Berlatih 10 Hari, Lupa Dialog Bahasa Indonesia

440
GEMULAI: Nicholas Macaibes dan Sisy Hu yang memerankan tokoh Rama dan Shinta saat pentas wayang orang di Wisma Perdamaian Sabtu malam. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GEMULAI: Nicholas Macaibes dan Sisy Hu yang memerankan tokoh Rama dan Shinta saat pentas wayang orang di Wisma Perdamaian Sabtu malam. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GEMULAI: Nicholas Macaibes dan Sisy Hu yang memerankan tokoh Rama dan Shinta saat pentas wayang orang di Wisma Perdamaian Sabtu malam. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

Apa jadinya jika pentas wayang orang diperankan oleh warga asing? Setidaknya itu yang terlihat dalam pergelaran wayang orang dengan lakon The Missing of Shinta yang digelar di Wisma Perdamaian, Sabtu (7/2) malam lalu. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Tugu Muda

SIAPA bilang warga asing tak bisa bermain wayang orang? Buktinya, sebanyak 15 mahasiswa asing Sabtu malam lalu sukses memainkan seni budaya Jawa tersebut. Para mahasiswa asing itu mementaskan pergelaran wayang orang dengan lakon The Missing of Shinta. Mereka tergabung dalam Universe Project 2 AISEC LC Undip. Dari 15 mahasiswa asing itu, 10 orang didaulat memainkan perangkat gamelan, sedangkan 5 mahasiswa memainkan tokoh wayang.

Dengan penuh percaya diri para mahasiswa asing ini tampak serius memerankan lakon yang dibawakan. Nicholas Macaibes, 20, mahasiswa asal Brasil yang memerankan tokoh Rama menjadi perhatian utama penonton. Demikian pula Sisy Hu, 19, mahasiswi asal Tiongkok, juga menjadi fokus utama pentas malam itu. Maklum saja, gadis cantik itu didaulat memerankan tokoh Dewi Shinta yang menjadi lakon pementasan wayang orang yang disaksikan ratusan tamu undangan tersebut.

Meski kesulitan berdialog dalam bahasa Indonesia, aksi kedua mahasiswa asing itu cukup memukau penonton. Apalagi dandanan keduanya nyaris sama dengan pementasan wayang pada umumnya. Gerak gemulai tubuh serta ekspresi wajah keduanya cukup membuat penonton terkagum-kagum.

”Orang asli Jawa saja nggak bisa memerankan tokoh wayang sebaik itu. Ini bule asing malah pintar bermain wayang orang,” puji Handoko, salah satu penonton sambil geleng-geleng kepala.

Karena dimainkan warga asing, tak jarang terjadi adegan yang memancing ketawa penonton. Misalnya, saat para mahasiswa asing itu lupa dialog atau salah melakukan gerakan.

Panitia acara Setyoningsih Subroto mengatakan, pergelaran wayang orang itu sebagai wujud nguri-uri kesenian jawa kepada dunia. Para mahasiswa asing yang terlibat, kata dia, berasal dari Tiongkok, Taiwan, Bahrain, Prancis, dan Jerman. Juga melibatkan mahasiswa Indonesia sendiri. Mereka berlatih selama 10 hari di Studio Seni Amerta Laksita Jalan Kaba III Nomor 11, Delikrejo Tandang, Tembalang. ”Saya sangat puas, apalagi semua pemeran baru kali pertama memerankan wayang orang ataupun memainkan musik gamelan,” katanya kepada Radar Semarang.

Sutradara pertunjukan, Cahyo Wibowo, mengaku, sengaja mengambil lakon Rama dan Shinta lantaran cerita cinta mereka sudah memasyarakat dan dikenal dunia. Sehingga memudahkan mahasiswa asing untuk belajar.

”Jalan ceritanya sangat mudah untuk dipahami, sehingga mudah diaplikasikan kepada sang pemeran,” ujarnya.
Selain itu, jalan cerita serta skenario pewayangan sengaja dibuat keluar dari pakem aslinya agar lebih menghibur dan tidak terkesan kaku ketika dimainkan dan dilihat penonton.

”Terus terang saya sangat puas, penampilan mereka sangat menghibur dan jenaka. Pengenalan budaya ini sengaja dibuat lebih ringan dan lucu agar mudah dipahami generasi muda,” katanya.

Usai pentas, pemeran Shinta, Sisy Hu, mengatakan jika dirinya sangat terkesan dan bangga bisa memainkan wayang orang. Menurut dia, kisah tersebut juga dikenal di negaranya, sehingga dirinya merasa sangat dimudahkan.

”Cerita ini hampir sama dengan Romeo dan Juliet, jadi isinya hampir sama. Ya, walaupun begitu saya tetap berlatih keras untuk mendalami karakter dan memainkannya dalam dialog bahasa Indonesia,” ujarnya bangga. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.