Andalkan Detak Jantung, Siap Dipatenkan

509
CANGGIH: R. Rizki Riharja, Filmada Ocky Saputra, Agus Hasanudin serta dosen pembimbing, Sari Ayu Wulandari. (kanan) Stroke watch karya mereka. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
CANGGIH: R. Rizki Riharja, Filmada Ocky Saputra, Agus Hasanudin serta dosen pembimbing, Sari Ayu Wulandari. (kanan) Stroke watch karya mereka. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
CANGGIH: R. Rizki Riharja, Filmada Ocky Saputra, Agus Hasanudin serta dosen pembimbing, Sari Ayu Wulandari. (kanan) Stroke watch karya mereka. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

Jika Anda orang yang sangat concern dengan kesehatan, penemuan dari mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini tentu sangat berguna bagi Anda. Namany Stroke Watch, jam tangan pendeteksi penyakit stroke. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

STROKE adalah penyakit yang datangnya tiba-tiba. Biasanya penderita penyakit ini baru mengetahui apa yang dideritanya saat anggota tubuh mereka telah mati rasa. Karena alasan itulah alat ini diciptakan. Adalah tiga mahasiswa dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang yang kali pertama memiliki ide tersebut. Mereka adalah R. Rizki Riharja, Filmada Ocky Saputra, dan Agus Hasanudin. Saat ini mereka tengah duduk di semester V Fakultas Teknik Udinus Semarang.

Kepada Radar Semarang, Rizki Riharja, menceritakan, kali pertama ide itu muncul pada pertengahan 2014 lalu. Waktu itu, ia merasa prihatin karena banyak orang yang meninggal disebabkan penyakit yang masuk dalam peringkat tertinggi di dunia ini. ”Karena kita adalah mahasiswa Fakultas Teknik (FT), kita ingin menciptakan alat untuk menanggulanginya,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu ada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dalam bidang teknologi (PKM-T). Maka dimulailah dengan membuat proposal, dan akhirnya mendapat dana bantuan untuk melaksanakan project tersebut.

”Kenapa kita memilih jam, karena alat itu selalu dipakai orang-orang, sehingga akan lebih efektif untuk melakukan pencegahan,” kata Rizki, yang mengaku dibantu dosen pembimbing, Sari Ayu Wulandari.

Rizki menjelaskan, cara kerja alat tersebut adalah dengan cara merekam detak jantung penggunanya. Bila terdeteksi detak jantung pengguna tidak normal atau di bawah ambang batas orang normal, maka alarm yang telah di-setting akan berbunyi. Jika yang terjadi demikian, maka yang bersangkutan harus segera memeriksakan diri ke dokter. ”Karena berbentuk jam tangan, alat ini dapat digunakan kapan saja,” terangnya.

Rizki mengakui, butuh waktu sekitar lima bulan untuk menyelesaikannya. Latar belakang pendidikan dari jurusan teknik mengharuskan ia beserta teman-temannya untuk belajar lebih tentang penyakit stroke. Mulai dari penyebabnya apa? Hingga indikasinya seperti apa?

”Selain itu, kami juga harus mencari informasi alat yang cocok sebagai pendeteksi penyakit tersebut,” katanya sembari menambahkan pembuatan alat tersebut menghabiskan dana hingga Rp 10 juta.

Meski telah dapat digunakan, Rizki mengaku jika alat tersebut masih butuh penyempurnaan. Sebab, diketahui masih ada kabel di luar yang menghubungkan dengan jari pengguna. Selain itu, tampilan alat juga masih kelihatan besar dan tinggi. ”Kita ingin semua itu diminimalkan. Sehingga dapat dimanfaatkan oleh publik setelah kami patenkan,” terangnya yang berencana menjual alat tersebut kurang dari seharga Rp 1 juta.

Salah satu kendala yang dihadapi selama ini adalah masih langkanya alat sensor yang digunakan. Untuk mendapatkannya harus melalui pemesanan dari distributor produk luar negeri. Padahal rencana selanjutnya adalah menambah sensor yang dapat mendeteksi berbagai penyakit lainnya. ”Itu adalah satu satu impian kami. Yakni, dapat bermanfaat bagi orang lain,” pungkas remaja yang sebelumnya juga pernah membuat robot warak ngendok ini. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.