Banjir di Semarang Semakin Parah

719
TENGGELAM: Mobil Toyota Fortuner warna putih terperosok di parit Jalan Madukoro, depan di kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng kemarin. (kanan) Banjir lumpur yang menutupi Jalan Ngaliyan-Mijen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG
M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG
TENGGELAM: Mobil Toyota Fortuner warna putih terperosok di parit Jalan Madukoro, depan di kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng kemarin. (kanan) Banjir lumpur yang menutupi Jalan Ngaliyan-Mijen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TENGGELAM: Mobil Toyota Fortuner warna putih terperosok di parit Jalan Madukoro, depan di kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng kemarin. (kanan) Banjir lumpur yang menutupi Jalan Ngaliyan-Mijen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

KOTA LAMA – Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, Kamis (12/2) sore hingga malam hari mengakibatkan sejumlah jalan dan perkampungan di Kota Semarang tergenang banjir. Bahkan, genangan air belum surut hingga Jumat (13/2) siang kemarin. Di antaranya, di kawasan Kota Lama, Gereja Blenduk, Bundaran Bubakan, Jalan Kaligawe, Jalan Mpu Tantular, Jalan Kebonharjo, Jalan Ronggowarsito, Jalan Citarum, dan kawasan Tlogosari.

Ketinggian air bervariasi antara 25-35 sentimeter. Genangan air terparah terjadi di bundaran Bubakan, Jalan Kaligawe dan Jalan Muktiharjo dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter. Selain itu, banjir juga masih merendam kawasan permukiman warga di Kelurahan Panggung Lor, Sawah Besar, Kaligawe, Muktiharjo Lor dan Muktiharjo Kidul. Ketinggian air rata-rata 20-60 sentimeter.

Di Jalan Cendrawasih, ketinggian air 20-30 sentimeter hingga banyak pengendara motor dan mobil memilih putar arah ketimbang mogok di jalan. Di Jalan Kuala Mas, Panggung Lor, kedalaman air selutut orang dewasa. Di wilayah ini, setidaknya 13 RW masih terendam banjir. Banjir datang mulai Kamis (12/2) pukul 17.30. Genangan air hampir merata di seluruh jalan dan permukiman warga dengan ketinggian 30-60 sentimeter.

Bagian pengawas lapangan Paguyuban Pengendali dan Penanggulangan Air Pasang Panggung Lor (P5L), Odit Maryudi, mengatakan, ada 9 rumah pompa di wilayahnya yang berisi 22 pompa untuk menyedot banjir yang menggenangi kawasan tersebut. Hanya saja, pompa tersebut dalam keadaan stand by di lapangan.

”Sehingga tidak mampu membuat genangan surut. Jadi, diperlukan penyedotan dari pompa Buludrain. Tapi, jika pompa Buludrain dinyalakan genangan airnya bisa segera surut. Memang banjir yang terjadi karena curah hujannya tinggi. Ditambah kondisi geografis Panggung Lor yang seperti mangkok. Di sisi timur berbatasan dengan Kali Asin. Sedangkan barat dengan sungai Banjir Kanal Barat. sehingga air sulit keluar,” jelasnya.

Banjir yang terjadi di wilayah Semarang Barat kemarin mengakibatkan kecelakaan tunggal. Sebuah mobil Toyota Fortuner warna putih terperosok di parit Jalan Madukoro, Semarang Barat, tepatnya di depan di kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng. Sang pengemudi, Eggy, diduga tidak mengetahui jika roda mobil mendekati parit. Sebab, kondisi jalan di jalur tersebut mirip sungai akibat terendam banjir.

Insiden tersebut terjadi Kamis (12/2) malam sekitar pukul 22.30. Malam itu, Eggy mengemudi dan ditemani tiga penumpang lain melintas di jalur tersebut. ”Kondisinya masih gerimis usai hujan deras. Di lokasi tersebut listrik padam,” kata Eggy. Dia mengaku sudah berhati-hati saat melintasi jalanan penuh air banjir. Namun demikian, roda mobil sisi kiri justru terperosok ke parit. ”Tahu-tahu mobil masuk. Tidak ada pembatas antara jalan dan parit,” katanya.

