Sidang Ganti Rugi Tol Dilanjutkan

406

SALATIGA-Gugatan 23 pemilik sertifikat lahan yang terkena proyek Tol Semarang-Solo mendapatkan angin segar. Pengadilan Negeri (PN) Salatiga menolak eksepsi (keberatan) kuasa hukum tim pembebasan lahan tol, Senin pagi (16/2) kemarin. Hari ini, Selasa (17/2), sidang dilanjutkan dengan agenda saksi dan pembuktian.

Kuasa hukum penggugat, Yakub Adi Krisanto SH menuturkan bahwa putusan sela ini menyegarkan pihaknya. Dan yakin keadilan masih ada, sampai dengan putusan final nantinya. “Setelah eksekpi pembela tim pembebasan lahan ditolak, sidang akan dilanjutkan langsung besok (hari ini, red),” jelas Yakub saat ditemui usai persidangan.

Dalam sidang sebelumnya, kuasa hukum tergugat yang diwakili oleh Wiryawan SH, Galang Yustian Permana SH, Alfred MS Rahantoknam SH dan Priyo Pujono menandaskan jika gugatan yang diajukan kabur. PN Salatiga dinilai tidak berwenang memeriksa dan mengadili permasalahan yang diajukan para pemilik lahan tersebut.

Kuasa hukum juga kaget saat para pemilik lahan yang menyebutkan jika musyawarah dengan tim pengadaan tanah yang dilakukan sebanyak tiga kali, namun oleh para pemilik lahan disebutkan hanya sosialisasi bukan musyawarah. Termasuk juga adanya data bahwa lahan di sekitar lokasi dijual dengan harga Rp 600 ribu per meter tidak disertai bukti akta jual beli. Mereka menolak semua dalil yang diajukan oleh penggugat.

Diberitakan sebelumnya, 23 pemilik sertifikat lahan yang terkena proyek tol menggugat panitia pengadaan tanah tol terkait minimnya ganti rugi yang diberikan yakni sebesar Rp 340 ribu per meter persegi. Ke-23 pemilik lahan itu meminta ganti rugi sebesar Rp 1,5 juta per meter persegi.

Sebanyak 23 pemilik sertifikat diwakili empat orang yakni Atnaji Purwanto, Atik Mahmudah, Asiana, Ningsih Lestari yang semuanya beralamat di Kauman Kidul, Sidorejo. Penetapan besaran ganti rugi tertuang dalam SK Sekretaris Daerah Nomor 590/88/2014 tertanggal 13 Desember 2014 mengenai bentuk dan besaran ganti rugi parsial tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda lain yang berkaitan dengan tanah yang terkena pembangunan Jalan Tol Trans Jawa.

“Kami menggugat ke PN Salatiga untuk meminta keadilan terkait ganti rugi. Kami meminta diberikan ganti sesuai dengan nilai riil yakni Rp 1,5 juta per meter persegi,” terang Yakub Adi Krisanto SH, kuasa hukum para pemilik lahan tersebut saat bertemu dengan Radar Semarang, kemarin siang.

Gugatan telah dilayangkan ke PN 2 Februari lalu. Yakub menandaskan jika dalam regulasi, ada yang menyebutkan jika pemberian nilai harus disesuaikan dengan nilai riil yang ada di lingkungan tersebut. “Tetapi ini sangat jauh,” imbuh Yakub. (sas/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.