Abrasi di Sayung Semakin Parah

377
RUSAK PARAH : Pohon mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung tumbang setelah diterjang gelombang laut atau abrasi yang terjadi setiap hari. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
RUSAK PARAH : Pohon mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung tumbang setelah diterjang gelombang laut atau abrasi yang terjadi setiap hari. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
RUSAK PARAH : Pohon mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung tumbang setelah diterjang gelombang laut atau abrasi yang terjadi setiap hari. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Tingginya gelombang laut membuat mangrove di pantai Desa Bedono, Kecamatan Sayung rusak parah. Mangrove yang sedianya untuk menahan abrasi justru mati karena diterjang ombak. Padahal, tanaman mangrove tersebut sudah besar dan tinggi, namun masih bisa rusak terkena gelombang.

Camat Sayung, Indriyantoro Widodo mengatakan, beberapa pohon mangrove di dekat Makam Syeh Mudzakir ada yang roboh. “Ini karena kekuatan arus laut dan angin sangat kuat sehingga sulit diatasi,”katanya, kemarin.

Untuk mengatasi masalah tersebut masih diperlukan penambahan pemasangan alat penahan ombak (APO) di sekitar makam keramat tersebut. Ia menuturkan, abrasi maupun rob di wilayahnya diakui terus menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Sebab, dampak abrasi makin meluas. Meski demikian, berbagai upaya telah dilakukan. Selain terus menggalakkan penanaman mangrove, pemerintah juga telah memasang APO di Desa Bedono dan Desa Timbulsloko. Di Desa Bedono, APO yang dipasang beberapa tahun lalu sudah mulai bisa menahan lumpur sehingga bisa ditanami mangrove.

Sedangkan, APO di Desa Timbulsloko pada 2015 ini juga akan ditambah lagi. Menurutnya, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan survey di Desa Timbulsloko tersebut. APO tersebut diharapkan bisa menahan gelombang laut yang terjadi tiap saat. “APO dari hybrid dari bahan kayu bantuan LSM Belanda sudah ada yang rusak diterjang gelombang. Namun, sebagian lainnya sudah bisa menampung lumpur untuk bisa ditanami mangrove,” imbuhnya.

Sementara itu, sejak adanya jalan penghubung dari Desa Bedono menuju makam Syeh Mudzakir, para peziarah terus berdatangan ke makam tersebut. Mereka berziarah dengan menggunakan berbagai moda transportasi. Ada yang naik sepeda motor, ada pula yang pakai perahu. Yang mengendarai motor bisa melalui jalan setapak yang fondasi kanan kirinya mulai terkikis ombak. Sedangkan, yang naik perahu dapat dilakukan dari pantai Morosari. “Banyaknya peziarah ini turut menaikkan ekonomi warga sekitar. Mereka dapat penghasilan dari sewa parkir dan jualan makanan,”katanya. (hib/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.