Buat Galeri Benda Kuno, Ada Kitab Karya Abdul Qodir Jaelani

402
KUNJUNGI PERPUSTAKAAN: Seorang bapak dan 2 anaknya tampak asyik menyaksikan benda-benda yang dipamerkan dalam galeri benda kuno Perpusda Wonosobo. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
KUNJUNGI PERPUSTAKAAN: Seorang bapak dan 2 anaknya tampak asyik menyaksikan benda-benda yang dipamerkan dalam galeri benda kuno Perpusda Wonosobo. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
KUNJUNGI PERPUSTAKAAN: Seorang bapak dan 2 anaknya tampak asyik menyaksikan benda-benda yang dipamerkan dalam galeri benda kuno Perpusda Wonosobo. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Wonosobo, dikenal memiliki jumlah pengunjung yang tinggi. Per hari, rata-rata jumlah pengunjung mencapai 1000 orang. Namun, belakangan tingkat kunjungan meredup.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

PERPUSDA Wonosobo kerap menyabet penghargaan nasional. Selain pengelolaan yang baik, minat pembaca untuk berkunjung ke perpustakaan juga tinggi. Per hari, bisa berada di angka 1000 orang. Namun, belakangan ini, jumlah pengunjung terus merosot. Sehari, pengunjung cuma berada pada angka 400 orang.

Kondisi ini membuat pengelola perpustakaan melakukan berbagai program terobosan. Di antaranya, menggaet berbagai komunitas. Seperti komunitas muda, komunitas teater, dan komunitas baca. Juga menggelar berbagai even.

Tak hanya itu. Untuk menggaet pengunjung, lorong jalan yang menjadi batas antar-ruangan, kanan kirinya kini disulap menjadi galeri barang kuno. Isinya, antara lain, kitab dan tafsir kuno. Seperti Kitab Fiqih tulisan tangan yang berumur 100 tahun, Kitab Sarah Majul Tholib tulisan tangan yang dibuat pada 1875 M, dan Kitab Ngakoid (Akidah) tulisan tangan yang berumur 100 tahun.

Juga Kitab Fatawi al Kubro yang dibuat pada 1891 Masehi, Alkitab Perjanjian Lama tulisan dan bahasa menggunakan aksara Jawa yang ditulis pada 1927 Masehi. “Kitab-kitab ini berasal dari warga dan komunitas yang mengoleksi,” kata Kepala Perpusda, Suharna.

Dalam pemeran itu, juga ada Kitab Ihya’ulumudin karya Abdul Qodir Jaelani yang dibuat pada 1894 Masehi, tulisan atau cetakan timbul. Juga Kitab Jamilus Shohir yang dibuat pada 1887 Masehi. Selanjutnya, Kitab Ngashrol Ma’mun yang pada 1927 M. Kitab Al-Mangani yang dibuat pada 1890 Masehi, Tafsir Fakhrurrozi Jus 7 yang dibuat pada 1890 Masehi, dan Kitab Fatchul Bahri yang dibuat pada 1907 Masehi.

Koleksi lain yang dipamerkan adalah kitab kuno yang ditulis tangan pada 1853. Yakni, Kitab Fiqih yang membahas seputar najis, zakat, dan dagang.

“Kami berharap dengan hadirnya koleksi ini, akan mampu menarik minat warga untuk berkunjung ke Perpusda,” katanya.

Selain kitab kuning, beberapa kitab kuno juga terpajang dalam galeri. Juga buku dan novel bahasa asing keluaran 1966 hingga 1979. Serta, Alquran dalam beberapa bahasa. Yaitu, bahasa Arab dan Rusia, bahasa Arab dan Korea, dan Arab dan Somalia. Ada juga Alquran berbahasa Arab dan China, Arab dan Yugoslavia (Sarajevo), Arab dan Portugis, Arab dan Spanyol, serta Arab dan Inggris. “Kami juga pamerkan foto-foto Wonosobo kuno yang kami dapatkan dari dokumen Belanda,” katanya.

Selain galeri benda kuno itu, Suharno juga mengklaim, pihaknya melakukan berbagai inovasi layanan. Termasuk, membangun gedung perpustakaan daerah yang lebih representatif. Toh hal itu belum bisa mengembalikan jumlah kunjungan ke Perpusda seperti semula.

“Perpusda akhirnya menyiapkan satu layanan khusus yang belum ada di Perpusda lain di Jawa Tengah. Yaitu berupa galeri yang khusus menampilkan benda-benda kuno serta foto-foto sejarah yang menceritakan seputar Wonosobo tempo dulu,” katanya.

Suharna menambahkan, koleksi tersebut berasal dari sumbangan masyarakat. Termasuk, dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo.

Apakah dengan penambahan galeri jumlah pengunjung meningkat? Suharna mengaku, dalam tiga bulan sejak galeri ada, jumlah pengunjung meningkat. Sedikitnya, per hari, 700 warga mendatang perpustakaan.

“Inovasi layanan tidak berhenti di pembuatan galeri saja. Tahun ini, kami akan membangun taman belajar berupa panggung terbuka di halaman selatan Perpusda,” ujarnya.

Panggung dengan ukuran 7 x 10 meter ini, rencananya akan digunakan sebagai wadah unjuk kreativitas warga. Termasuk, para pelajar sehingga diharapkan bisa kembali menjadikan Perpusda sebagai tempat favorit masyarakat untuk menggali ilmu pengetahuan.
Upaya lain, mengembangkan gazebo yang saat ini sudah ada di halaman Perpusda, dengan beberapa fasilitas tambahan. Seperti karpet dan kerai. Sehingga gazebo berukuran 6 x 9 meter tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat diskusi dan ruang baca luar.

“Kami berharap, perpustakaan tidak sekedar ruang baca. Namun apresiasi seni, wisata sejarah karena menyimpan barang-barang kuno,” jelasnya. (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.