Wayang Potehi Jadi Sengketa

549
KINI DISENGKETAKAN : Wayang Potehi saat dimainkan mendiang dalang legendaris wayang Potehi Kota Atlas Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan di SMA Karangturi dalam rangka mengenalkan budaya kepada para siswa, beberapa waktu silam. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
KINI DISENGKETAKAN : Wayang Potehi saat dimainkan mendiang dalang legendaris wayang Potehi Kota Atlas Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan di SMA Karangturi dalam rangka mengenalkan budaya kepada para siswa, beberapa waktu silam. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
KINI DISENGKETAKAN : Wayang Potehi saat dimainkan mendiang dalang legendaris wayang Potehi Kota Atlas Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan di SMA Karangturi dalam rangka mengenalkan budaya kepada para siswa, beberapa waktu silam. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

Perayaan Imlek di Kota Semarang selalu dimeriahkan dengan pementasan wayang Potehi. Satu-satunya dalang legendaris wayang Potehi Kota Atlas adalah Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan. Namun kini Thio Tiong Gie telah meninggal. Lantas siapa penerusnya?

POTEHI adalah wayang golek khas Tiongkok. Kesenian ini sudah jarang dipentaskan. Maklum saja, dalang yang mahir memainkan wayang ini sangat terbatas. Apalagi setelah dalang legendaris Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan meninggal pada Rabu (20/8/2014) silam.

Meninggalnya Thio Tiong Gie rupanya juga memunculkan konflik sengketa kepemilikan wayang Potehi. Hal itu membuat pihak keluarga cemas karena terancam tidak bisa bermain wayang Potehi lagi. Sebab, kepemilikan satu set wayang Potehi akan diminta oleh pihak yang mengaku berhak. Yakni ”anak angkat” almarhum Thio Tiong Gie yang berada di Bandung.

Keberadaan wayang Potehi sendiri dianggap sebagai aset Kota Semarang yang terancam punah akibat sulitnya mencari regenerasi dalang. Belakangan telah muncul dua dalang penerus wayang potehi, yakni Herdian Candra Irawan atau Thio Haouw Lie, 35, anak dalang Thio yang kelima dari 7 bersaudara, dan Surya Handoko, 22, merupakan cucu dari anak pertama dalang Thio.

Namun kelahiran dua generasi dalang itu malah justru muncul masalah lain, yakni sengketa kepemilikan alat wayang Potehi. ‎
”Saat ini, kami pihak keluarga terkendala kepemilikan satu set wayang potehi yang mau diminta oleh ’anak angkat’ di Bandung,” ungkap anak keempat, Tio Haouw Liep atau Heri Candra, 48, kepada Radar Semarang, Selasa (17/2).

Sengketa kepemilikan itulah yang membuat pihak keluarga Thio resah. Sebab, jika benar satu set alat wayang Potehi itu diminta, dipastikan tidak bisa berproses atau pentas produksi. “Jelas aktivitas wayang Potehi satu-satunya di Kota Semarang ini terancam punah,” kata Heri.

Ia mengaku baru mengetahui bila ternyata status kepemilikan satu set wayang Potehi tersebut milik anak angkat almarhum Thio. ”Sebelumnya kami tidak tahu,” akunya.

Baru belakangan diketahui riwayat satu set alat wayang Potehi dari anak angkat bernama Agustinga Sutanto atau Tan Khoin Sing, warga Bandung.

”Kami memang dari keluarga tidak mampu. Satu set wayang itu dulunya berasal dari gurunya Pak Thio di Kelenteng Grajen, Jagalan. Saya tidak tahu kalau anak angkat tersebut yang mendanai. Sedangkan Pak Thio adalah yang merawat satu set wayang tersebut,” katanya.

Nah, setelah dalang Thio meninggal pada Rabu (20/8/2014) lalu sekitar pukul 13.10 di RS Pantiwilasa Citarum, munculnya masalah kepemilikan satu set wayang itu.

”Saya sendiri tidak habis pikir. Mengapa sebelum 40 hari meninggalnya Pak Thio saja, dia (Agustinga Sutanto, Red) sudah meminta satu set alat wayang tersebut. Bahkan sehari sampai mengirim SMS 4-6 kali untuk ngotot meminta wayang tersebut,” ujarnya.

Heri mengaku tidak mau berdebat atau berkonflik soal masalah kepemilikan satu set wayang Potehi tersebut. ”Jika memang pihak anak angkat itu ngotot, maka mau tidak mau satu set wayang Potehi itu kami serahkan. Hingga kini, 90 persen akan dikembalikan. Secara otomatis, wayang Potehi di Semarang terancam punah,” katanya.

Dikatakannya, satu set wayang Potehi itu asli buatan Tiongkok yang sudah berusia ratusan tahun silam. Ia sendiri mengaku tidak bisa menaksir dengan uang.

”Kalau wayang biasa yang buatan sini diperkirakan senilai Rp 25 jutaan. Tapi untuk wayang Potehi yang selama ini digunakan sudah berusia ratusan tahun. Jadi, ada nilai yang tidak cukup dibeli dengan uang,” ujarnya.

