Cabuli Siswinya, Guru Didenda Rp 50 Juta

351
GERAM: Puluhan warga saat menggeruduk MI Miftahul Huda Banjari, Cukil, Tengaran kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
GERAM: Puluhan warga saat menggeruduk MI Miftahul Huda Banjari, Cukil, Tengaran kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
GERAM: Puluhan warga saat menggeruduk MI Miftahul Huda Banjari, Cukil, Tengaran kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TENGARAN- Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda, Banjari, Cukil, Tengaran, Kabupaten Semarang berinisial J tega mencabuli anak didiknya yang masih duduk di bangku kelas 5 berinisial P. Aksi tak senonoh itu dilakukan pelaku di dalam kelas korban. Tentu saja, ulah guru bejat tersebut membuat warga berang. Kemarin (4/2), puluhan warga sempat menggeruduk MI Miftahul Huda. Namun karena pihak keluarga korban minta diselesaikan secara kekeluargaan, massa yang datang mampu diredam. Akibat perbuatan bejatnya itu, J dipecat secara tidak hormat, dan harus membantu biaya pendidikan P sampai lulus SMA sebesar Rp 50 juta, yang dibayar paling lambat 9 Maret 2015.

Informasi yang dihimpun Radar Semarang di tempat kejadian kemarin (4/2) menyebutkan, perbuatan cabul itu diduga dilakukan beberapa bulan terakhir. Akibatnya, korban sempat mengalami depresi. P tidak mau keluar kamar, dan tak mau berangkat sekolah. Karena curiga, orang tua P membawa putrinya ke seorang psikolog. Dari situlah, akhirnya terungkap aksi pencabulan yang dilakukan J, yang tak lain adalah guru korban sendiri.

Kepala Yayasan MI Miftahul Huda, Nur Hadi, mengatakan, perbuatan tak senonoh itu dilakukan J di dalam kelas. Tindakan asusila itu biasa dilakukan saat teman-teman P sedang mengikuti pelajaran olahraga di luar kelas.

“Kami barusan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Pihak keluarga tidak mau masalah ini diperpanjang, karena nanti berimbas ke psikologi anaknya. J harus membayar sanksi sebesar Rp 50 juta, terakhir dibayar 9 Maret mendatang,” terangnya.

Kadus Banjari Slamet Budiyono mengatakan, jika kedatangan warga hanya ingin mendengarkan keputusan dari pihak orang tua dan J. Tidak ada niat untuk menghakimi pelaku. Sebab, J sudah mendapat sanksi yang setimpal. “Kejadian ini juga sebagai teguran bagi setiap orang tua dan guru agar selalu memperhatikan anak-anaknya. Sehingga kejadian serupa tidak akan terulang lagi,” harapnya. (abd/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.