Kritik Bos Sok Serius

431
PERUSAHAAN HARUS FUN : Vitayanti Wardoyo menunjukkan buku “Fun Leader Funtastic Result” yang berisi tentang upaya meningkatkan produktivitas di tempat kerja. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PERUSAHAAN HARUS FUN : Vitayanti Wardoyo menunjukkan buku “Fun Leader Funtastic Result” yang berisi tentang upaya meningkatkan produktivitas di tempat kerja. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PERUSAHAAN HARUS FUN : Vitayanti Wardoyo menunjukkan buku “Fun Leader Funtastic Result” yang berisi tentang upaya meningkatkan produktivitas di tempat kerja. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Fun ternyata mampu meningkatkan produktivitas bisnis. Buktinya, perusahaan yang masuk dalam daftar 100 Best Companies to Work For yang dirilis setiap tahun mengusung konsep fun di dalam suasana kerja. Sebut saja Google, Peoplesoft, SAP, American Express, UnilEver, hingga Volkwagen Group UK.

Begitulah opini Vitayanti Wardoyo, pengarang buku “Fun Leader Funtastic Result” untuk meningkatkan produktivitas karyawan dalam sebuah perusahaan. Menurutnya, perusahaan sukses tidak melulu harus serius. “Persoalannya, banyak yang tidak bisa membedakan antara fun dengan santai dan bermalas-malasan,” ungkap Vita dalam bedah buku ‘Fun Leader Funtastic Result’ di Terrace Bernic Castle Jalan Kyai Saleh, kemarin.

Alumnus Magister Strategic Management ITB ini menambahkan, atmosfer kerja dimulai dari sifat pemimpinnya. Banyak bos yang masih jadul dengan stlye sok serius. Biasanya, tipe seperti itu mengutamakan hasil ketimbang proses sehingga lupa membangun suasana kerja yang menyenangkan. Ironisnya, banyak bos yang tampaknya senang ketika anak buahnya merasa tertekan dengan target yang ditentukan.

Berdasarkan pengamatan Vita selama enam tahun, perusahaan sukses tidak selalu melakukan investasi modal. Namun justru yang menaruh perasaan kepada semua karyawan. Perusahaan yang menghargai kesenangan kerja akan lebih produktif dan memberikan profit signifikan.

“Generasi kerja sudah berubah. Sekarang ini era generasi Y dan Z. Sebentar lagi muncul Generasi A atau Alpha. Inilah generasi dengan pola kerja yang berbeda. Mereka lebih suka gaya santai. Tidak suka formalitas. Meski begitu, di balik santai mereka, produktivitas tetap tinggi dan hasilnya tetap bisa diandalkan kualitasnya. Mungkin karena mereka merasa bekerja dengan fun. Tanpa tekanan dan merasa dihargai. Uwong dulu baru uang. Kalau uang dulu, uwong akan pergi,” paparnya berfilusuf.

Pendapat itu disetujui pemilik PT Marimas Harjanto Halim. Seorang bos harus bisa meng-uwong-kan karyawan meski tanpa mengesampingkan ketegasan. Ketegasan dan keberanian untuk mengakui kesalahan ketika pemimpin melakukan kesalahan. Tidak jarang perusahaan yang memberlakukan peraturan bahwa ‘bos tidak pernah salah’.

“Jika ada karyawan yang benar-benar salah, menegurnya pun harus fun. Seperti roti lapis yang hanya terasa tajam di tengah. Awalnya, dipuji dulu. Ketika sudah tidak gugup, baru serang dengan wejangan-wejangan bahwa apa yang dilakukannya salah. Setelah nge drop, baru dipuji lagi agar mentalnya tidak kehilangan percaya diri. Dan cara ini terbukti efektif dibanding cara frontal yang langsung memarahi karyawan dengan memasang tampang sangar,” ungkapnya. (mg16/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.