Makanan Berformalin Masih Beredar di Pasar

301

KAJEN – Penggunaan zat berbahaya untuk bahan makanan marak beredar di pasaran. Meski razia rutin terus dilakukan, namun keberadaan zat perusak kesehatan itu masih saja dijual di sejumlah pasar tradisional.

Hal itu terbukti ketika tim gabungan yang terdiri dari Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Dinperindagkop), Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan ( BKPP), Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP), Dinas Kesehatan, Bagian Perekonomian, Satpol PP dan Polres Pekalongan melakukan sidak ke sejumlah pasar, Selasa (18/2).

Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Dinperindagkop Kabupaten Pekalongan, Dewi Fabanyo mengatakan, dari pemeriksaan yang dilakukan banyak ditemukan makanan yang mengandung zat Rodamin B atau pewarna textil dan formalin.”Masih marak ternyata, adanya zat berbahaya yang digunakan pada makanan yang dijual kepada masyarakat. Padahal secara rutin sudah kami tindak,” ungkapnya.

Dari sejumlah pasar sasaran sidak seperti Pasar Wiradesa, Bojong, Kedungwuni dan Kajen, ditemukan berbagai makanan yang mengandung pewarna textil. Diantaranya mi basah, cincau dan kerupuk usek. Sedangkan yang mengandung formalin, seperti ikan asin dan tahu. “Tidak semua pedangan, namun kami temukan itu,” jelasnya.

Menurut pengakuan para pedagang, lanjut Dewi, barang-barang yang dijual merupakan hasil produksi dari berbagai daerah. Baik dari Kecamatan Wonokerto, Siwalan, Kedungwuni maupun Kabupaten Batang. “Mereka tidak produksi sendiri. Maka dari itu, kami lakukan pembinaan supaya tidak menerima makanan mengandung zat bahaya tersebut,” tandasnya.

Sejumlah sampel makanan berbahaya juga diambil untuk dilakukan penyelidikan di laboratorium. Pihaknya juga bakal mendatangi lokasi produksi makanan mengandung zat berbahaya tersebut untuk ditindak tegas.

Sebab, makanan yang mengandung zat berbahaya, dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Dalam jangka panjang, dapat menjadi penyakit berbahaya seperti kanker.”Untuk masyarakat, pilihlah makanan yang sehat. Cirinya, warna tidak mencolok dan tidak mengandung zat pengawet,” imbuhnya.

Sementara itu seorang pedagang di Pasar Kajen, Emi, 45, mengatakan, dirinya tidak begitu paham dengan adanya makanan yang mengandung zat berbahaya. “Saya sendiri tidak tahu kalau ada zat bahaya itu. Tahunya saya ya ada yang setor terus saya jual. Saya juga pakai sendiri di rumah,” ungkapnya. (hil/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.