Justru Banyak Terima Order Komik Luar Negeri

469
DIAKUI DUNIA: Kru Papillon Studio saat memberikan workshop kepada para siswa SMA. (kanan) Ketua Papillon Studio, Burhan Arif. (DOK. Papillon Studio)
DIAKUI DUNIA: Kru Papillon Studio saat memberikan workshop kepada para siswa SMA. (kanan) Ketua Papillon Studio, Burhan Arif. (DOK. Papillon Studio)
DIAKUI DUNIA: Kru Papillon Studio saat memberikan workshop kepada para siswa SMA. (kanan) Ketua Papillon Studio, Burhan Arif. (DOK. Papillon Studio)

boks 2 hanweb

Karya-karya komikus lokal ternyata mampu bersaing dengan komikus luar negeri. Papillon Studio Semarang mewadahi para komikus lokal untuk mengembangkan kemampuan dan karya-karya mereka. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

LEMBARAN-lembaran sketsa komik yang masih dalam pengerjaan terlihat menarik di salah satu ruang Papillon Studio. Bila diperhatikan, ada ciri khas dari masing-masing karya komikus, baik dari arsiran maupun pola-pola lain dalam menggambarkan setiap tokoh.

”Setiap komikus pasti memiliki ciri dan spesialisasi. Termasuk halnya dengan beberapa anggota di Papillon Studio, tidak semua bisa mengerjakan apa yang digarap oleh setiap anggota. Beda ciri,” ujar Ketua Papillon Studio, Burhan Arif saat ditemui Radar Semarang di studio Papillon Jalan Tanjung 4 No 50 Klipang Alam Permai, kemarin.

Di studio ini juga disimpan beberapa komik karya anggota Papillon yang sudah jadi dan diterbikan. Selain beberapa penerbit dari dalam negeri, sebagian juga terlihat komik-komik yang diterbitkan di luar negeri.

”Kita memang sering dapat proyek justru dari luar negeri. Di antaranya Hongkong, Australia, Amerika dan Afrika Selatan. Sejauh ini meski hanya bermodal komunikasi melalui e-mail, kami cukup dipercaya untuk menggarap proyek mereka,” katanya.

Pria yang akrab disapa Hanri ini berharap, dengan seringnya melakukan kolaborasi dengan penulis maupun penerbit luar negeri, maka para komikus Indonesia khususnya yang dari Semarang dapat lebih memiliki nama dan dikenal baik secara nasional maupun internasional.

”Jangan sampai komikus-komikus lokal ini tenggelam, dan disangkanya Indonesia tidak memiliki komikus, karena sebetulnya kita memiliki cukup banyak komikus berbakat, dan sebagian sudah memiliki nama di luar negeri,” ujarnya.

Nah, melalui Papillon Studio ini, sejumlah komikus di Semarang bergabung dan mengupayakan agar karya-karya komikus lokal dapat terus berkembang. Papillon sendiri, bisa dibilang sebagai salah satu komunitas yang bisa mempertahankan eksistensinya. Lebih dari satu dekade, sejak 28 September 2002 atau sudah hampir 13 tahun.

”Awalnya kami membuat komik dengan genre horor dan langsung diterbitkan oleh salah satu penerbit komik lokal yang cukup ternama. Tapi, ternyata banyak hal-hal yang diubah tanpa persetujuan kami. Karena kecewa, akhirnya kami banyak bekerja sama dengan penerbit lokal lainnya serta menggarap proyek-proyek dari luar negeri,” katanya.

Alumnus Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) ini mengakui, banyak hal menarik yang didapat dengan menekuni bidang tersebut. Salah satunya adalah kepuasan saat karyanya selesai dibuat lalu diterbitkan, dan banyak diminati.

”Komikus saya rasa bukan pekerjaan yang semua orang bisa melakukan. Jadi, menurut saya ya seru, selain memang hobi tentunya,” ujar pria kelahiran Semarang ini.

Namun demikian, hobi yang menjadi pekerjaan ini juga bukan tanpa tantangan. Saat menyetujui untuk berkolaborasi, maka para komikus juga harus mengejar tenggat waktu yang sudah ditentukan.

”Kami harus tetap bisa memberikan karya dengan kualitas terjaga walaupun dengan tenggat waktu yang mepet. Di situ tantangannya,” katanya.

Para komikus yang tergabung dalam Papillon Studio ini juga tak sekadar berkutat dengan pekerjaan mereka. Sesekali mereka juga bersedia membagi keahliannya tersebut bagi siapa pun yang berminat. Seringnya melalui sejumlah workshop.

”Kita beberapa kali mengadakan workshop di SMA dan universitas, terkadang juga diminta untuk menjadi pembicara. Kami sangat senang, karena bisa berbagi banyak ilmu maupun pengalaman di bidang ini. Semoga ke depan lebih banyak komikus Indonesia yang lebih dikenal,” tandasnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.