Siram Air Keras, Meri Dituntut 6 Tahun

393
KEJAHATAN TERENCANA : Meri alias Mardianto warga Buaran Gang 3 Kecamatan Buaran, dituntut 6 tahun penjara, dalam persidangan yang digelar pada Senin sore (2/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
KEJAHATAN TERENCANA : Meri alias Mardianto warga Buaran Gang 3 Kecamatan Buaran, dituntut 6 tahun penjara, dalam persidangan yang digelar pada Senin sore (2/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
KEJAHATAN TERENCANA : Meri alias Mardianto warga Buaran Gang 3 Kecamatan Buaran, dituntut 6 tahun penjara, dalam persidangan yang digelar pada Senin sore (2/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Pelaku penyiraman air keras, Misbah alias Meri alias Mardianto warga Buaran Gang 3 Kecamatan Buaran, akhirnya dituntut 6 tahun penjara, dalam persidangan yang digelar pada Senin sore (2/1) kemarin. Terdakwa dinilai telah melanggar pasal 355 ayat 1 primer. dengan tuduhan melakukan kejahatan berencana dan penganiayaan berat.

“Terdakwa telah dengan sengaja melakukan kejahatan berencana dengan menyiram air keras korbannya Desi. Sehingga korban mengalami luka berat dan cacat seumur hidup,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pekalongan, Budi Haryanto.

Kendati begitu, semula Meri sempat mengungkapkan keberatannya atas tuntutan 6 tahun penjara tersebut. Namun saat ketua Majelis Hakim, Masduki, mengungkapkan bahwa rekannya Marzuki dituntut 4 tahun dan menerima, Meri akhirnya terdiam. “Pantaskah kamu menolak tuntutan, padahal temanmu yang hanya mengantar saja dituntut 4 tahun penjara menerima?” tegas Hakim Masduki.

Setelahnya, bahkan pria buruh serabutan yang mengaku kepada korban adalah juragan batik tersebut akhirnya menerima dan menyesali perbuatannya. Meski selama ini, dirinya ngotot menolak disebut sebagai pelaku.

Sementara itu, peristiwa penyiraman air keras tersebut terjadi pada Sabtu 13 September 2014 malam. Akibat penyiraman tersebut, Desi Saraswati, 19, warga Panjang Wetan Gang 1 RT 02 RW 07, Pekalongan Utara, mengalami luka parah di muka dan leher karena terbakar. Bahkan, Desi mengalami shock berat.

Dasmari, 46, bapak korban menceritakan bahwa kejadian itu berawal saat dia bersama kedua anaknya duduk di teras rumah sekitar pukul 20.00. Tiba-tiba Meri dan seorang temannya Marzuki yang mengendarai sepeda motor berhenti di depan rumah. Pelaku langsung mendekat lalu menyemprotkan cairan yang diduga air keras. “Disemprot pakai dot botol cuka, di bagian wajah anak saya,” katanya.

Sontak, Desi langsung menangis dan menjerit kesakitan. Dasmari yang diliputi kepanikan langsung membawa putrinya ke dalam kamar mandi. Dasmari pun membiarkan para pelaku kabur melarikan diri. Tak hanya Desi, Ashari Pratama yang merupakan adik korban juga terkena cipratan cairan di bagian kakinya. Namun lukanya hanya ringan.

“Saya langsung membawa anak saya ke kamar mandi, saya bilas terus. Habis itu saya mendengar anak laki-laki saya juga menangis, ternyata kena cipratan air keras juga,” katanya.

Kedua korban kemudian dibawa ke RS Budirahayu untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Sang adik hanya menjalani rawat jalan. Menurut Dasmari, aksi pelaku disebabkan hubungan cinta anaknya dengan Meri sudah berakhir sejak tiga bulan sebelum kejadian. Desi memutuskan hubungan karena Meri diketahui telah beristri.

Desi kemudian bertunangan dengan lelaki lain, bernama Budi yang sudah kenal dengan Meri selama bertahun-tahun. Namun, Meri tidak terima dengan keputusan Desi. Sejak itu, dia kerap meneror dan mengancam lewat pesan singkat kepada Desi.
“Sejak itu dia (Meri) sering kirim SMS ke anak saya, mengancam kalau hubungannya tidak kembali lagi, akan disakiti. Pokoknya semua keluarga akan dicelakai,” katanya.

Akibat teror tersebut, Dasmari memutuskan agar anaknya berhenti bekerja. Selain itu, biaya pengobatan Desi anaknya cukup berat. “Kalau biaya rumah sakit, masih cukup terbantu BPJS. Tapi obat-obatannya cukup mahal, tetapi harus dibeli,” ujar buruh tersebut.

Sedangkan yang paling menyedihkan, Desi jadi sangat stres. Tidak pernah keluar rumah karena malu, sehingga tidak kerja maupun mengikuti kegiatan lain. “Saya sendiri dan keluarga tidak terima dengan tuntutan yang hanya 6 tahun tersebut. Bahkan kami siap, melaporkan dia atas kasus meneror keluarga kami dan berbagai ancaman,” sesalnya. (han/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.