Tak Terbitkan Izin Minimarket untuk Lindungi Lapau

319

PRATONO/RADAR KEDU TUJUAN WISATAWAN: Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung Bambang Arochman melihat-lihat Pasar Atas yang menjadi pusat aksesoris dan pakaian di Bukittinggi.
PRATONO/RADAR KEDU
TUJUAN WISATAWAN: Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung Bambang Arochman melihat-lihat Pasar Atas yang menjadi pusat aksesoris dan pakaian di Bukittinggi.

PADA sebagian besar kota di Jawa, sangat mudah menemukan minimarket modern berjaringan. Bahkan di di sejumlah jalan protokol, minimarket-minimarket tersebut bisa berderetan.
Suasana seperti ini tak bisa ditemui di Bukittinggi Sumatera Barat. Bahkan sepanjang perjalanan dari Padang ke Bukittinggi, tak terlihat penampakan minimarket modern tersebut. Apakah para pengusaha retail tersebut tak pernah melirik Bukittinggi atau kota lain di Sumatera Barat untuk mengembangkan sayap bisnisnya?
“Yang datang untuk minta izin banyak. Lebih dari 50 titik sudah minta izin. Tapi memang tidak kami berikan izin,” tutur Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Bukittinggi Elvi Sahri Munir saat menerima rombongan Pemkab Temanggung yang dipimpin Sekretaris Daerah Bambang Arochman pekan lalu.
Pemkot Bukittinggi, lanjut Elvi, memang sengaja tidak menerbitkan izin untuk minimarket modern berjaringan. Keputusan ini diambil dengan menilik kebiasaan orang Minang yang suka berdagang. Pemkot berkewajiban melindungi para pedagang perseorangan dari jejaring bisnis perdagangan bermodal besar.
“Biar lapau-lapau (kios, red) di sini tetap eksis. Dari dulu orang Minang suka berdagang, susah jika mereka harus harus bersaing dengan pemodal besar. Maka kalau ada yang minta izin minimarket, kami bilang jangan dulu,” jelasnya.
Secara resmi memang tak ada peraturan daerah atau aturan lain yang melarang berdirinya minimarket modern berjaringan. Tapi pemkot berusaha tetap melindungi pedagang kecil dengan tidak menerbitkan izin untuk minimarket modern.
Elvi menjelaskan, secara umum di Bukittinggi terdapat 3 pasar induk yang menampung sekitar 18.000 pedagang. Pedagang di pasar induk dibagi sesuai dengan barang dagangannya. Pedagang aksesoris dan pakaian dipusatkan di Pasar Atas, lokasinya hanya selemparan batu dari Jam Gadang, ikon Bukittinggi yang jadi jujukan wisatawan. Sementara pedagang sembako dan sayur mayur ditempatkan di Pasar Bawah.
Masih ada satu lagi pasar induk yang menjadi pusat grosir dan perkulakan pakaian, yakni Pasar Simpang Aur. Pasar ini bisa disebutkan yang terbesar di Bukittinggi, menampung sekitar 10.000 pedagang pakaian. Pasar Simpang Aur jadi pusat para pedagang pakaian di sekitar Sumatera Barat untuk mencari barang dagangan. “Pasar Simpang Aur sering juga disebut sebagai Tanah Abang II, karena jadi grosir pakaian.”
Dari ketiga pasar tersebut, DPP pada 2014 lalu berhasil menyetor pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 5,9 miliar ke kas daerah. Total PAD Bukittinggi tahun lalu sebesar 72 miliar.
Di luar pedagang resmi yang terdaftar di DPP, diakui Elvi, pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi masalah. Kondisi ini lazim terjadi di kota-kota lain. Di Bukittinggi masih banyak PKL yang berjualan di luar tempat resmi. Sehingga DPP dan Satpol PP sering bersinergi untuk merazia PKL yang berjualan di tempat terlarang.
Sementara untuk pedagang resmi, secara rutin DPP juga menggelar operasi yustisi. Operasi ini untuk menjaga agar para pedagang selalu menjaga ketertiban seperti berjualan di batas yang telah ditentukan atau rutin membayar retribusi.
Bila ditemui ada pedagang yang meletakkan barang dagangan melebihi batas lapak di pasar, maka DPP langsung memberikan teguran. Pedagang diberi waktu 5 hari untuk membongkar sendiri bagian yang melebihi batas. Jika tetap tidak dihiraukan hingga 5 hari, maka DPP akan bertindak tegas dengan membongkar kelebihan tersebut. Jika pedagang berulangkali membandel, maka DPP tidak segan-segan menyita surat izin jualan pedagang tersebut.
Sekretaris Daerah Kabupaten Temanggung Bambang Arochman menjelaskan, rombongan Pemkab ke Bukittinggi untuk belajar bagaimana cara Pemkot setempat mengelola pasar dan PKL. Diharapkan dari kunjungan ini ada hal-hal yang bisa diterapkan di Temanggung. (ton/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.