Santri Jadi Bugar, Tidak Mengantuk saat Belajar

1281
BELAJAR BELADIRI: Dua santri Pondok Pesantren Al Irsyad Tengaran saat berlatih wushu kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BELAJAR BELADIRI: Dua santri Pondok Pesantren Al Irsyad Tengaran saat berlatih wushu kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BELAJAR BELADIRI: Dua santri Pondok Pesantren Al Irsyad Tengaran saat berlatih wushu kemarin. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

Pondok pesantren selalu identik dengan mengaji dan belajar agama. Tapi beda dengan di Pondok Pesantren Al Irsyad, Tengaran, Kabupaten Semarang ini. Sebab, di sini para santri juga diajari beladiri wushu. Seperti apa?

MUNIR ABDILLAH, Tengaran

SIANG kemarin, di lapangan Pondok Pesantren Al Irsyad beberapa santri tampak asyik berlatih beladiri. Tendangan, pukulan, dan teriakan tergabung menjadi satu dalam satu irama beladiri wushu. Dengan sesekali berteriak menggunakan bahasa Arab, lima santri menikmati setiap gerakan yang diayunkannya.

Memang kemarin para santri tidak sedang latihan rutin. Latihan wushu wajib bagi santri biasa dilakukan pada Selasa dan Rabu. Saat waktunya berlatih, ratusan santri beradu hebat dalam mempraktikkan jurus-jurus wushu di bawah bimbingan sang guru.

Kegiatan ekskul wushu sudah dimulai sejak 2 tahun lalu. Efeknya, kebugaran para santri meningkat. Biasanya di kelas ada yang ketiduran, kini ”penyakit” yang selalu menghinggapi para santri itu mulai hilang.

Joni Aryanto, 24, penanggung jawab ekstrakurikuler pesantren mengatakan, kegiatan wushu santri dimulai sejak 2013. Para santri dilatih oleh atlet wushu profesional, yakni Ali Barkah, 47, asal Semarang.

Kenapa dipilih wushu? Menurut Joni, wushu dipilih lantaran dapat memengaruhi kepribadian santri menjadi lebih lembut. Selain itu, jelas Joni, pendidikan jasmani sangat penting bagi santri, Karena hal tersebut selaras dengan ajaran nabi. Yakni, bekali anak-anakmu dengan pelajaran berenang, memanah, dan naik kuda. Artinya, olahlah tubuhmu dengan hal-hal yang membuat manusia menjadi tangkas dan fokus.

”Filosofi memanah membuat manusia bisa fokus terhadap hal-hal yang ingin dicapai. Tapi memang fasilitas memanah dan berkuda tidak ada, maka diganti dengan beladiri. Setidaknya porsi tersebut hampir sama. Untuk berenang kami sudah mempunyai fasilitasnya di dalam pondok,” katanya.

Ponpes mengharapkan santrinya mempunyai fisik yang prima. Karena nantinya mereka akan berkarya di masyarakat. Menjaga kesehatan adalah kewajiban. Karena itu sama dengan konsep ushul fiqh, hifdzun nafs (menjaga diri).

Untuk kendala dalam kegiatan wushu ini, kata Joni, karena aktivitas ponpes padat, tak heran jika ada beberapa santri yang terkadang bosan. Sehingga tidak berangkat latihan. ”Kalau ada santri yang membolos latihan akan kami sanksi,” tegasnya.

Irfiyansyah, 14, santri asal Mojokerto yang pernah meraih juara III dalam kejuaraan wushu se-Jateng dan DIJ mengatakan, wushu adalah olahraga sekaligus beladiri yang sangat digemarinya. Sebab, wushu membuatnya lebih sehat dan bergairah dalam belajar. Meskipun jadwal berlatih wajib hanya seminggu dua kali, namun Irfiyansyah setiap hari menyempatkan diri untuk berlatih. Biasanya dilakukan saat waktu jeda kegiatan ponpes.

”Saya suka dengan wushu sejak kecil. Semua kekesalan dan emosional yang ada dalam diri, seakan hilang seiring dengan gerakan demi gerakan jurus wushu. Lewat wushu saya bisa refreshing dari kepenatan belajar. Jika santri setiap Jumat pergi ke luar pesantren, karena hari liburnya Jumat, maka saya lebih enjoy dengan berlatih wushu,” katanya.

Teman berlatih Irfiyansyah, yakni Jawazi, 14, santri asal Bandung mengungkapkan, wushu memberinya semangat baru. Meskipun saat berlatih kadang dirinya pernah keseleo maupun hamstring. Tapi tidak membuat dirinya kapok. Bahkan tambah giat. Meskipun dirinya tidak punya cita-cita menjadi atlet wushu profesional, tapi sekadar hobi.

”Saya masih tetap pada niat saya ke pondok pesantren untuk belajar agama. Dan itu saya tanamkan sebagai tujuan. Meskipun tidak bisa dikesampingkan, wushu adalah ilmu lain yang akan mewarnai saya di pesantren. Ke depan saya yakin nantinya akan muncul atlet-atlet nasional wushu dari pesantren,” ujarnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.