Pentas Bukan Tujuan, Rutin Latihan dan Nariyahan

656
PENTAS TEATER : Anggota Teater Zenith STAIN Pekalongan sedang mengasah kemampuannya lewat pementasan teater. (Dokumen Teater Zenith For Radar Semarang)
PENTAS TEATER : Anggota Teater Zenith STAIN Pekalongan sedang mengasah kemampuannya lewat pementasan teater. (Dokumen Teater Zenith For Radar Semarang)
PENTAS TEATER : Anggota Teater Zenith STAIN Pekalongan sedang mengasah kemampuannya lewat pementasan teater. (Dokumen Teater Zenith For Radar Semarang)

Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Teater Zenith Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan, tak seperti umumnya mahasiswa. Mereka kerap menghabiskan malam bersama dengan meningkatkan kualitas berkeseniannya. Bahkan, hingga menjelajah ke lokalisasi. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL, Pekalongan

BEGITU memasuki markas Teater Zenith STAIN Pekalongan, langsung disambut lukisan angsa putih di dekat pintu di Graha Mahasiswa, Jalan Kusuma Bangsa, Kota Pekalongan. Warna biru muda terlihat mengisi lingkaran yang ditempati angsa dengan pose tampak kiri. Dinding ruang R 1.3 lantai dasar bangunan tingkat dua dengan bangunan berbentuk U tersebut, juga didominasi warna biru muda.

Seorang anggota Teater Zenith, Samsul Ma’arif mengungkapkan bahwa nama Zenith diambil dari bahasa Yunani yang berarti puncak. Bersimbol angsa yang selalu hidup berkelompok. Dan ketika terbang selalu membentuk manuver huruf V. “Angsa melambangkan nilai kekeluargaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika terbang selalu berbentuk huruf V, yakni selalu ada yang memimpin. Begitupun dalam berorganisasi,” tuturnya.

Kiasan sederhana itu dipadukan dengan warna biru muda yang menggambarkan langit sebagai lambang kreativitas tiada batas. Sebagaimana langit yang merupakan lapisan tersendiri dalam batas pandangan manusia ke atas bumi. Anggota Zenith menjadikannya sebagai wahana menggerayangi kemampuan diri.

“Kembalinya ke masing-masing anggota. Tapi untuk kelompok, langit merupakan sebuah motivasi pencapaian berkarya. Sudah sejauh mana prosesmu, puncak pencapaianmu seberapa, kemampuanmu sedalam apa,” papar mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI ini.

Bersatu untuk membentuk suatu lingkaran, berusaha untuk menuju satu lingkaran, bersatu dalam jiwa, jiwa Teater Zenith. Begitulah ungkapan yang mendasari kreativitas anggota teater yang berdiri tepat pada 10 November 1998. Meski baru berusia 16 tahun, Teater Zenith sudah 29 kali menggelar pementasan.

Dalam proses berteater, mereka latihan rutin tiga hari sekali setiap pekan hingga tengah malam. Terutama ketika sedang melakukan penggarapan pementasan. Meski begitu, mereka tidak menempatkan pementasan di panggung merupakan tujuan akhir. Mereka lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas diri sebagai makhluk sosial. “Memang butuh kerelaan bagi anggota Zenith. Meski ada yang rumahnya jauh dari Batang, tapi inilah proses bagaimana bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain,” kata Samsul.

Meski begitu, untuk merancang pementasan teater, mereka akan menentukan pimpinan produksi dan sutradara. Selanjutnya, naskah yang telah dipilih dibedah. Kemudian casting dilakukan baik tim artistik maupun manajemen pementasannya. “Latihannya setiap hari. Kalau ada penggarapan bisa sampai pukul 12.00 malam. Latihannya mulai latihan dasar, olah vokal, olah tubuh dan olah rasa,” paparnya.

Yuhan Anggara Resta, anggota Zenith menambahkan, observasi lapangan menjadi keharusan, untuk menyerap segala hal di lingkungan sekitar. “Bukan hanya aktor, melainkan semua tim artistik yang meliputi tim setting, lighting dan ilustrasi musik,” ungkap Yuhan, panggilan akrab mahasiswa semester lima itu.

Observasi tersebut dilakukan mulai dari pengamatan terhadap tokoh atau lokasi. Misalnya pengamatan di area lokalisasi, pasar, atau terminal. Untuk aktor mengamati tokoh yang hendak diperankan, mulai cara berjalan, cara bicara, tingkah laku, serta kebiasaan tokoh tersebut. “Observasi bertujuan mendalami karakter baik untuk aktor maupun ketajaman unsur panggung bagi tim setting, lighting maupun ilustrasi,” katanya.

Tentunya, pendalaman (observasi) didasarkan pada pemahaman awal sesuai pandangan umum, baik melalui data, maupun pemaparan sutradara. Hal itu dilakukan selama berbulan-bulan. “Dibarengi pula intensitas latihan dan penggodokan hingga pentas digelar,” sambungnya.

Proses penggarapan teater untuk pentas membutuhkan waktu empat sampai enam bulan. Kecuali pentas dadakan untuk mengisi acara tertentu, hanya seminggu sampai satu bulan. Kata Yuhan, lamanya proses pementasan merupakan latihan untuk mengontrol diri. Selain itu, melihat sisi kehidupan langsung dapat memunculkan sikap peduli terhadap sesama. “Kami bisa mengambil pelajaran khusus dari apa yang kami temui. Hanya orang-orang teater yang bisa mempelajari hal-hal di balik tokoh,” tegas Yuhan.

Sejumlah naskah yang pernah digarap Teater Zenith di antaranya Jagat Ngendat karya Arifin Brandan, Orang Kasar karya Anton Chekov, Aktor-Aktor Tersesat karya Irwan Jamal, Aljabar karya Zak Zorga, Malam Jahanam karya Motinggo Busye dan Elegi Musim Panas Chandra Pudapawan.

Ketua UKM Teater Zenith, Ahmad Syaiful Muluk mengatakan bahwa proses penggarapan diatur dalam program kerja (proker). Para anggota dengan bermacam karakter dan kesibukan, akan meluangkan waktu untuk mempererat hubungan. Selain latihan rutin juga dilakukan shalawatan Nariyahan, membaca Shalawat Nariyah dengan cara berkeliling di rumah setiap anggota. “Itu acara bulanan, penentuannya diundi. Anggota Zenith ada yang berasal dari Pekalongan, Batang, Kendal dan Pemalang,” terang mahasiswa angkatan 2008 tersebut.

Ada juga apresiasi puisi Sajak Negeri yang dihelat tiga bulan sekali. Dengan cara memilih satu tokoh untuk dikaji bersama kemudian diapresiasi dengan membacakan karya-karyanya. “Selain teater, kami juga mendalami seni tari, musikalisasi puisi dan perkusi. Tapi paling dominan hanya teater,” kata Syaiful. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.