Lewat Lagu Cinta, Ramaikan Belantika Musik Nasional

436
TETAP CINTA MUSIK : Para personel grup band The Bayoe Pekalongan yang dua personelnya perwira Polres Pekalongan. (THE BAYOE FOR RADAR SEMARANG)
TETAP CINTA MUSIK : Para personel grup band The Bayoe Pekalongan yang dua personelnya perwira Polres Pekalongan. (THE BAYOE FOR RADAR SEMARANG)
TETAP CINTA MUSIK : Para personel grup band The Bayoe Pekalongan yang dua personelnya perwira Polres Pekalongan. (THE BAYOE FOR RADAR SEMARANG)

Di tengah tugas sebagai anggota polisi, dua perwira Polres Pekalongan ini tak lantas mati rasa. Masih tetap meluangkan waktu untuk menyalurkan bakat seninya di bidang musik. Alur positif itu telah menetaskan sebuah grup band yang diberi nama The Bayoe yang siap meramaikan percaturan musik nasional.

FAIZ URHANUL HILAL, Pekalongan

MENJADI anggota kepolisian tak mengurungkan niat Brigadir Irianto Aji dan Brigadir Junanto mendirikan sebuah grup band. Kegilaannya dalam bermusik sejak remaja membuat keduanya tetap berkarya di tengah kesibukannya bertugas di satuan masing-masing.

“Saya di Satlantas, Jun (panggilan akrab Brigadir Junanto, red) di Reskrim,” kata Aji panggilan akrab Brigadir Irawan Aji kepada Radar Semarang.

Meski berpredikat sebagai anggota Polri, duo Brigadir itu sukses merangkul tiga personel lain yang notabene non Polri. Aliran pop alternative pun mengiringi karir mereka hingga mempunyai label rekaman sendiri di Jakarta. Kolaborasi apik Polri dan masyarakat umum itu, berdiri sejak 2009 dengan komposisi, Aji pada gitar, Jun pada drum, Vio pada vokal, Jenky (gitar) kemudian Alan (bass). “Kami launching album perdana, Menapak Bumi pada 2012. Kebetulan ada teman yang punya label di Jakarta,” kata Aji.

Dikisahkan, memiliki grup band merupakan impian Aji dan Jun pada masa remaja yang gemar mengikuti berbagai festival musik di berbagai daerah. Keahlian memetik gitar yang dimiliki Aji, akhirnya beradu dengan kemahiran Jun sebagai tukang gebuk drum yang merupakan satu angkatan di kepolisian.

“Saya sama Jun satu angkatan. Awalnya kami runtang-runtung bareng. Akhirnya kami sepakat untuk membikin grup band,” ungkap pria kelahiran Pekalongan 09 Mei 1983 itu.

Meski hanya di sela waktu bebas tugas, latihan musik dan membikin lagu bukan menjadi persoalan berarti. Menurut Aji, semua itu karena kematangan bermusik yang dimiliki masing-masing personel. Bahkan salah satu lagu di album Menapak Bumi yang berjudul Yang Terindah merupakan kisah perjalanan Aji semasa SMA.

“Karena kami sudah tahu posisi masing-masing, jadi jam latihan tidak masalah. Iya, lagu itu (Yang Terindah, red) kenangan saya semasa SMA,” kata Aji sembali tertawa.

Bertema lagu-lagi cinta yang akrab di masyarakat terutama pemuda, album perdana The Bayoe telah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Namun sebagai musisi yang terikat di Korps Polri, tentu tidak bisa seenaknya meninggalkan tugas demi konser atau panggilan manggung. “Kami sesuaikan dengan tugas. Kalau kami tidak bisa, ya kami tolak,” imbuhnya.

Jun menambahkan, nama The Bayoe juga menyimpan energi yang dalam sebagai anggota Polri di tengah masyarakat. Berarti angin, The Bayoe yang digagahi dua anggota Polri ingin lebih mendekatkan diri kepada masyarakat melalui lantunan indahnya musik yang dimainkan.

“Kami ingin lebih dekat, berkomunikasi dengan masyarakat lewat lagu. Dengan begitu, jika citra Polri menjadi miring di masyarakat, dengan cara inilah kami membangun sinergi dengan masyarakat,” kata dia.

Maka dari itulah, album perdana adalah Menapak Bumi, yang berarti tidak melupakan di mana tempat berpijak. Sebanyak delapan lagu merupakan spirit merumput di tengah berbagai kalangan dengan tema cinta.

Ke depan, lanjut Jun, The Bayoe juga ingin dikenal sebagai grup band dari Pekalongan di belantika musik nasional. “Itu angan-angan Aji sama saya sejak awal. Agar dari Pekalongan ini ada grup musik yang dikenal skala nasional,” harapnya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.