Jemput Bola di Acara Keramaian, Pernah Disepelekan

533
TELATEN : Magelang Deaf Community dan Barisan Volunteer mengajarkan bahasa isyarat Indonesia di di Lapangan Rindam IV Diponegoro Magelang kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)
TELATEN : Magelang Deaf Community dan Barisan Volunteer mengajarkan bahasa isyarat Indonesia di di Lapangan Rindam IV Diponegoro Magelang kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)
TELATEN : Magelang Deaf Community dan Barisan Volunteer mengajarkan bahasa isyarat Indonesia di di Lapangan Rindam IV Diponegoro Magelang kemarin. (Puput puspitasari/radar kedu)

Magelang Deaf Community (MDC) dan Barisan Volunteer (Bravo) berusaha keras mengenalkan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di pusat keramaian. Ini dilakukan agar masyarakat memahami, sehingga terjalin komunikasi yang baik dengan mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran atau tuli. Seperti apa kisahnya?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Suasana begitu ramai di Lapangan Rindam IV Diponegoro Kota Magelang. Pohon-pohon gagah dan rerumputan terpantul sinar mentari menyisihkan sebuah harapan pagi itu akan cerah.

Ditemani langit biru dan mega putih, dedaunan hijau menghembuskan kesejukan nafasnya. Dinginnya udara tak menyurutkan semangat para anggota Magelang Deaf Community (MDC), sebuah komunitas tuli, mengajak masyarakat umum belajar bahasa isyarat mereka.

Dibantu volunteer atau penerjemah yang tergabung dalam komunitas Barisan Volunteer (Bravo), satu per satu mengajak masyarakat yang sedang berolahraga di lapangan itu untuk mampir di stan sederhana yang sudah disiapkan. Hanya beralas banner bergambar kegiatan MDC dan satu x-banner yang menampilkan alfabet bahasa isyarat Indonesia, mereka memulai aktivitasnya.

Memang beda dari biasanya mereka belajar di sekretariat MDC yang beralamat Jalan Serayu no 340 Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara setiap hari Minggu. Sudah 5 kali mereka mencoba di ruang terbuka di acara car free day. Menurutnya, mereka akan mudah merangkul orang banyak.

Nyatanya tidak. Justru awal-awal, jalan itu tak mulus. Kerap pejalan kaki yang melintas menolak ajakan itu. Rasa semangat yang membara, sempat padam begitu saja. Namun mereka tak hanya satu orang, kekompakan MDC maupun Bravo dengan anggota puluhan saling memotivasi dan enggan untuk menyerah.

“Kesannya disepelekan. Kok mereka nggak lihat kita (MDC dan Bravo, Red) ya? Rasa sakit memang ada, tapi kami buka stan 4 kali baru mau bergabung. Alhamdulillah sampai kami kewalahan, senang banget rasanya,” kata salah satu anggota Bravo, Susiana, kemarin.

Sebagai upaya mengenalkan Bisindo, pihaknya membawa ratusan fotokopian Bisindo yang dibagi-bagikan. Soal biaya, mereka semua patungan. Yang penting semua jalan dulu karena niatnya memang untuk berjuang.

“Setelah kami diterima, rasanya pengen hari Minggu terus, jadi kita bisa mengenalkan Bisindo terus,” aku perempuan 29 tahun itu.

Matanya mulai berkaca-kaca terharu akan keajaiban itu. Dia mengaku Bisindo perlu disebarluaskan agar membantu tuli dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. “Dengan kita (orang normal, Red) bisa, tentu mereka (penyandang tuli, Red) akan terbantu dan merasa tidak sendiri. Kita normal harus ada buat mereka saat dibutuhkan,” jelasnya.

Kata Susi, bantuan terbesar untuk penyandang tuli adalah yang normal mampu menguasai isyarat walau masih terbatas. “Kita mau belajar saja mereka (tuli, Red) sudah senang, apalagi kalau kita lancar,” tambahnya.

Sebagai seorang pendidik anak usia dini di salah satu PAUD di Pakis, ia terketuk hatinya untuk terus menyelami bahasa isyarat. Bukan saja panggilan hati, tapi dia merasa bahwa suatu saat isyarat itu dibutuhkan juga ketika bermasyarakat lebih luas.

“Saya merasa harus bisa bahasa isyarat, karena saya membayangkan saat bertemu dengan tuli yang minta bantuan, kalau saya sendiri nggak bisa membantu karena keterbatasan (tidak bisa isyarat, Red) lalu bagaimana dengan mereka?” tanyanya.

