Punya Hiolo Terbesar di Asia Tenggara, Berat 3,8 Ton

1213
ASLI TIONGKOK: Tempat dupa atau hiolo di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan yang diklaim sebagai hiolo terbesar di Asis Tenggara. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
ASLI TIONGKOK: Tempat dupa atau hiolo di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan yang diklaim sebagai hiolo terbesar di Asis Tenggara. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
ASLI TIONGKOK: Tempat dupa atau hiolo di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan yang diklaim sebagai hiolo terbesar di Asis Tenggara. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Kelenteng Hok An Kiong sangat terkenal di wilayah Muntilan dan sekitarnya. Kelenteng ini tercatat memiliki tempat dupa yang besar. Seperti apa?

Puput Puspitasari, Mungkid

Jumat, (13/2), sekitar pukul 08.00 pagi umat Tri Dharma menggelar prosesi pencucian Kiem Sim atau rupang para Sien Bing di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan. Hari sebelumnya, mereka melaksanakan sembahyang Toa Pek Kong naik atau Sang An/Sang Sien mengantar Dewa Dapur ke langit untuk melapor kepada Tuhan tentang catatan perilaku umatnya.

Tak hanya rupang, seluruh peralatan ibadah dan sudut kelenteng juga dibersihkan. Salah satunya hiolo atau tempat meletakkan hio yang dibakar umat saat sembahyang.

Yang menarik, ukuran hiolo ini sangat besar. Menurut pengurus TITD Hok An Kiong Muntilan Bidang Pemuda, Ong Ping An, hiolo tersebut merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. “Juga terbesar nomor dua di dunia,” tutur pemuda berusia 25 tahun ini.

Hiolo berbahan kuningan ini memiliki diameter 1,88 meter dan tinggi 1,58 meter. Beratnya mencapai 3,8 ton. Barang ini khusus didatangkan dari Tiongkok. “Hiolo ini merupakan sumbangan dari warga Solo sekitar tahun 2002,” jelas pemilik nama Vincent Eddy tersebut.

Kemarin, seluruh patung dewa dan dewi maupun benda-benda lain di 19 meja altar seperti patung Hauw Tjian Kun atau patung macan penjaga, diturunkan dan dibersihkan dari debu-debu yang menempel. Setelah selesai, barulah dicuci menggunakan air kembang mawar supaya bersih dan wangi. “Sebelumnya umat Tri Dharma berdoa dan memohon izin untuk melaksanakan pembersihan,” kata Ong Ping An, di sela-sela kesibukannya membersihkan patung.

Dia menuturkan, dalam pembersihan tidak boleh sembarangan. Harus hati-hati karena patung-patung itu sudah diberkahi dewa dewi. Patung-patung yang terbuat dari kayu hanya di bersihkan dengan kuas dan dilap dengan air. Patung kayu tidak dicuci dengan cara direndam air karena bisa rusak ketika terkena air berlebihan.

Dewa utama yang dipuja di Hok An Kiong adalah Hok Tek Tjing Sin atau dewa bumi. Patung dewa utama ini terbuat dari kayu. “Ini hanya dikuas karena terbuat dari kayu, dan salah satu dari beberapa patung Hok Tek Tjing Sin ada yang tertua,” jelasnya sambil menguas patung untuk membersihkan debu.

Dikatakan mahasiswa Universitas Gajah Mada Jogjakarta yang sedang menempuh pendidikan magister psikologi itu menjelaskan, bersih-bersih dilakukan untuk menyambut Imlek dan menyambut kembali Toa Pek Kong turun. “Tradisi ini sehari setelah kenaikan para dewa dewi naik,” jelasnya.

Dikatakannya, acara perayaan Imlek 2566 dengan tahun Kambing Kayu itu juga akan dimeriahkan dengan Pai Cia bersama pada 19 Februari mendatang di aula kelenteng. Setelah itu, tradisi mengunjungi rumah-rumah umat Tri Dharma. (*/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.