Valentine’s Day Bukan Hari Kasih Sayang

375

BULAN Februari telah tiba. Di bulan ini, sesekali pergilah ke mal atau supermarket besar yang ada di kota Anda. Lihatlah interior mal atau supermarket tersebut. Anda pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik —apakah itu berbentuk pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga—yang didominasi dua warna. Yakni pink dan biru muda. Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Valentine’s Day. Termasuk mungkin salah satu dari anak dan saudara kita. Naudhubillah.

Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari Valentine’s Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda. Kalaupun hari Valentine masih ramai hingga sekarang, bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang percetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, berawal dari pertukaran kartu selanjutnya di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, berkembang dan ditandai dengan sebuah kencan pada hari Valentine yang ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius meski bukan dalam hubungan halal. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat dating yang sering diakhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orang tua, ke guru, dan sebagainya, yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine’s Day sebuah budaya yang tidak Islami.

Nah, jika ada seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine yang di dalamnya mengandung kemaksiatan sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi min dzalik!
”Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” Demikian bunyi hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Semoga bulan ini menjadi pengingat kepada kita untuk senantiasa melindungi remaja muslim dan anak-anak dari budaya asing yang tidak mendatangkan keridaan Allah SWT. Aamiin. (*)

Dian
PNS beralamat Jalan Raya Torjun-Sampang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.