Teater Lingkar Sindir Sekolah

369
MERIAH: Penutupan pentas bustaman diakhiri dengan pementasan teater lingkar dan warga kampung Busataman Semarang berjoget bareng di gang sempit, kemarin malam (14/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
MERIAH: Penutupan pentas bustaman diakhiri dengan pementasan teater lingkar dan warga kampung Busataman Semarang berjoget bareng di gang sempit, kemarin malam (14/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
MERIAH: Penutupan pentas bustaman diakhiri dengan pementasan teater lingkar dan warga kampung Busataman Semarang berjoget bareng di gang sempit, kemarin malam (14/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

PURWODINATAN – Melihat fenomena pendidikan yang mulai alih fungsi jadi ladang bisnis, Teater Lingkar tergelitik untuk mementaskan lakon Sekolah Unggulan di gelaran ”Bok Cinta” Tengok Bustaman II di Kampung Bustaman, Sabtu (14/2) malam. Cerita itu berkisah mengenai sebuah sekolah favorit yang mengklaim sebagai lembaga pendidikan dengan sistem pengajaran termutakhir.

Meski pentas tanpa panggung dan terkesan seadanya cerita yang ditulis budayawan Prie GS dibawakan Teater Lingkar dengan istimewa. Ada adegan yang menggambarkan pungli di sekolah dengan alasan untuk membangun fasilitas-fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar bertaraf internasional.

Untuk dapat lulus dari sekolah itu, para siswa harus mengikuti ujian. Tapi ujian itu agaknya hanya sebatas formalitas. Buktinya, meski skill yang dimiliki siswa jauh di bawah kata standar, tetap lulus lantaran bisa menyenangkan para guru. Sebaliknya ‎meski pintar tapi tidak bisa menyenangkan guru, siswa itu tidak akan lulus.

Kebobrokan itu disindir pada sebuah adegan yang menampilkan siswa dengan kemampuan menembang Jawa sangat bagus. Tapi karena para guru merasa murid tersebut sangat membosankan, akhirnya tidak diluluskan. Suasana makin dramatis ketika siswa Jawa tersebut menangis melihat orang tuanya yang sudah menjual semua sawah dan hewan ternak mereka agar anaknya bisa bersekolah.

”Banyak siswa yang sebenarnya pintar, tapi tidak diluluskan karena tidak disukai guru. Sebaliknya, yang tidak bisa apa-apa, tapi mampu mendekati guru secara emosional, justru bisa lulus tanpa melihat nilai ujian,” ungkap sutradara sekaligus pentolan Teater Lingkar, Mas Ton.

Selain warga Bustaman sendiri, sejumlah penikmat seni Semarang nampak di antara deretan hadirin. Di antaranya, budayawan Djawahir Muhammad, Ketua FK Metra Jateng St Sukirno, dan anggota DPD RI Bambang Sadono.

Menurut Bambang Sadono, sudah waktunya kesenian-kesenian Semarang diperhatikan pemerintah. ”Saya yakin orang Semarang itu punya jiwa seni yang tinggi. Banyak seniman besar yang sudah dianggap di mata internasional. Seperti Raden Saleh dan Ki Narto Sabdho. Sekarang sudah tidak ada lagi karena mungkin pemerintah tidak memberi kesempatan seniman Semarang untuk tampil,” ungkapnya. (amh/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.