Kendati diakui kepemilikannya oleh anak angkat Agustinga, Heri mengaku tidak mengetahui bagaiman prosedur pembeliannya saat itu. Sebab, semasa masih hidup, dalang Thio tidak pernah menceritakan status satu set wayang potehi tersebut kepada anak-anaknya. ”Apakah benar telah dibeli atau diberikan, saya tidak tahu,” akunya.

Sejauh ini, pihak keluarga dalang Thio hanya berusaha merawat sekaligus melestarikan warisan produk kesenian wayang Potehi tersebut. Bahkan munculnya dua dalang, Herdian Candra Irawan atau Thio Haouw Lie, dan Surya Handoko, diharapkan mampu meneruskan perjuangan dalang Thio. ”Herdian saat ini sudah sering pentas menggantikan dalang Thio,” kata Heri.

Dikatakannya, keduanya memang secara alami mengikuti jejak dalang Thio. Keduanya bisa mendalang secara autodidak karena kebiasaannya selalu ikut ke mana pun dalang Thio pentas wayang Potehi. Masing-masing keturunan dalang Thio memang memiliki keahlian berbeda-beda. ”Herdian dan Surya mendalami dalang. Saya sendiri lebih ke musiknya,” kata pria yang juga perajin barongsai ini.

Menurutnya, hal paling sulit dalam belajar mendalang wayang Potehi adalah terletak dalam logat ataupun intonasi bahasanya. Lidah Jawa bisa dipastikan akan kesulitan. Sehingga orang asli pribumi sangat minim untuk mempelajarinya. Herdian sendiri selama ini mendapat bimbingan oleh wakil dalang, Tan Gie Swei atau Sugiarto, 72. ”Beliau lebih berpengalaman karena lebih senior, dan berjuang bersama Pak Thio,” ujarnya.

Heri mengaku, iri jika melihat perkembangan wayang Potehi di Kota Surabaya. Bahkan di Kota Pahlawan tersebut, warga pribumi telah banyak berminat memelajari. ”Kalau di Semarang masih sangat minim,” katanya.

Heri mengaku belakangan mendengar bila kesenian wayang Potehi akan digalakkan ke sekolah-sekolah melalui ekstrakurikuler. Meski hal itu masih sebatas wacana. ”Jika memang itu benar, kami akan sangat bangga sekali. Kami menghargai grup apa pun. Kesenian apa pun. Wayang Potehi adalah milik Kota Semarang, bukan milik Thio ataupun keluarga,” tandasnya.

Dalang Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan sendiri dikenal sebagai satu-satunya dalang wayang golek Tiongkok ini di Kota Semarang. Lebih dari setengah abad, sang tokoh langka ini malang-melintang di jagad kesenian di Kota Semarang. Bahkan hingga tutup usia, ia hanya hidup sederhana di sebuah gang buntu Jalan Petudungan, Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah.

Thio mengembuskan napas terakhir Rabu (20/8/2014) sekitar pukul 13.10 di RS Pantiwilasa Citarum, setelah selama 11 hari dirawat akibat penyakit komplikasi. Jenazahnya dikebumikan Minggu (24/8/2014) di Boja. Ia meninggal di usia 81 tahun, dengan meninggalkan tujuh anak dan 23 cucu.

Ketujuh anaknya masing-masing: Thio Kaoei Lian, Thio Haouw Poen, Thio Kaoei Hwa, Thio Haouw Liep, Thio Haouw Lie, Thio Koei Hoen dan Thio Haouw Too. Sebulan sebelum meninggal, dalang Thio sempat pentas wayang Potehi selama 70 hari berturut-turut di Vihara Widhisakti Sukabumi Jawa Barat. Itu kali terakhir Thio pentas.

Sang master wayang potehi ini menyimpan sejuta keunikan. Bahkan sebelum meninggal, ia telah mempersiapkan seperangkat meja pemujaan dilengkapi sebuah lukisan, sebuah syair berhuruf Tiongkok, dan dilengkapi pas foto dirinya. Lukisan tersebut terdapat visual anjing dan kera yang melambangkan shio. Thio memiliki shio anjing. Sedangkan kera adalah shio istrinya, Fransiska Hoo Sian Nio, yang telah meninggal 25 tahun silam.

Lukisan tersebut merupakan sebuah filosofi kesetiaan cinta mereka berdua, yang berjanji sehidup semati. Thio sejak ditinggal istrinya 25 tahun silam berjanji tidak akan menikah lagi.

Ada dua tokoh wayang kesayangannya juga turut dimasukkan ke dalam peti jenazah Thio untuk ikut dimakamkan. Yakni, Sie Djien Koei, jenderal perang yang gagah perkasa, dan Soo Poo Toong. Sebelum dimasukkan ke dalam peti mati, dua tokoh wayang tersebut sempat dimainkan oleh anak kelimanya, Thio Hauw Lie Herdian Candra Irawan dan Surya Handoko, terlebih dahulu. Bahkan budayawan Jawahir Muhammad menyebut, Thio Tiong Gie adalah Pendekar Hybrid Culture. Ia berhasil mengawinkan dua kebudayaan, yakni Tionghoa dan Jawa menjadi produk kesenian wayang Potehi di Kota Semarang. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.