Jadi Tahu Serunya Proses di Balik Layar

441
ANTUSIAS: Sejumlah pengunjung menikmati pameran arsip Bok Cinta di Grobak Art Kos Jalan Stonen kemarin. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Sejumlah pengunjung menikmati pameran arsip Bok Cinta di Grobak Art Kos Jalan Stonen kemarin. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Sejumlah pengunjung menikmati pameran arsip Bok Cinta di Grobak Art Kos Jalan Stonen kemarin. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

Sejumlah foto berjajar di dinding garasi Grobak Art Kos Jalan Stonen No 29 Bendan Ngisor, Gajahmungkur, kemarin. Gambar-gambar yang ditampilkan dapat dibilang random. Ya, gambar tersebut tidak mengambil satu tema, melainkan menceritakan proses program ’Bok Cinta’ Project (Tengok Bustaman 2). Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

TIM Grobak Art rupanya cukup peduli akan arsip kegiatan. Setiap kegiatan mulai ide awal sebuah program hingga berjalannya acara, semua terarsip dengan lengkap. Tak hanya dokumentasi berupa foto, namun ada juga audio, video maupun sketch arsip.

Kurator pameran Ahmad Khairudin mengatakan, kelancaran serta suksesnya festival maupun rangkaian acara memang menjadi hal yang ditunggu dalam setiap program. Kendati demikian, proses di balik berjalannya program tersebut, juga tak kalah menarik untuk dikulik.

”Acara berlangsung, gagal, atau sukses ya sudah, itu sudah berlangsung. Tapi dengan adanya dokumentasi, arsip, kita bisa melihat lagi, proses di balik layarnya. Seperti apa sih awalnya program tersebut, kemudian prosesnya, gampang atau susah. Bisa jadi evaluasi juga,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Dalam pameran arsip tersebut, pria yang akrab disapa Adin ini membagi dalam 8 tahapan. Tahap pertama berupa audio yang isinya rekaman suara saat kurator melakukan presentasi di Tokyo, Jepang. Ia membawa idenya untuk mengadakan pameran di ruang publik.

Idenya cukup menarik, dengan mengambil latar pameran sebuah kampung, kemudian mendatangkan seniman dari luar area tersebut, dan bekerja sama dengan warga setempat untuk ’menghidupkan’ pameran tersebut.

”Bagi saya mengadakan pameran di ruang publik, khususnya perkampungan, tantangannya memang lebih besar, khususnya pendekatan pada warga. Saya setidaknya membutuhkan waktu setengah tahun untuk melakukan pendekatan,” ujar pria asal Rembang ini.

Setelah warga sebagai kunci utama dari terwujudnya pameran menyetujui ide tersebut, masuklah ke tahap kedua. Yakni, proses awal termasuk saat panitia membangun audiensi dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

”Setiap tahap diwakili satu penanda merah dan berujung pada pameran video berisi proses acara dari awal sampai akhir,” katanya.

Ia berharap, pameran yang merupakan bentuk presentasi proses ’Bok Cinta’ baik sebelum maupun selama festival berlangsung ini dapat lebih memperlihatkan pada masyarakat akan keseruan-keseruan di balik proses pameran.

”Tak hanya keberhasilan program, pastinya banyak evaluasi yang bisa kita ambil dari dokumentasi ini. Dengan pameran juga diharapkan setiap komunitas lebih peduli akan dokumentasi sebuah acara,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Zsazsa Wulan Permatasari, 21, mahasiswi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo mengatakan, pameran ini melengkapi keseluruhan program ’Bok Cinta’ yang sedang berjalan. ”Kita jadi melihat prosesnya secara gamblang dan bisa belajar dari hal ini,” katanya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.