Mantan Bos Bank Jateng Dituntut 2 Tahun Penjara

361

MANYARAN – Mantan Pimpinan Cabang Utama Bank Jateng, Susanto Wedi menangis usai mendengarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan aplikasi software inti perbankan Core Banking System (CBS) Bank Jateng yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (3/2). Susanto dituntut pidana penjara selama 2 tahun dikurangi masa penahanan serta membayar denda sebesar Rp 150 juta subsider 6 bulan kurungan.

Dalam sidang dengan majelis hakim yang diketuai Gatot Susanto itu, JPU Febriyanto didampingi Hery Febri membacakan amar tuntutan secara bergantian. Menurut Hery, mantan bos Bank Jateng tersebut terbukti korupsi menyalahgunakan wewenangnya. ”Terdakwa tidak terbukti melanggar dakwaan primer pasal 2 ayat 1, namun melanggar pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 31/1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20/2001 tentang pemberantasan korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP sesuai dakwaan subsider,” bebernya.

Ketua tim JPU dari Kejati Jateng, Febriyanto, dalam amar tuntutannya mengatakan, dalam analisis yuridis, terdakwa dinilai memenuhi unsur setiap orang menyalahgunakan wewenang, sarana karena jabatannya, dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan merugikan keuangan negara.

Dia menyatakan, dari keterangan para saksi, terdakwa, dan disesuaikan barang bukti ditemukan fakta bahwa terdakwa selaku ketua panitia lelang pengadaan aplikasi CBS telah mengubah dan merekayasa harga penawaran. Tindakannya dinilai menguntungkan pihak rekanan PT Sigma Cipta Caraka (SCC) karena dimenangkan.

Pada pelaksanaannya, PT SCC diketahui tak mampu melaksanakan pengadaan sesuai. Sejumlah aplikasi diketahui tidak bekerja. Namun atas pekerjaannya, pihak panitia tidak memutus kontrak kerja dan justru membayarnya sebesar Rp 30,7 miliar atau 96 persen. ”Bahwa pembayaran itu tidak lepas dari peran terdakwa yang membuat berita acara closing rollout implementasi aplikasi di seluruh kantor cabang dan cabang pembantu, meski nyatanya belum selesai,” katanya.

Dikatakan, hingga dibuatnya perjanjian baru kesanggupan menyelesaikan, PT SCC tetap tak mampu. Atas hal itu, pihak Bank Jateng lalu menunjuk pihak konsultan. Dari laporannya, konsultan menemukan adanya sejumlah masalah baik atas aplikasi dan hardware. Terungkap bahwa kekurangan sejumlah pekerjaan berdasarkan auditor independen sebesar Rp 816 juta yang terdiri atas sejumlah item. ”Nilai kerugian negara itu dianggap sebagai keuntungan PT SCC. Atas hal itu, PT SCC pada Desember 2011 telah mengembalikannya ke negara,” jelasnya.

Terkait kerugian negara yang dalam dakwaan sebelumnya disebut sebesar Rp 3,1 miliar, jaksa tidak mengungkapnya secara jelas. Ia menilai jika salah satu wanpretasi, maka seharusnya dapat dilakukan pemutusan kontrak. Namun tindakan tidak memutus kontrak oleh terdakwa menjadikan pembayaran terlaksana. Hal itu dinilai menguntungkan PT SCC. ”Sehingga kerugian negara telah dikembalikan seluruhnya,” ujarnya.

Tuntutan jaksa tersebut didasarkan pertimbangan memberatkan, yakni perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Sementara hal meringankan, terdakwa kooperatif, kerugian negara tertutup, tidak menikmati uang, memiliki tanggungan keluarga, serta PT SCC telah menjadi perusahaan BUMN.

Menanggapi tuntutan itu, Susanto Wedi langsung tertunduk. Dirinya terlihat mengambil sapu tangannya untuk mengusap air mata yang menetes. Sambil berkaca, dirinya kemudian mendatangi tim kuasa hukumnya untuk berkonsultasi menanggapi tuntutan jaksa. ”Kami akan mengajukan pembelaan yang mulia. Kami yakin tidak bersalah dan tidak melakukan apa yang dituduhkan jaksa,” ujarnya.

Usai sidang, Susanto Wedi langsung menghampiri keluarga dan rekan-rekannya. Mereka kemudian berpelukan dan pergi meninggalkan ruang sidang. Sidang ditunda satu pekan pada Selasa (10/2) mendatang dengan agenda pembacaan pledoi atau pembelaan terdakwa. (mg21/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.