Warga Bantaran Harus Direlokasi

484
FUNGSI SALURAN: Kondisi permukiman di atas bantaran sungai Seroja, Kelurahan Karangkidul. (Eko Budi/Radar Semarang)
FUNGSI SALURAN: Kondisi permukiman di atas bantaran sungai Seroja, Kelurahan Karangkidul. (Eko Budi/Radar Semarang)
FUNGSI SALURAN: Kondisi permukiman di atas bantaran sungai Seroja, Kelurahan Karangkidul. (Eko Budi/Radar Semarang)

KARANG KIDUL – Masih banyak bantaran sungai dan saluran di Kota Semarang yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal. Selain menyalahi aturan, dikhawatirkan keberadaan permukiman di bantaran memicu pencemaran sungai. Para penghuni dapat sewaktu-waktu membuang sampah di sungai.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Rohaini berharap Pemkot Semarang bisa mencarikan solusi untuk merelokasi warga yang menempati bantaran sungai. Jika dibiarkan, keberadaan permukiman di bantaran akan mengganggu optimalisasi fungsi saluran. ”Masih adanya beberapa wilayah bantaran sungai yang dihuni oleh warga dan itu jelas melanggar peraturan, maka dari itu harus dicarikan solusi,” tegasnya.

Diakui Rohaini, keberadaan warga yang menempati bantaran sungai tidak bisa digusur begitu saja. Pemkot harus menyediakan tempat yang layak bagi mereka, seperti merelokasi di rusunawa. ”Dengan memindahkan ke rumah susun, estetika Kota Semarang diyakini akan makin indah dan kemungkinan banjir tidak akan terjadi,” ujarnya. Pihaknya juga mendorong pada pemkot supaya menambah rumah susun di Semarang, pasalnya jumlahnya saat ini dinilai masih minim.

Diketahui, pemandangan permukiman di atas saluran terlihat di sepanjang sungai Seroja di RW 01 Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah. Sebanyak 62 kepala keluarga (KK) menempati lahan di bantaran sungai tersebut dan tempat tinggal mereka sudah dibuat semipermanen. ”Kami mulai tinggal di sini sejak tahun 1980–an. Sebagian ada warga asli sini, ada juga pendatangnya. Pekerjaaanya ya macem-macem, ada yang PKL, banyak juga yang buruh,” kata Wahyono, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Ketua RW 01, Adam mengatakan dulunya bantaran sungai Seroja merupakan lahan milik Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang ditumbuhi pohon dan berbagai macam tanaman lainnya. Namun seiring berjalannnya waktu banyak pohon yang ditebangi lalu mereka mendirikan bangunan untuk tempat tinggal. ”Rata-rata bangunannya semipermanen. Untuk masalah kebersihan, saya imbau terus ke mereka untuk bersih-bersih saluran,” kata Adam.

Lurah Karangkidul, Reson mengatakan, selama ini pihaknya baru sebatas imbauan kepada meraka untuk menjaga kebersihan saluran dan sungai. Jangan sampai saluran penuh sampah karena bisa menyumbat aliran air. ”Soal itu (bangunan di bantaran sungai) kami rangkul tokoh-tokoh masyarakat. Kami ajak ngobrol bareng. Ya baru ngomong-ngomong soal kebersihan aja dulu,” kata Reson.

Selain untuk tempat tinggal, warga juga memanfaatkan bantaran sungai tersebut untuk membuat kandang hewan ternak mereka. Sehingga dikhawatirkan akan mencemari air dan udara di lingkungan sekitar. Permukiman di bantaran juga terlihat di kawasan Banjir Kanal Timur, kawasan sungai Berok, dan lain sebagainya. (ewb/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.