Wajib Minta Restu Orang Tua Saat Dukung PSIS Away

1031
RAYAKAN ULTAH: Sejumlah anggota Panser Girl didampingi Panser Biru merayakan ulang tahun ke 12 di Taman Pandanaran, Senin (10/2) malam. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
RAYAKAN ULTAH: Sejumlah anggota Panser Girl didampingi Panser Biru merayakan ulang tahun ke 12 di Taman Pandanaran, Senin (10/2) malam. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
RAYAKAN ULTAH: Sejumlah anggota Panser Girl didampingi Panser Biru merayakan ulang tahun ke 12 di Taman Pandanaran, Senin (10/2) malam. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

Kaum hawa yang menggemari sepak bola bahkan menjadi suporter sepak bola semakin banyak saja. Panser Girl adalah salah satunya. Kesan miring bahwa suporter identik dengan berbagai halk negatif ditepis oleh para suporter cewek penggemar PSIS ini.

Ajie M H

Panser Girl, adalah pendukung setia PSIS yang merupakan sayap organisasi suporter Panser Biru. Jauh dari kesan norak, penampilan mereka malah bisa dibilang sebagai pemanis tribun ketika kesebelasan jagoan mereka berlaga di lapangan hijau.

Meski terlihat feminim, mereka total dan all out dalam memberi dukungan di mana pun PSIS bertanding, tak peduli di kandang maupun tandang. Jika tidak bisa datang dalam formasi penuh, terutama saat menemani PSIS berlaga away, harap dimaklumi lantaran rata-rata penghuni Panser Girl masih duduk di bangku sekolah.

“Memang banyak yang masih sekolah di SMP-SMA. Itu yang menjadi kendala tidak bisa selalu datang di setiap laga PSIS. Kalau pas luar kota, paling hanya sekitar 20-an saja. Itu pun yang sudah kuliah atau kerja,” kata Wakil Ketua Panser Girl, Poppy Susanti ketika merayakan ultah ke 12 Panser Girl di Taman Pandanaran, Senin (10/2) malam kemarin.

Panser Girl, lanjutnya, merupakan wadah bagi siapa pun yang menggilai PSIS, syaratnya tentu saja adalah kaum wanita. Tidak ada kriteria apa pun. Umur, latar belakang, kalangan, semua boleh gabung di dalamnya.

Panser Girl aktif kini beranggotakan 50 orang. Diakui, karena kesan tidak baik suporter, maka orangtua seringkali khawatir. Tapi mereka mengaku tidak pernah kucing-kucingan dengan orang tua masing-masing ketika akan mendukung PSIS pada laga away dan harus bertandang ke luar kota. Mereka selalu meminta restu meski sudah pasti terdapat serentetan wejangan dari orang tua. “Maklum, kami kan cewek. Wajar jika orang tua khawatir. Apalagi sekarang kerap terjadi tawuran antar pendukung tim sepak bola. Tapi kalau berangkatnya ramai-ramai, biasanya dikasih izin. Soalnya kan banyak cowoknya juga dari Panser Biru, jadi kami aman,” ungkapnya.

Keselamatan, bagi mereka sudah jadi harga mati. Personel Panser Girl pantang urakan baik di lapangan maupun di jalan. Bahkan jika ada kerusuhan, mereka selalu diselamatkan oleh anggota Panser Biru pria. “Pernah kapan hari ada bentrok dengan suporter lain. Saya lupa dengan siapa. Begitu suasana ricuh, Panser Girl langsung menyelematkan diri dibantu Panser Biru. Sejengkel apa pun kami, tetap ogah meluapkan emosi lewat adu jotos. Panser Girl lahir bukan untuk itu,” timpal Sektretaris Nurul Layla.

Ditanya soal agenda kumpul rutin, Nurul tidak bisa memastikan. Pasalnya, Panser Girl belum punya markas resmi. Selama ini biasanya kumpul di Jalan Pahlawan. Itu pun tidak rutin. Bisa dua minggu, atau bahkan satu bulan sekali. Untuk menjaga silaturahim, mereka berkomunikasi lewat jejaring sosial. “Seringnya ngobrol lewat facebook atau berkicau di twitter,” pungkasnya. (*/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.