Cuaca Buruk, Ratusan Nelayan Tak Melaut

730
SANDARKAN KAPAL : Puluhan perahu nelayan disandarkan di Sungai Sambong, Batang, lantaran cuaca buruk, ombak besar dan kerap terjadi badai. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
SANDARKAN KAPAL : Puluhan perahu nelayan disandarkan di Sungai Sambong, Batang, lantaran cuaca buruk, ombak besar dan kerap terjadi badai. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
SANDARKAN KAPAL : Puluhan perahu nelayan disandarkan di Sungai Sambong, Batang, lantaran cuaca buruk, ombak besar dan kerap terjadi badai. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Lantaran cuaca buruk dan ombak besar, ratusan kapal nelayan di Kabupaten Batang, Kamis (19/2) siang kemarin, disandarkan di sepanjang Sungai Sambong, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor, Batang. Para nelayan lebih memilih memperbaiki perahu dan jalanya, sambil menunggu cuaca membaik.

Tidak hanya ratusan nelayan dari Kabupaten Batang yang tidak melaut, nelayan dari Kabupaten Jepara dan Rembang juga turut menambatkan kapalnya di TPI Kabupaten Batang tersebut. Akibatnya ketika turun hujan deras, Sungai Sambong meluap. Kelurahan Karangasem Utara, Kelurahan Klidang Lor, Kecamatan Batang, yang semula tidak banjir, jika hujan turun seharian kerap banjir.

Juru Mudi Kapal Baruna Jaya, Marzuki, 47, dari Kabupaten Rembang, mengungkapkan bahwa sejak dua minggu terakhir perairan laut Jawa kerap terjadi ombak besar, hingga setinggi 4 meter. Menurutnya, hujan dan angin kencang juga sering terjadi, khususnya pada sore hari menjelang malam. ”Kami telah sepakat dengan para ABK untuk istirahat di Batang selama 2 minggu. Daripada memaksakan pulang dengan kapal di tengah cuaca yang sangat membahayakan,” ungkap Marzuki.

Rahmadi, 41, warga Desa Klidang Lor RT 02 RW 01, Kecamatan Batang, mengaku keberatan dengan adanya ratusan kapal yang ditambatkan di Sungai Sambong. “Penyebab banjir di Karangasem Utara lantaran tanggul Sungai Sambong jebol. Selain itu, air sungai meluap lantaran arus air terhalang oleh ratusan kapal,” kata Rahmadi.

Sementara itu, pengurus Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Rasto, menyatakan bahwa memasuki musim darat yang jatuh pada Desember hingga Maret, banyak nelayan yang tidak melakukan kegiatan berlayar. Di tengah kondisi alam pada musim darat, sangat berisiko besar. “Biasanya kalau musim darat, nelayan memperbaiki jala atau kapalnya. Banyak juga yang mencari pekerjaan lain,” kata Rasto.

Meski demikian,kata Rasto, banyak nelayan yang nekad tetap berlayar, karena tuntutan profesi dengan mengabaikan risiko. Menurutnya tidak mudah bagi nelayan untuk berganti profesi, meski berlayar di musim darat penuh bahaya. ”Biasanya nelayan mencari ikannya, hanya di bibir pantai, tidak terlalu jauh. Mereka paham akan kondisi laut,” tandas Rasto. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.