Royalti Lagu Dibebankan Kostumer

453
HORMATI PENCIPTA: Idul Daratista (tengah), pemilik jaringan Inul Vista, rencananya akan memberi beban Rp 1.000 per lagu seb agai royalti kepada para konsumen di rumah karaokenya. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
HORMATI PENCIPTA: Idul Daratista (tengah), pemilik jaringan Inul Vista, rencananya akan memberi beban Rp 1.000 per lagu seb agai royalti kepada para konsumen di rumah karaokenya. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
HORMATI PENCIPTA: Idul Daratista (tengah), pemilik jaringan Inul Vista, rencananya akan memberi beban Rp 1.000 per lagu seb agai royalti kepada para konsumen di rumah karaokenya. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pembayaran royalti dari hak cipta video klip dan lagu yang beredar di tempat karaoke rencananya akan dibebankan kepada kostumer. Tarif per lagu memang terbilang murah. Hanya Rp 1.000 saja.

Rata-rata, setiap satu jam, penikmat karaoke bisa menghabiskan sekitar 12 tembang. Jika mereka menyewa tiga jam, berarti harus membayar ongkos tambahan sebesar Rp 36.000 selain biaya room, servis, dan makanan serta minuman.

Menanggapi wacana yang ditetapkan Karya Cipta Indonesia (KCI) itu, pemilik brand rumah bernyanyi Inul Vizta, Inul Daratista mengaku keberatan. Baginya, regulasi itu dianggap cara label musik mencari-cari dana. Pasalnya, selama ini dana royalti diberikan ke KCI untuk didistribusikan ke label-label.

“Agaknya anggaran tersebut stuck di KCI saja. Kami itu sudah membayar pajak royalti setiap tahun. Angkanya sampai miliaran, lho. Jika wacana itu benar-benar terealisasi, berarti ada pembayaran ganda. Dari pihak pengusaha dan kostumer,” ungkapnya ketika di temui Radar Semarang di Semarang, beberapa waktu lalu.

Inul seolah membaca latar belakang lahirnya wacana ini. Menurutnya, RBT yang pernah menjadi ladang emas bagi label, kini mulai melesu. Karena itu, mereka mulai melirik cara ini untuk mengganikan pemasukan RBT.

Meski tidak terlalu banyak membayar, tapi cara penambahan Rp 1.000 per lagu akan mengganggu kenyamanan kostumer. “Mereka jadi kurang bebas memilih lagu untuk dinyanyikan. Pasalnya, meski baru play beberapa detik pun, otomatis Rp 1.000 itu sudah masuk bill. Ketika salah memilih lagu atau ingin men-skipp-nya jadi berpikir dua kali,” papar pedangut yang melejit dengan gaya goyang ngebor ini.

Karena regulasi royalti di Indonesia yang begitu rancu, Inul berencana akan fokus mengembangkan bisnis rumah bernyanyi yang sudah dibukanya di beberapa negara tetangga. Seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Di negera-negara itu, dikatakan Inul, tidak serumit di Indonesia. Soal dana royalti, sudah transparan sejak mengurus perizinan pembangunan karaoke. “Di sana, saya menggunakan nama berbeda karena pasti warganya tidak mengenal nama Inul. Namanya Vizta International. Rencanannya, saya akan menggandeng salah satu penyanyi yang terkenal di masing-masing negara untuk dijadikan brand. Misal nama penyanyinya Charmaine Clamor, jadi brand rumah bernyanyinya Charmain Vizta atau Clamor Vizta, gitu. Yang di Filipina sudah ada yang mau dijak kerjasama. Tinggal nego harga,” pungkasnya. (amh/smu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.