Ada Anak TKI hingga Buruh Pabrik Garmen

498
BELAJAR SAMBIL BEREKREASI: Anak-anak warga pinggiran kota saat belajar bersama di Kota Lama kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BELAJAR SAMBIL BEREKREASI: Anak-anak warga pinggiran kota saat belajar bersama di Kota Lama kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BELAJAR SAMBIL BEREKREASI: Anak-anak warga pinggiran kota saat belajar bersama di Kota Lama kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

Hari Minggu biasanya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi berbeda dengan anak-anak pinggiran ini. Mereka justru belajar bersama di kawasan Kota Lama. Seperti apa?

M. HARIYANTO, Kota Lama

SEBANYAK 25 anak usia SD kemarin tampak bergerombol di taman Srigunting, Kawasan Kota Lama, Semarang. Mereka duduk dengan menggelar tikar bekas MMT. Ada pula yang duduk di bangku taman tak jauh dari Gereja Blenduk tersebut. Anak-anak ini rata-rata berasal dari Kaligawe, Semarang.

Di taman yang asri itu, mereka belajar bersama. Ada yang melukis bangunan tua. Ada juga yang berlatih seni lipat atau origami dan berlatih musik. ”Latar belakang anak-anak ini berbeda-beda. Ada yang dari keluarga tidak mampu dan keluarga yang broken home. Ada juga yang dititipkan sama saudaranya atau neneknya. Sebab, orang tua mereka menjadi pekerja rumah tangga, dan ada juga yang kerja di luar negeri (TKI),” kata guru pengasuh, Ditya Maulia kepada Radar Semarang, Minggu (15/2).

Diakuinya, anak-anak tersebut sengaja dititipkan kepada dirinya untuk belajar dengan alasan orang tua mereka tidak bisa memberi perhatian penuh. Sehingga dengan sukarela dirinya tetap menjaga amanat dari orang tua anak-anak tersebut.

”Pada awalnya hanya tiga anak saja. Tapi lama-kelamaan bertambah menjadi banyak. Saya juga senang, orang tua mereka memercayakan belajar kepada saya. Apalagi sekarang bertambah banyak, sekitar 25 anak,” terangnya.

Dikatakan, anak-anak tersebut selalu belajar di lingkungan umum setiap hari Minggu. Tempat belajarnya selalu berpindah-pindah. Namun yang paling sering ya di kawasan Kota Lama.

”Pernah juga di Museum Ranggawarsita, TBRS (Taman Budaya Raden Saleh), dan Gedung Wanita. Mereka dengan antusias dan belajar bersama saya. Untuk transport mereka ke sini ditanggung orang tua masing-masing. Saya hanya menyiapkan alat pembelajaran saja,” kata mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Untuk materi belajar yang diberikan kepada anak-anak, hanya pembelajaran menggambar. Selain itu, juga menyanyi dan menari juga kerap dilakukan. Menurutnya, materi pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak hanya untuk berkreasi.

”Kadang anak-anak juga berkumpul, sharing. Jadi mereka bisa menceritakan kegiatan apa saja saat di rumah atau di sekolah. Sehingga anak tersebut bisa berkreasi untuk menyalurkan aspirasi atau usulan di tengah sharing ini. Jadi kita juga mendidik untuk menyalurkan bakatnya supaya bisa lebih percaya diri,” terangnya.

Namun demikian, kata dia, anak-anak tersebut juga sering belajar bersama pada malam hari. Hanya saja tidak dilakukan setiap hari. ”Kalau setiap hari mungkin mereka juga punya rasa bosan. Bisa juga saling bertemu di tempat saya saling ngobrol-ngobrol sharing dan bermain. Memang saya juga punya prinsip tegas kepada anak-anak. Jika pada saatnya harus belajar serius harus sungguh-sungguh. Kalau anak-anak tersebut tidak serius, ya saya suruh pulang saja. Khawatirnya akan mengganggu teman lainnya,” tegasnya.

Hal sama juga diungkapkan guru belajar, Dewinta Hanum Sitoresmi. Ia mengakui, belajar sambil bermain di tempat umum bisa membuat anak-anak selalu ceria. Menurutnya, di wilayah Kaligawe sendiri masih minim adanya ruang terbuka hijau atau tempat bermain anak.

”Jadi, kami seringnya belajar di hari libur ini keluar dari daerah Kaligawe. Memang di sana kan tempatnya sebagian besar area pertambakan dan pabrik. Padahal anak-anak juga butuh tempat untuk bermain,” kata gadis berhijab yang sering dipanggil Hanum ini.

Ia menambahkan, belajar sambil bermain tidak hanya dilakukan di tengah suasana lingkungan objek wisata. Ia juga berkeinginan mencarikan suasana baru untuk belajar anak-anak tersebut, misalnya di tengah pertambakan. ”Saya juga ingin memiliki tempat belajar di area tambak. Dan, ternyata anak-anak sangat mendukung,” ujarnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.