beberapa siswa terlihat asyik membatik menggunakan metode ciprat di kain yang disediakan oleh pihak sekolah dalam 100 tahun berdirinya SD Kartini Semarang, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

SARIREJO – Direktorat Jenderal Kebudayaan merekomendasikan SDN Kartini sebagai cagar budaya nasional. Mengingat usia pendirian SD yang berada di kawasan Sarirejo tersebut sudah mencapai 100 tahun.

Rekomendasi tersebut disampaikan langsung oleh Kasubbid Registrasi Nasional, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Yuni Astuti Ibrahim saat menghadiri 100 tahun berdirinya SD Kartini Semarang (29/01).

Menurutnya, SD Kartini ini merupakan salah satu bangunan yang dinyatakan oleh tim ahli nasional yang bisa dikategorikan sebagai cagar budaya nasional. Yuni menjelaskan, di dalam Undang-undang Dasar Nomor 11 tahun 2010 tentang Status Cagar Budaya, dimulai dari pasal 33 yakni berisi status cagar budaya nasional yang ditetapkan oleh pemerintah daerah, selanjutnya bisa diteruskan ke tingkat nasional.

Yuni Astuti menambahkan, setelah melihat sejarahnya, tidak disangsikan lagi SD Kartini juga memiliki teknologi tersendiri pada saat itu, sehingga ini jadi potensi tersendiri bagi SD Kartini untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. ”Rekomendasi sekolah ini ke wali kota sudah kami masukkan, kami juga sudah rapatkan dengan 13 orang tim cagar budaya Kota Semarang yang telah melakukan peninjauan beberapa waktu lalu. Insya Allah, dalam waktu dekat akan kami desak di tingkat wali kota agar bisa diteruskan ke tingkat nasional,” ujar Yuni.

Sementara Itu, Kepala Sekolah SDN Kartini, Anna Fitriyah mengatakan, dari segi bangunan, terlihat jelas bahwa sekolah ini memiliki nilai sejarah tersendiri. ”Kita berharap agar bangunan SD Kartini ini dapat terlestarikan dengan ditetapkan menjadi cagar budaya oleh pemerintah,” katanya.

Dikatakan Anna, pihaknya optimis jika sekolah yang dibangun sejak 11 Januari 1915 itu akan masuk dalam bangunan cagar budaya nasional. Sekolah yang berdiri pada 15 September 1913 tersebut sebelumnya menyewa sebuah gedung yang berada tak jauh dari gedung yang ditempati sekarang. ”Tembok-tembok masih asli, pintu-pintu juga masih asli. Bangunan SD Kartini ini juga sama dengan salah satu bangunan tua yaitu bangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Awal mula berdirinya pun kepala sekolahnya seorang wanita dari Belanda,” kata Anna.

Untuk perawatan bangunan tersebut pihak sekolah hanya melakukan pengecatan. Meski sudah terdapat lubang-lubang dikarenakan bangunan sudah masuk dalam usia uzur, namun pihak sekolah tidak berencana untuk memugar ulang bangunan peninggalan Belanda tersebut. (ewb/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.