Aksi Debt Collector Nakal Terbongkar

455

KARANGAYU – Inilah bisnis busuk di balik kelakuan debt collector (DC) nakal. Mereka merampas motor secara paksa dari pemilik motor kredit yang nunggak pembayaran. Namun motor hasil rampasan tersebut bukannya diserahkan kepada pihak finance, tapi malah dipedotkan untuk dijual sendiri. Kasus ini terbongkar setelah aparat Reskrim Polsek Semarang Barat membongkar sedikitnya 28 motor berbagai merek dari rumah milik AW, 26, warga Jalan Purwoyoso, Ngaliyan, Semarang. Diduga, motor berbagai jenis tersebut hasil rampasan paksa dari jaringan debt collector.

AW sendiri yang juga berprofesi sebagai debt collector berperan sebagai ”penadah” motor hasil rampasan dari para juru tagih lainnya. ”Ada sebanyak 28 motor kami sita dari rumah milik AW,” kata Kapolsek Semarang Barat, Kompol Padli di Mapolsek Semarang Barat, Minggu (15/2).

Dikatakannya, motor yang rata-rata masih relatif baru itu setelah diperiksa hanya memiliki STNK saja. Diduga motor tersebut hasil penarikan dari pemilik motor yang telat bayar kredit. Oleh si debt collector, motor tersebut justru digadaikan kepada AW dan disimpan di rumahnya. ”Modusnya hendak dipedotkan lalu dijual bodongan. Beberapa yang lain juga dimungkinkan hasil kejahatan,” jelasnya.

Lebih lanjut Padli mengatakan, motor-motor tersebut dititipkan oleh sejumlah debt collector kepada AW dengan sistem gadai. Pada sistem gadai tersebut, AW menentukan tenggat waktu 5 bulan dengan bunga 10 persen per bulan. ”Jika dalam kurun waktu 5 bulan jika tidak diambil, maka motor-motor tersebut dipedotkan oleh AW. Bunganya dibayar di muka,” bebernya.

AW sendiri sejauh ini belum ditetapkan sebagai tersangka. ”Dia sudah kami periksa. Statusnya masih saksi. Kami masih menunggu pengembangan penyelidikan, termasuk menunggu keterangan dari pihak finance,” katanya.

Untuk sementara ini, lanjutnya, penyitaan motor tersebut mengacu kepada Undang-Undang Fidusia Nomor 42 tahun 1999 tentang memindahtangankan barang jaminan.

Kanit Reskrim AKP Ikhwan menambahkan, mengenai nilai gadai setiap motor bermacam-macam, mulai Rp 1 juta hingga Rp 4 juta. ”Tergantung merek dan jenis motornya,” ujarnya.

Terbongkarnya praktik nakal oleh debt collector ini, kata Akhwan, berawal atas pengembangan dari keterangan salah satu tersangka yang ditanganinya. ”Kami mendapat informasi bahwa ada motor yang digadaikan di tempat tersebut. Setelah kami cek, ternyata ada 28 motor mencurigakan,” terangnya.

Sejauh ini, Akhwan mengaku masih terus mengembangkan penyelidikan terkait kasus ini. Sebab, diduga ini merupakan jaringan besar yang melibatkan para debt collector nakal. ”Dimungkinkan juga ada motor hasil pencurian,” katanya.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan motor dipersilakan mengecek di halaman Mapolsek Semarang Barat. ”Jika bisa menunjukkan surat-surat kelengkapan motor, baik BPKB maupun surat-surat bukti keterangan resmi dari finance, silakan bisa diambil tanpa dipungut biaya,” ujarnya. (amu/aro/ce1)‎

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.