Pupuk Oplosan Beredar, Petani Resah

335
RESAH : Sejumlah petani resah dengan peredaran pupuk oplosan yang harganya lebih murah. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
RESAH : Sejumlah petani resah dengan peredaran pupuk oplosan yang harganya lebih murah. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
RESAH : Sejumlah petani resah dengan peredaran pupuk oplosan yang harganya lebih murah. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TUNTANG – Sejumlah petani di Desa Sraten dan Jombor, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, mengeluhkan beredarnya pupuk non subsidi menyerupai pupuk bersubsidi, dari kemasan dan komposisi campuran pupuk. Harganya memang jauh lebih murah, tapi tidak ada efek langsung ke tanah dan tanaman. Para petanipun akhirnya curigai jika pupuk non subsidi tersebut oplosan.

Dari informasi yang dihimpun, sejumlah petani di Sraten harus mencari sendiri pupuk mereka di pasar. Pasalnya KUD sudah tidak mau menanggung resiko. Sehingga mempersilahkan petani beli pupuk di pengecer. Seorang petani di Desa Sraten, Syukur, 69, mengatakan, jika keterlambatan distribusi pupuk menjadi alasan untuk membeli pupuk non subsidi. Harga terpaut Rp 30 ribu. Pupuk bersusidi di pengecer seharga Rp 130 ribu sedangkan pupuk non subsidi mirip Phonska seharga Rp 100 ribu. Tapi ternyata setelah dipakai, selang 5 hari tidak ada perubahan sama sekali.

“Saya pikir itu Phonska, pupuk bersudsidi dari pemerintah. Setelah saya amati lebih jauh, ternyata tidak. Di karung tertulis Phoska diproduksi salah satu pabrik dari Gresik. Tapi asli atau palsunya tidak tahu. Karena pupuk ini menyertakan izin Menteri Pertanian di bungkus karungnya,” katanya.

Ia menambahkan jika pupuk phoska lebih keras, warnanya seperti genting. Jika diambil dengan tangan, pupuknya tidak menempel di tangan. Itu kebalikan dari pupuk Phonska. “Kamau masuk musim tanam, berapapun harganya pasti akan dibeli. Karena bertani merupakan mata pencaharian warga,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan (Distanbunhut) Semarang, Triyoga mengaku cukup kaget dengan beredarnya pupuk non subsidi yang harganya dibawah pupuk bersubsidi. Terkait hal ini, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk memantau peredaran pupuk di kalangan petani.“Kalau merk yang dimaksud (Phoska) memang ada, tapi kalau harganya di bawah pupuk bersubsidi, ini patut dicurigai. Terus terang kami kaget jika benar ada hal semacam itu di kalangan petani,” katanya. (abd/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.