Tertarik Genre Laga

418

SALATIGA-Menjamurnya film-film laga di tanah air, mendorong komunitas film turut menciptakan film action di Indonesia. Namun beberapa komunitas mengalami kendala dalam pembuatannya, lantaran memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi dalam prosesnya.

Hal tersebut dipaparkan Alvin Ferdian, ketua panitia acara Workshop Film 2015 yang diselenggarakan oleh Finger Kine Club. Yakni, sebuah kelompok bakat minat (KBM) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang mengangkat tema “Workshop In Action First Time in Central Java, The Second Time in Indonesia”.

Acara yang digelar pada Rabu-Kamis, (18-19/2) di Balairung UKSW ini menghadirkan Deswyn Pesik selaku Actor and Founder of Stunt Fighter Community dan Nanda SFX selaku make up special effect artist sebagai narasumber.

“Komunitas film Finger Kine Club yang berdiri sejak tahun 2012 ini, sedang mencoba belajar membuat film genre action. Melihat kesukesan film The Raid yang dibintangi Iko Uwais dan kemudian muncul film-film action di tanah air, membuat anggota komunitas tertantang untuk mencobanya,” terang Alvin.

Deswyn Pesik yang hadir bersama dua rekannya dari komunitas stuntman bernama Stunt Fighter Community (SFC) berkesempatan membeberkan pengalamannya selama menjadi aktor, Fight Director, Stunt Motor & Stunt Driver, Fight Choreographer & Stunt Coordinator di beberapa film layar lebar, FTV dan sinetron.

Disampaikan dia dalam sesi manajemen produksi film, bahwa membuat film laga memiliki tingkat kerumitan yang tinggi dan membutuhkan persiapan yang matang dalam proses pembuatannya. “Mulai dari breakdown, hunting plan, proses hunting, director shot, floor plan hingga sampai tahap mendaftar property & wardrobe yang dibutuhkan. Semua harus melalui tahap perencanaan yang matang,” terang Deswyn.

Nanda SFX yang memiliki jam terbang tinggi dalam bidang special effect film & make up mempraktikkan kemampuannya dalam memoles wajah peserta yang semula bersih menjadi penuh luka. Dengan menggunakan bahan dasar air dan alkohol serta beragam pewarna alami yang biasa digunakan dalam proses pengolahan makanan, Nanda mampu menciptakan efek luka bakar, luka memar, serta darah.

“Dalam proses pembuatan film laga yang sebagian besar berisikan adegan perkelahian atau baku hantam, pasti akan ada effect luka yang ditimbulkan. Nah kami mencoba membuat effect luka tersebut tampak seperti nyata,” katanya.

Melalui workshop yang diikuti ratusan peserta, mulai dari mahasiswa, komunitas film di SMA/SMK yang ada di Salatiga, Jepara, dan Banten, pihaknya berharap akan muncul bibit-bibit baru di bidang make up artist terkhusus special effect yang saat ini jarang ada di Indonesia. (sas/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.