Celaka, mobil nahas tersebut langsung terperosok hingga sebagian badan mobil tenggelam. Tentu saja, membuat para penumpangnya panik. Mereka berusaha menyelamatkan diri dengan cara membuka jendela mobil. ”Pintu mobilnya sempat tidak bisa dibuka,” ujarnya.

Tak lama setelah kejadian, petugas Basarnas datang di lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi. Tidak ada korban jiwa. Namun mobil tersebut baru bisa diangkat setelah mendatangkan mobil derek Jumat (13/2) siang.

Tak hanya di wilayah Semarang Barat dan Utara, banjir kemarin, juga merendam perkampungan di wilayah Muktiharjo Kidul Pedurungan dan Muktiharjo Lor Genuk. Bahkan, bangunan SMP Walisongo di Dempelsari, Muktiharjo Kidul terendam hingga sedalam 60 sentimeter. Akibatnya, aktivitas belajar mengajar sekolah tersebut terpaksa diliburkan. Banjir di wilayah ini juga menyebabkan jalan setempat mengalami kerusakan.

Tokoh warga Muktiharjo Kidul, Ki Wipro Pradipto berharap jalan yang berlubang akibat banjir bisa segera diperbaiki oleh pemkot. Menurutnya, jalan berlubang dikhawatirkan mengancam keselamatan para pengguna jalan.

”Kami dan warga di kampung ini berharap agar kerusakan jalan segera mendapat perhatian dari Pemkot Semarang. Kalau bisa secepatnya diperbaiki setelah banjir surut,” pintanya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sawah Besar, Mulyadi, mengatakan, banjir juga melanda di permukiman warga di wilayahnya. Banjir terjadi akibat meluapnya sungai Banjir Kanal Timur yang tidak mampu menampung debit air hujan pada Kamis sore hingga malam hari. ”Warga Sawah Besar masih khawatir bila ada banjir susulan. Warga sangat kerepotan. Meski masih tergenang, namun belum ada warga yang mengungsi,” ujarnya.

Banjir kemarin juga melumpuhkan Stasiun Tawang dan sebagian kawasan Kota Lama. Kedalaman air rata-rata 30-50 sentimeter. Banjir di kawasan Tawang akibat pompa di Polder Tawang hingga kemarin siang tidak difungsikan lantaran rusak. ”Kamis malam pompa sempat berfungsi, tapi sejak pagi hingga sore tidak difungsikan lagi diduga karena mengalami korsleting,’’ kata warga di sekitar polder, Ari Susilo.

Hujan deras Kamis sore juga mengakibatkan longsor di wilayah Semarang atas. Batu bercampur air dan tanah yang longsor dari bukit menutup jalan raya Ngaliyan-Mijen, tepatnya tanjakan samping Rumah Sakit Permata Medika, Ngaliyan. Sebuah beghu kemarin diterjunkan untuk mengeruk lumpur yang menutup jalan tersebut.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Iwan Budi Setiawan mengatakan, banjir lumpur yang terjadi di Ngaliyan dikarenakan daerah atasnya ada kegiatan pengolahan tanah. Sehingga saat terjadi hujan, tanah tersebut mudah terbawa air hingga mengarah ke jalan.

”Kami mengimbau agar warga meningkatkan kewaspadaan khususnya yang berada di lokasi rawan bencana banjir maupun tanah longsor. Pemerintah juga sudah berusaha maksimal untuk meminimalisasi bencana. Masyarakat harus ikut berperan aktif untuk menjaga lingkungannya masing-masing,” pesannya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono mengakui banjir lumpur yang terjadi di Ngaliyan akibat adanya pengerukan bukit yang tidak bertanggung jawab. Sehingga mengkibatkan bukit tersebut longsor. (mha/amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.