Mantan KCP BSM Bobol Rp 50 M

596
PINJAMAN FIKTIF: Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol Djoko Poerbo Hadijoyo (kiri) menunjukkan alur pembobolan Bank Syariah Mandiri. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PINJAMAN FIKTIF: Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol Djoko Poerbo Hadijoyo (kiri) menunjukkan alur pembobolan Bank Syariah Mandiri. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PINJAMAN FIKTIF: Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng Kombes Pol Djoko Poerbo Hadijoyo (kiri) menunjukkan alur pembobolan Bank Syariah Mandiri. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BANYUMANIK – Mantan Kepala Cabang Pembantu (KCP) Bank Syariah Mandiri (BSM) Brebes ditetapkan sebagai tersangka kasus pembobolan bank. Ia diduga mengeruk uang bank dengan cara mengajukan pinjaman untuk program fiktif dan merekayasa pembiayaan sebanyak 260 debitur yang belakangan diketahui fiktif. Akibatnya, bank tersebut mengalami kerugian hingga Rp 50 miliar.

Penetapan tersangka itu dilakukan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Tersangka berinisial ABS, 43, mantan Kepala Cabang Pembantu PT Bank Syariah Mandiri (BSM) Brebes periode 2011-2012.

Selain itu, penyidik juga menetapkan tersangka lain, yakni YAN, 32, mantan pelaksana marketing support PT BSM. Keduanya saat ini telah dijebloskan ke sel tahanan Mapolda Jateng.

”Tersangka membuat pengajuan pinjaman melalui program koperasi yang tidak berbadan hukum alias fiktif,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng Kombes Pol Djoko Poerbo Hadijoyo di markas Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin.

Dugaan pembobolan bank tersebut dilakukan tersangka dalam kurun waktu awal Juni 2011 hingga September 2012. Tersangka ABS diduga mengajukan rekayasa pembiayaan dari 260 debitur. Usut punya usut, ratusan debitur tersebut ternyata tidak pernah mengajukan pembiayaan di PT BSM. ”Sedangkan peran tersangka YAN membantu tersangka ABS,” terang Djoko.

Di antara proposal program yang diajukan, tersangka menggunakan nama Koperasi Mandiri Manunggal Pekalongan (sudah bubar), Koperasi Mandiri Sejahtera Batang (fiktif), Koperasi Mandiri Mitra Pekalongan (fiktif) dan Koperasi Berlian Jasa Utama Tegal (fiktif).

Tak hanya itu, tersangka diduga juga melakukan mark up pencairan kredit perumahan rakyat (KPR) dan pembiayaan leasing yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). ”Total kerugian yang dialami PT BSM senilai Rp 50 miliar,” katanya.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Jateng sedikitnya telah memeriksa sebanyak 132 saksi sebelum akhirnya menetapkan ABS menjadi tersangka. Akibat dari kasus ini, ABS telah dipecat dari PT BSM.

”ABS merupakan otak dari kejahatan dalam kasus ini. Dia memiliki kewenangan dan bisa mengatur semuanya karena menjabat sebagai kepala cabang pembantu,” ujarnya.

Djoko mengaku masih terus mengembangkan kasus ini untuk menelusuri aset tersangka yang diduga telah terjadi pencucian uang.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jateng, Kombes Pol Aloysius Liliek Darmanto menambahkan, dua tersangka sudah ditahan di sel tahanan Mapolda Jateng. ”Kami telah menyita sejumlah barang bukti,” katanya.

Di antaranya, fotokopi akad pembiayaan al murabahah, fotokopi nota analisis pembiayaan sebanyak 260 nasabah, slip-slip setoran, dan slip penarikan, buku tabungan tersangka, print out mutasi rekening koran saksi dan tersangka, hingga SOP penyaluran kredit PT BSM.

Tersangka akan dijerat pasal 63 dan pasal 66 Undang–Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, dan denda maksimal Rp 200 miliar. Juga pasal 3 dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara, dan denda Rp 10 miliar. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.