Bantuan Sosial Sekolah Diduga Dipotong

373

SEMARANG – Penyaluran bantuan sosial (bansos/hibah) bidang pendidikan keagamaan dari APBD Provinsi Jateng tahun 2014 ternyata menyisakan banyak persoalan. Selain banyak yang tidak dicairkan gubernur, ternyata juga banyak yang disunat dan dimainkan broker. Ini seperti yang terjadi di Kabupaten Wonogiri. Sebanyak 16 titik bantuan hibah bidang pendidikan keagamaan di Kabupaten Wonogiri yang bersumber dari APBD Jateng tahun 2014 diduga dipotong oleh oknum salah satu parpol pemenang pemilu. Tidak tanggung-tanggung, pemotongannya mencapai 40 persen dari total bantuan yang diterima.

Ke-16 titik hibah pendidikan keagamaan yang mendapat bantuan dan dipotong sampai 40 persen itu kesemuanya adalah MI Muhamadiyah. Sesuai proposal yang diajukan, bantuan dari provinsi itu akan digunakan untuk pembelian teknologi informasi komputer (TIK).

Total keseluruhan bantuan hibah pendidikan bidang keagamaan untuk 16 MI Muhamadiyah di Wonogiri adalah Rp 290 juta. Kalau potongannya 40 persen, maka total potongannya mencapai Rp 116 juta. Sehingga yang sampai ke 16 lembaga pendidikan keagamaan MI Muhamadiyah hanya Rp 174 juta.

Karena dipotong 40 persen, bantuan yang seharusnya sudah dibelanjakan pada akhir 2014, sampai sekarang belum bisa dibelanjakan. Informasi yang didapat JPNN, inspektorat juga sudah terjun ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan.

Salah seorang guru di MI Muhamadiyah Eromoko, Rusdiyana, saat dikonfirmasi membenarkan kalau MI-nya bersama kurang lebih 14 MI yang lain di Wonogiri mendapat bantuan dari APBD Provinsi Jateng untuk TIK.

”Ya mas kita memang dapat bantuan dari provinsi. Di tempat saya dapat Rp 18 juta dan sudah dicairkan. Namun sampai sekarang kita belum mendapatkan komputernya,” ungkapnya, kemarin.

Menurutnya, bantuan itu berasal dari aspirasi anggota dewan pada 2014, yang dikoordinasi oleh Harwan Widodo, warga Wonogiri, sekaligus sebagai pihak ketiga yang akan membelikan TIK. Sedangkan dirinya mengajukan proposal sejak 2013.

Ketika uang sudah ditransfer ke rekening sekolah, pihaknya bersama penerima bantuan yang lain, pada awal Januari 2014 dikumpulkan Harwan Widodo di sebuah masjid di Wonogiri.
”Saat itu kembali disampaikan kalau bantuan itu berasal dari aspirasi anggota dewan. Lalu uang bantuan yang sudah diambil dari rekening itu, semuanya diminta 40 persen,” ungkapnya.

Oleh Harwan Widodo, disampaikan kalau pihaknya sebagai pihak ketiga yang akan membelanjakan TIK. ”Kalau di tempat saya, dari jumlah Rp 18 juta, yang harus saya serahkan adalah Rp 7,2 juta. Itu akan dibelikan 4 barang, yakni komputer, laptop, printer dan LCD,” bebernya.

Ketua DPD PDIP Jateng Heru Sudjatmoko saat dikonfirmasi menyatakan PDIP tidak ada perintah/permintaan pemotongan bantuan hibah yang menjadi aspirasi anggota dewannya. Kalau sampai terjadi pemotongan, dirinya mengaku tidak tahu sama sekali. ”Adanya aspirasi itu adalah hal yang wajar. Sepanjang memberi manfaat kepada masyarakat, kenapa tidak?. Tapi kalau ada pemotongan, saya tidak tahu. Di PDIP tidak ada perintah/permintaan seperti itu,” bebernya. (udi/jpnn/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.