Wisatawan Mancanegara Mendominasi

384
SEPI PENGUNJUNG: Dua orang wisatawan nusantara tampak melihat-lihat Candi Mendut di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
SEPI PENGUNJUNG: Dua orang wisatawan nusantara tampak melihat-lihat Candi Mendut di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
SEPI PENGUNJUNG: Dua orang wisatawan nusantara tampak melihat-lihat Candi Mendut di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Kunjungan wisatawan ke Candi Mendut menurun. Faktor cuaca yang tak menentu diduga menjadi penyebab para wisatawan enggan berkunjung ke bangunan cagar budaya tersebut.

Menurut Bendrat Agus Sulistyo yang bertugas sebagai koordinator pengamanan Candi Mendut, penurunan ini terasa usai perayaan tahun baru 2015. “Januari-Februari ini menurun drastis ketimbang tahun lalu. Kemungkinan karena hujannya nggak stabil,” katanya, Minggu (15/2).

Disebutkan warga Borobudur itu, dari tiket keluar, total pengunjung di Januari ada 4.095 orang dan Februari 1.282 orang. Baik dari wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Paling ramai saat momen tahun baru yang mencapai 633 pengunjung per hari. Pada hari kedua atau 2 Januari mulai ada penurunan sampai 50 persen.

“Anjloknya 6 Januari, hanya 71 pengunjung. Sampai saat ini pengunjungnya banyak yang rombongan,” sebutnya.

Pria 40 tahun itu berkata, wisatawan situs peninggalan agama Buddha itu memang didominasi wisman. Sekitar 80 persen wisman dari berbagai belahan dunia banyak yang datang untuk melakukan ritual maupun sekedar berwisata. Yang masih menjadi magnet adalah relief dewa kesuburan dan dewa kekayaan serta patung Buddha dalam keaadan duduk seperti sedang mengajar.

“Wisman cenderung benar-benar ingin tahu Candi Mendut. Mereka datang kes ini cukup sering, tapi kalau wisnus kadang berkunjung hanya sekali dua kali saja, habis itu sudah nggak datang lagi. Mungkin wisnus merasa sering lihat,” jelasnya.

Ia berharap, mendekati perayaan Imlek di tahun Kambing Kayu ini kunjungan membaik. Paling tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang per hari dikunjungi sekitar 300 wisatawan. “Biasanya mulai bulan Mei, Juni dan Juli, candi cukup ramai,” utasnya.

Selain soal kunjungan yang berkurang, dia prihatin dengan wisatawan lokal yang cenderung kurang menjaga kesopanan. Candi menjadi jujukan tempat pacaran, melakukan aksi vandalisme atau corat-coret, lalu kurang menjaga kebersihan. Kendati ada papan larangan memanjat, masih saja banyak yang nekat berfoto atau nyantai dengan memanjat bagian candi. Pihaknya harus ektra mengawasi dari pantauan CCTV dan menegur langsung wisatawan bersangkutan.

“Prihatin mereka (wisnus, red) kurang kepedulianmya. Kami tegur saja. Berbeda dengan wisman yang justru sangat menjaga kesopanan,” sesalnya.

Sementara itu, salah satu wisatawan asal Jogjakarta yang mengaku baru pertama mengunjungi Candi Mendut itu merasa senang karena candi terlihat masih kokoh dan masih cukup utuh. Selain itu dia mengaku pemandangannya indah dan masih asri. “Masih terawat kalau aku lihat. Mungkin lain kali ke sini lagi tapi nggak sama teman-teman, tapi sama keluarga saja biar lebih ramai dan ada momen bersama mereka di sini. Ya bisa foto barengan ibu bapak jadi bisa buat kenang-kenangan,” ungkap Winda Tri Tunggal, 20. (put/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.