Korban Pencabulan Masih Trauma

444
MELAPOR: HKS dan SW melapor ke Unit PPA Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, beberapa waktu lalu. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MELAPOR: HKS dan SW melapor ke Unit PPA Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, beberapa waktu lalu. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MELAPOR: HKS dan SW melapor ke Unit PPA Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, beberapa waktu lalu. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Polres Kendal masih mendalami dugaan kekerasan seksual yang diduga menimpa bocah lima tahun DA, warga Kaliwungu, Kendal. Penyidik mulai melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan berbagai alat bukti. Kapolres Kendal AKBP Harryo Sugihhartono melalui Kasatreskrim Iptu Fiernando Andriansyah mengatakan, beberapa saksi yang diperiksa adalah pelapor yakni korban DA dan kedua orang tuanya SW dan HKS warga Kaliwungu. “Karena korban masih dibawah umur, maka kami minta keterangan secukupnya,” katanya, Selasa (17/2).

Selain itu periksa penyidik juga telah memeriksa, terlapor yakni BK yang tidak lain adalah paman dari DA. “Tapi kami masih perlu mengumpulkan keterangan saksi lainnya, mengingat korban masih anak-anak,” imbuhnya.

Selain meminta keterangan dari sejumlah saksi dan korban, pihaknya juga telah memeriksa fisik dan psikis korban. “Fisik kami periksa dengan visum untuk mengetahui apakah ada kerusakan selaput dara pada alat vital korban,” tambahnya.

Sedangkan pemeriksaan psikis yakni untuk mengetahui guncangan jiwa yang dialami korban atas peristiwa tersebut. Mengingat korban masih kecil, sehingga jangan sampai memengaruhi prilaku seksual korban. Jika terbukti melakukan kekerasan seksual, maka terlapor BK, maka bisa dijerat Pasal 82 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Yakni setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan kekerasan seksual, baik dengan ancaman atau bujuk rayu yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik fisik, mental maupun sosial di pidana dengan pidana penjara dan denda.

Ibu korban, HKS berharap kasus anaknya segera ditangani polisi dan pelakunya bisa segera diadili dimuka hukum. Sebab tindakan yang dilakukan BK telah merusak dan merugikan masa depan anaknya yang masih panjang.

Ia menceritakan jika DA masih berumur lima tahun. DA mengaku kepadanya jika pernah diajak berhubungan suami istri, sek mulut (oral sexs) dan sek dubur (disodomi) oleh pamannya. “Kejadian itu dilakukan BK saat saya masih bekerja sebagai TKI dan sumai saya bekerja di Anak Buah Kapal (ABK) di perusahaan Kapal Kalimantan,” akunya.

Selama kerja tersebut, DA ia hidup denan neneknya, SN di Kecamatan Kaliwungu. Tindakan tidak senonoh yang diduga dilakukan BK terungkap saat HKS, pulang dari Hongkong sekitar dua bulan yang lalu. Dia melihat prilaku anaknya yang tidak wajar. Yakni, kerapkali memperagakan adegan seks di tempat tidur sembari menonton video porno di handphone.

Akhirnya HKS dan SW menanyakan kepada DA perihal keanehan itu. Siapa yang mengajarinya bertingkah seperti artis video porno tersebut. DA mengaku, diajari oleh oleh pamannya BK, yang tidak lain adalah kakak iparnya ayahnya. “Anak saya bercerita, jika ia sering diajak nonton video porno di HP. DA bercerita diliatin film mas dan mbak yang tidak pakai baju, trus adegannya memasukkan kelamin ke vagina, mulut dan dubur,” kata HKS menirukan pengakuan anaknya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.