Pedagang Roti Ngadu Soal Pembagian Kios

445
MENGADU DEWAN : Pedagang Pasar Projo saat mengadu kepada Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Senin (2/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MENGADU DEWAN : Pedagang Pasar Projo saat mengadu kepada Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Senin (2/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MENGADU DEWAN : Pedagang Pasar Projo saat mengadu kepada Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Senin (2/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Perwakilan pedagang roti Pasar Projo Ambarawa Kabupaten Semarang, Senin (2/2) kemarin, mengadu kepada Komisi B DPRD Kabupaten Semarang. Mereka tidak setuju dengan rencana penataan kios dan los pasar oleh Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang. Lantaran pedagang roti akan ditempatkan di lantai dua.

Salah seorang pedagang Erna Nurhayati, 42, warga Kupang Kidul, Ambarawa, mengaku ada sekitar 35 pedagang roti yang berjualan di lantai satu sebelum Pasar Projo terbakar. Kini, pedagang roti mulai resah, kabarnya pedagang roti akan ditempatkan di lantai paling atas bersama gerabah dan pedagang pakaian.

“Kalau benar-benar ditempatkan di lantai dua atau paling atas, kami tidak mau. Bisa-bisa kami semakin rugi, karena lantai tersebut jarang ada pembeli yang mau masuk. Belum lagi di lantai satu pedagang sembako juga berjualan roti. Itu semakin membuat dagangan kami tidak laku,” tutur Erna.

Pedagang lainnya Sudarni, 65, meminta Komisi B DPRD Semarang membantu para pedagang roti untuk menempati los atau kios di lokasi strategis. “Jika aspirasi pedagang roti tidak ditanggapi, maka para pedagang roti akan bangkrut karena sepi pembeli,” tandasnya khawatir.

Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong kepada puluhan pedagang menyampaikan bahwa pihaknya akan menampung aspirasi pedagang. Hanya saja, kata The Hok, saat ini DPRD juga belum diajak membahas soal pembagian kios dan los di Pasar Projo yang jumlah pedagangnya mencapai 1.709 pedagang.

“Informasinya lantai dasar untuk penjual ikan, lantai satu sembako, dan lantai dua adalah pedagang gerabah maupun pakaian dan roti. Sampai saat ini, kami belum pernah diajak rembugan oleh dinas soal pembagian los atau kios maupun soal retribusi,” ujar The Hok.

The Hok berjanji akan membawa permasalahan tersebut dalam pembahasan dengan dinas. Pihaknya juga akan mendesak dinas untuk mengatur masalah pungutan retribusi. (tyo/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.