Terpikat Seni Rupa

481
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI

KONSISTENSI mengisi hidup dengan kesenian sudah menjadi pilihan Dian Ika sejak lama. Bahkan, ia mengaku tertarik dengan seni rupa sejak lahir karena latar belakang keluarganya juga seniman.

”Bapak dan ibu sekolah seni rupa semua. Sejak lulus SMA malah saya tambah tertarik lagi sama dunia gambar-menggambar,” ungkap perempuan yang akrab disapa Oyon ini.

Untuk mengasah bakat seninya, Oyon melanjutkan kuliah di jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di kampus tersebut, ia mengaku mendapatkan komunitas yang mendukung hobinya itu. Bahkan ia kerap mengikuti pameran seni rupa baik di Semarang, Jogja, Jakarta, Magelang, hingga Surabaya.

”Saya suka menggeluti dunia ini, karena banyak teman, antaruniversitas jadi saling kenal. Jadi kita sering bikin acara bareng, sering ketemu main bareng, mengerjakan proyek bareng, jadi seru aja gitu di dunia seni,” ujar perempuan kelahiran Boyolali, 26 Juni 1992 ini.

Menurut Oyon, kesenian sangat berarti bagi dirinya. Kesenian itu ibarat nyawa bagi manusia. Ia mengibaratkan hidup tanpa seni seperti memilih baju sambil menutup mata. Sehingga tidak tahu warna dan modelnya. ”Jadi, kesenian itu part of our life. Cuma kadang manusia itu menyepelekan kesenian,” imbuh perupa yang lebih banyak menggambar objek manusia ini.

Banyak suka dan duka telah dilalui Oyon. Sukanya adalah banyak ilmu yang dapat dipetik selama bergelut di bidang ini. Salah satunya adalah bisa menghargai orang lain. Sebab seni itu bebas, dan semua orang berhak untuk mengekspresikan dirinya. Adapun dukanya tidak cukup waktu untuk mengikuti seabrek aktivitas, baik berkesenian, kuliah, maupun aktivitas lain. ”Kadang sampai full tidak tidur 24 jam, padahal ada kuliah pukul 07.00 WIB,” ujar mahasiswi semester VI ini.

Perupa yang telah menghasilkan puluhan karya seni rupa ini mengaku puas jika karya yang dibuatnya dapat diapresiasi orang lain. Lebih puas lagi jika sampai karya itu menginspirasi orang lain untuk berkarya. Karena itu, ia berharap semua karya-karya yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi orang lain. ”Tidak cuma asal corat-coret sambil gembar-gembor this is art, tapi masyarakat sama sekali gak bisa menikmati atau memahami pesan yang mau kita sampaikan,” katanya. (fai/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.