SMA Negeri Bantah Tarik Pungli

314

SEKAYU – Sejumlah SMA negeri yang diduga menarik pungutan liar (pungli) dalam mutasi siswa SMA swasta ke SMA negeri di Kota Semarang langsung ramai-ramai melayangkan bantahan. Menurut pihak sekolah, mutasi siswa tersebut sudah sesuai peraturan wali kota (perwal), dan tidak ada aroma pungli.

Wakil Kepala Bidang Humas SMAN 3 Semarang, Rosikin, saat ditemui Radar Semarang, Rabu (11/2), mengakui sekolahnya menerima siswa pindahan dari sekolah swasta. Namun ia menjamin proses mutasi siswa tersebut tidak disertai pungutan liar.

”Ada pungli jelas tidak mungkin. Lha wong siswa yang pindah ke sini (SMAN 3 Semarang) kan orang tuanya guru di sekolah sini. Daripada sekolah di tempat lain, lebih baik dicerdaskan oleh orang tuanya sendiri di sekolah sini,” ujar Rosikin.
Selain itu, kata dia, proses mutasi siswa sekolah swasta ke SMAN 3 Semarang sudah sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Penerimaan Peserta Didik (PPD) 2014.

Diketahui, siswa yang berinisial KHY tersebut sebelumnya merupakan siswa SMA Kesatrian 2. Setelah 6 bulan belajar di sekolah yang beralamatkan di Jalan Gajah Raya itu, KHY lantas mengajukan mutasi ke SMAN 3 Semarang.

Rosikin menyebutkan, nilai minimal masuk pada PPD 2014 lalu untuk dalam rayon 37,00, untuk luar rayon 38,00, dan untuk luar kota 39,00.

”Pada PPD lalu, dia (KHY) mendaftar ke SMAN 3, namun tidak diterima, karena memang persaingan masuk sini sangat ketat. Makanya, dia dititipkan dulu di sekolah swasta (SMA Kesatrian 2) kemudian setelah satu semester dia pindah ke SMA ini,” jelasnya.

Dia mengatakan, perpindahan KHY ke SMAN 3 Semarang itu dikarenakan memang terdapat bangku kosong, sehingga memungkinkan untuknya pindah ke sekolah tersebut yang memang merupakan sekolah favorit di Kota Semarang.

”Jumlah siswa kelas X di SMAN 3 Semarang sebanyak 493 orang, itu sudah termasuk KHY. Adanya bangku kosong di sekolah kita karena kelas X harus langsung dilakukan penjurusan, makanya ada kelas-kelas yang belum penuh. Nah bangku kosong tersebut diisi siswa yang bersangkutan,” tuturnya.

Ditemui terpisah, Kepala SMAN 5 Semarang, Titi Priyatiningsih juga menegaskan kalau perpindahan siswa sekolah swasta ke sekolah yang dipimpinnya sudah sesuai dengan perwal. Di mana dalam perwal tentang PPD tersebut dikatakan perpindahan siswa dapat dilakukan dengan catatan sekolah tersebut memiliki akreditasi yang sama.

Titi mengatakan, perpindahan siswa yang memiliki inisial AED tersebut lantaran terdapat bangku kosong di sekolahnya. Bangku kosong tersebut dikarenakan terdapat siswa yang mengundurkan diri dikarenakan mengikuti tugas orang tuanya.

”Siswa kita yang mutasi dari sekolah swasta (SMA Institut Indonesia, Red) sudah sesuai dengan perwal. Persyaratan juga masuk. Sehingga dia bisa pindah ke sini. Kalau mutasi sudah tidak berbicara nilai, meski nilainya di bawah standar nilai masuk ke SMAN 5 saat PPD lalu, yang terpenting persyaratan masuk terpenuhi. SMA negeri secara umum pasif, kita tidak pernah meminta siswa sekolah swasta pindah ke sini,” ujar Titi. (ewb/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.