Lapangan Kerja Sempit, Ribuan Warga Jadi TKI

478
SIAP MENGADU NASIB : Calon TKI melihat lowongan pekerjaan luar negeri di kantor Dinsosnakertrans, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
SIAP MENGADU NASIB : Calon TKI melihat lowongan pekerjaan luar negeri di kantor Dinsosnakertrans, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
SIAP MENGADU NASIB : Calon TKI melihat lowongan pekerjaan luar negeri di kantor Dinsosnakertrans, Batang, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG – Lantaran sulit mencari pekerjaan di Kabupaten Batang, sepekan terakhir kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Batang ramai dipadati para pencari kerja yang hendak berangkat ke luar negeri. Sebagian besar warga calon tenaga kerja Indonesia (TKI) tersebut berasal dari Kecamatan Gringsing, Tersono dan Bandar.

Berdasarkan data dari Kabid Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinsosnakertrans, hingga awal Februari tercatat calon TKI yang sudah mendaftar mencapai 55 orang dan 945 orang sudah diberangkatkan sepanjang tahun 2014 lalu.
Tingginya minat warga Batang bekerja sebagai TKI terjadi karena minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Mayoritas calon TKI didominasi oleh kaum perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sedangkan kaum pria banyak yang bekerja sebagai sopir, pelayan restoran atau di institusi formal.

Jatmiko, 27, warga Kecamatan Gringsing mengungkapkan negara Taiwan dan Malaysia, menjadi negara tujuan yang paling diminati calon TKI pria. Menurutnya kedua negara tersebut khususnya Malaysia, membutuhkan tenaga kerja cukup besar pada bidang industri. “Kalau Taiwan sebagian besar membutuhkan untuk rumah makan, dan berangkat ke Taiwan karena ada teman yang mengajak, karena sudah bekerja di sana,” ungkap Jatmiko, saat ditemui di Kantor Dinsosnakertrans.

Kabid Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinsosnakertrans, Nursito, menjelaskan dari 15 kecamatan di Kabupaten Batang, Kecamatan Gringsing, Tersono dan Bandar adalah penyumbang TKI dalam jumlah terbanyak. Khusus selama Januari 2015 sampai tanggal 27 kemarin, jumlah TKI yang terdaftar di Dinsosnakertrans sudah mencapai 55 orang.

” Ada beberapa negara yang menjadi tujuan negara terbanyak TKI. Untuk yang formal adalah Malaysia, sementara untuk informal adalah Singapura, Taiwan dan Hongkong,” jelas Nursito.

Nursito juga menandaskan bahwa sepanjang 2014, jumlah TKI yang sudah bekerja, dan terdata melalui Dinsosnakertrans mencapai 945 orang. Menurutnya, sebagian besar TKI tersebut bekerja di bidang formal dan informal. Bidang formal adalah mereka yang bekerja di lembaga atau institusi, sementara informal bekerja di perorangan seperti menjadi pembantu rumah tangga atau lainnya.

” Kalau dengan TKI yang tidak tercatat di tempat kami, seperti yang mendaftar langsung lewat BP3TKI Jateng atau BNP2TKI, itu bisa mencapai 2.000 orang lebih. Belum lagi dengan jumlah TKI non prosedural, atau ilegal yang tidak terdata, jumlahnya lebih besar lagi mencapai 3000 an,” tandas Nursito.

Dia juga menegaskan, ke depan keberadaan TKI ilegal diperkirakan akan semakin berkurang. Sebab saat ini, sudah ada kesepakatan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dengan kantor imigrasi. Meurutnya, bagi calon TKI yang ingin membuat paspor baru atau memperpanjang paspor, harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari lembaga seperti Dinsosnakertrans. Serta mereka diseleksi ketat, agar ketika menjadi TKI benar-benar secara legal, bukan ilegal.

” Ini sebagai filter untuk menjamin, agar TKI yang berangkat ke luar negeri itu melalui jalur yang benar. Jadi ke depan jumlah TKI ilegal, diharapkan semakin berkurang,” tegasnya. (thd/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.