Proyek Jateng Park Jangan Terburu-buru

334
Didiek Hardiana Prasetyo. (IST)
Didiek Hardiana Prasetyo. (IST)
Didiek Hardiana Prasetyo. (IST)

GEDUNG BERLIAN – Kalangan DPRD Jateng berharap Pemprov Jateng benar-benar menyiapkan perencanaan matang dalam pembangunan Jateng Park di kawasan hutan Penggaron, Kabupaten Semarang. Pemprov tidak usah tergesa-gesa untuk merealisasikan pembangunan tersebut.

Dewan menilai, pemprov terkesan memaksakan diri dengan menarget pembangunan fisik dimulai Januari 2016. Padahal MoU baru diselesaikan, dan masih belum ada master plan, kajian Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), DED (Detail Engineering Design), serta investor yang terlibat dalam pembangunan Jateng Park.

”Saya kira memberikan waktu 2 bulan bagi tim dari Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P2PAR) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk merancang penyusunan master plan itu terlalu sebentar. Tidak usah buru-buru, harus cermat dan diperhitungkan secara matang,” kata anggota Komisi B DPRD Jateng, Didiek Hardiana Prasetyo kepada Radar Semarang.

Politisi PDIP ini menambahkan, jangan sampai pembangunan Jateng Park nantinya justru berlarut-larut karena konsep yang kurang matang. Hal itu tentu akan menjadi beban dan merepotkan pihak pemprov sendiri, karena harus menyuntikkan dana untuk merampungkan pembangunan tersebut. ”Ini kan dibangun dengan menggunakan uang rakyat, jangan sampai terbengkalai di tengah jalan. Harus benar-benar direncanakan secara matang,” ujarnya.

Ia tidak ingin kasus seperti pengelolaan kawasan PRPP terulang lagi, karena tidak ada konsep yang matang dalam penataannya. Pihaknya tetap mendukung pembangunan Jateng Park yang rencananya akan menjadi destinasi wisata baru di Jateng. ”Prinsipnya semua mendukung pembangunan itu (Jateng Park),” katanya.

Terpisah, Manajer Program Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng, Arif Zayyin, menolak pembangunan Jateng Park di kawasan hutan Penggaron. Sebab, pengalihfungisan itu dikhawatirkan bisa merusak ekologi di hutan Penggaron. ”Kalau hutan Penggaron dijadikan objek wisata, dikhawatirkan akan merusak ekologi. Sebab, akan menghilangkan hutan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, hutan Penggaron menjadi kawasan ekologi, daerah resapan, hutan kota, serta daya serap karbon yang menstabilkan suhu panas. Ketika hutan dihilangkan, jelas cuaca akan menjadi panas. Pencinta lingkungan berharap Pemprov Jateng tak mengalihfungsikan lahan hutan Penggaron menjadi tempat wisata. ”Kalau ingin membangun wahana wisata, jangan di kawasan hutan karena akan merusak lingkungan,” tandasnya. (fth/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.