Kebulatan niat muncul hingga dia bisa lancar belajar Bisindo walau baru sekitar setahun. Mempercepat menghafal alfabet Bisindo, dia mencoba membuat buku saku yang ke mana-mana dibawa. Isinya, pengelompokkan nama benda, buah maupun percakapan sehari-hari yang sering digunakan.

“Saya hafalkan setiap hari sampai sekarang sudah hafal,” ungkapnya.
Kendati demikian, ada kendala yang ditemuinya di lapangan. Yakni bahasa isyarat yang digunakan penyandang tuli beda-beda. Perbedaan itu muncul dari latar belakang anak-anak tuli yang berlainan.

“Kalau yang sekolah di SLB bahasa isyaratnya hampir sama. Tapi kalau yang belum pernah sekolah atau tidak sekolah di SLB, mereka punya isyarat sendiri,” urainya yang kesulitan dalam menerjemahkan.

Namun dia mengaku ada yang kurang, Bravo hanya beranggotakan 10 orang. Tentu belum total dalam membantu MDC. Mereka sangat ingin anggotanya makin banyak.

“Salah satu tujuan kami membuka stan di sini (lapangan Rindam, Red) karena ingin mengajak masyarakat untuk bergabung menjadi volunter,” jelasnya.

Diapun membeberkan teknis mengajak masyarakat dalam belajar Bisindo. Pertama, memberikan fotokopi alfabet Bisindo dan menawari untuk bergabung. Jika mau, maka ada volunter dan MDC yang akan mendampingi dan mengajarkan isyarat menggunaan jari-jari. Jika ingin terus belajar, maka diajak untuk bergabung di Bravo.

“Fotokopinya juga bisa dibawa pulang, sehingga bisa dipelajari di rumah,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu volunteer yang masih berusia muda, Kurnelia Sukmawati siswi SMA Negeri 1 Ngluwar Kabupaten Magelang, mengaku sejak duduk di bangku SMP memulai mempelajari bahasa isyarat karena sepupunya berkuliah di Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Dengan pengalaman belajar yang pernah dia dapatkan, diterapkan saat membuka stan Bisindo di pusat keramaian. “Kalau kita bisa, kita termasuk melestarikan budaya dan bahasa mereka,” ujarnya menambahkan tujuan mendirikan stan supaya masyarakat mengerti jika di Magelang dan sekitarnya banyak anak tuli yang sedang berjuang mengajak orang normal bergabung.

Menurut gadis yang beberapa waktu lalu pernah berpartisipasi dalam acara berani gundul untuk memerangi kanker di Jogjakarta itu mengakui anak tuli memiliki kepekaan lebih tinggi ketimbang yang normal. Mereka lebih asyik bila diajak berteman. Katanya, anak tuli lebih perhatian.

“Sebenarnya mereka itu sama kayak kita. Bedanya cuma cara ngomongnya aja, karena mereka pakai isyarat,” tambah remaja 17 tahun itu.

Sementara itu, salah satu anggota MDC, Muhammad Rizki Saputra mengatakan kepada Radar Kedu memiliki harapan yang sangat besar. Dia menguraikan impiannya, orang normal dengan ringan hati mempelajari Bisindo agar semakin banyak penerjemah.
“Kami (tuli, Red) sangat ingin penerjemahnya semakin banyak. Bisa membantu kami saat kami merasa kesulitan,” tuturnya dalam bahasa isyarat.

Kesulitan disebutkan Rizki, saat mengurus surat-surat di instansi terkait maupun saat berobat ke rumah sakit. Dia kesulitan dalam menyampaikan kebutuhan maupun keluhannya. Secarik kertas pun dia tarik dalam saku untuk menuliskan keinginannya.Tentu hal itu membutuhkan waktu lama dan cukup merepotkannya.

“Kami sangat berharap di instansi penting dan rumah sakit paling tidak ada satu petugas yang bisa bahasa isyarat, sehingga jika ada orang seperti kami datang, petugas itu bisa membantu kita,” tandasnya.

Bukan itu saja harapan remaja 20 tahun warga Pandantari, Tempuran yang cukup fasih dalam bahasa oral itu. Ia mengeluhkan perhatian pemerintah yang sangat minim dalam memberikan ruang untuk beraktivitas atau sekadar menegok mereka. “Kami ingin pemerintah merangkul kami,” pintanya. (*/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.