Bule Kagumi Cara Produksi Batik

476
POTENSI WISATA: Sebanyak 50 turis asing dari Amerika, Jerman dan Belanda terkesima melihat proses produksi batik di sanggar 16 Batik Semarang, kemarin(20/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
POTENSI WISATA: Sebanyak 50 turis asing dari Amerika, Jerman dan Belanda terkesima melihat proses produksi  batik di sanggar 16 Batik Semarang, kemarin(20/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
POTENSI WISATA: Sebanyak 50 turis asing dari Amerika, Jerman dan Belanda terkesima melihat proses produksi batik di sanggar 16 Batik Semarang, kemarin(20/2). (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebanyak 50 wisatawan asing tampak terkesima melihat proses produksi batik di Sanggar Batik Semarang 16, Kampung Kontrak Desa Summberejo Meteseh, Tembalang, kemarin. Dari penenunan, pencanting, pewarnaan, hingga tahap finishing. Saking penasarannya, tidak sedikit yang berceloteh, bertanya-tanya kepada pengrajin untuk mengetahui lebih dalam.

Merry, salah satu turis asal Amerika mengaku kagum dengan proses membatik. Meski sudah mengenal batik sejak lama, tapi tidak menyangka jika produksinya serumit ini. “Saya kita seperti produksi tekstil biasa. Hanya di print. Dulu, pernah melihat produksi batik di daerah mana, saya lupa, membuat polanya hanya di cap saja. Baru kali ini tahu cara tradisionalnya. Menggambar menggunakan malam dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati,” ungkapnya.

Senada dengan Bong Sulistya. Turis asal Belanda itu suka dengan cara pewarnaan batik. Proses dicelup-celupkan ke tempat berbentuk lesung besar yang terbuat dari kayu itu juga menggunakan tenaga kerja manusia.

“Ternyata orang Indonesia masih memberdayakan tenaga kerja. Tidak menggunakan mesin. Pantas, hasilnya begitu eksotik dan terkenal sampai seluruh dunia. Pewarnaanya pun masih menggunakan warna alami. Sepreti kayu, daun-daunan, dan biji-bijian,” paparnya.

Turis-turis yang bersandar di Tanjung Emas pagi kemarin menumpangi Kapal Pesaiar RV Rotterdam dengan 1.650 penumpang. Turis yang mayoritas berwarga negara Amerika itu dibagi menjadi beberapa kelompok city tour. Ada yang hanya berkeliling Semarang, atau bertandang ke tempat-tempat heritage seperti Borobudur.

“Rombongan city tour Semarang hanya 50 orang dengan dua bus. Pagi tadi (kemarin, Red), berangkat dari pelabuhan menuju Gereja Belenduk Kota Lama, dilanjut ke pabrik Jamu Ny Meneer, dan ke Sanggar Batik Semarang16. Setelah ini mau menengok Sam Poo Kong, lalu kembali lagi ke kapal. Soalnya pukul 20.00 mau melanjutkan perjalanan ke Singapura,” ungkap tour guide Netty.

Sementara itu, Kepala Sanggar Batik Semarang 16 Siti Shofia menuturkan, sejak tiga tahun lalu, banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung. Entah hanya melihat-lihat proses batik, atau mencoba sendiri. “Agaknya mereka sangat antusias dengan kain batik. Atau mungkin lebih tepatnya menghargai. Pasalnya, biasanya orang-orang Amerika akan memberikan apresiasi barang-barang yang pembuatannya tidak menggunakan mesin. Kalau turis cowok biasanya memborong baju-baju, sementara yang cewek, belinya syal atau merchandise lain,” tegasnya. (amh/smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.