Sebelumnya Tak Miliki Firasat Buruk

492
TRAUMA : Korban selamat mengalami luka-luka dan mengalami trauma sehingga perasaannya masih deg-degan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TRAUMA : Korban selamat mengalami luka-luka dan mengalami trauma sehingga perasaannya masih deg-degan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TRAUMA : Korban selamat mengalami luka-luka dan mengalami trauma sehingga perasaannya masih deg-degan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

Saat terjadi kecelakaan bus maut, penumpang rombongan PO Sang Engon B 7222 KGA, asal Bojonegoro Jawa Timur, rata-rata sedang tertidur pulas karena kecapekan. Detik-detik mencekam terjadi setelah benturan keras. Para penumpang terbangun. Namun tak tahu harus berbuat apa.

SAAT itu, yang terdengar hanya jeritan dan pekikan Allahu Akbar. ”Kami tidak sempat apa-apa, tahu-tahu bus sudah terguling,” kata saksi mata, salah satu penumpang selamat, Biutomo, 30, warga Desa Stren RT 12 RW 5 Kelurahan Stren, Bojonegoro, Jawa Timur saat ditemui Radar Semarang di lokasi kejadian, kemarin.

Sebelumnya, Biutomo sendiri juga tertidur lelap. Dia selama perjalanan lebih memilih tidur karena kecapekan. Begitu pun dua orang penumpang yang duduk di kursi sampingnya. ”Saya duduk terpisah dari mertua dan kakak ipar saya,” katanya.

Ia mengaku berangkat bertiga. Masing-masing orang membayar iuran Rp 100 ribu. ”Saya belum tahu kondisi mereka seperti apa. Mudah-mudahan selamat. Saya sendiri bersyukur masih diberikan keselamatan,” imbuhnya.

Biutomo sendiri mangaku tidak mempunyai firasat buruk sebelum terjadi kecelakaan. Sejak berangkat hingga mengikuti pengajian rutin Jumat Kliwon di tempat Habib Muhammad Luthfi Pekalongan, tidak ada firasat aneh. ”Tidak ada. Kami hanya mengaji, biasa saja. Sopirnya waktu di Pekalongan juga sempat istirahat,” katanya.

Saat di perjalanan juga tidak ada hal yang mencurigakan. Baik gelagat dari penumpang, maupun sopirnya. Bahkan sopir lebih cenderung diam. ”Enggak ada firasat apa-apa. Tiba-tiba sudah dalam kondisi begini,” imbuhnya.

Kondisi bus berwarna abu-abu dengan mesin Marcedes Benz itu mengalami ringsek parah bagian atap akibat membentur tanah tebing. Akibat ringsekan itu, puluhan penumpang dalam kondisi terjepit di antara kursi dan pecahan kaca bus. Bahkan ada balita juga ditemukan dalam kondisi meninggal.

”Ada balita. Tadi saya mengevakuasi jenazah balita, kondisinya sudah meninggal,” ujar salah seorang petugas Basarnas Kota Semarang, di lokasi kejadian.

Korban selamat lainnya, Suharto, warga Desa Dander, Kabupaten Bojonegoro, mengungkapkan bahwa semula sopir pelan tapi pas tikungan ngebut. “Awalnya kalem, santai mas, tapi pas tingkungan mobil bablas ngebut sampe menatap tembok jalan. Alhamdulilah, kami sekeluarga selamat. Ini saya bersama istri dan cucu,” cerita Suharto, yang didampingi istrinya Rantimah, 52, dan tetangganya Wariatun, 53.

Suharto mengatakan, saat ini perasaannya masih deg-degan bercampur trauma menaiki bus. Sebelumnya ia dan rombongan berencana hendak mampir ke Ungaran untuk ziarah di Makam Hasan Munadi Nyatnyono Kabupaten Ungaran.

“Saya pasrah kaleh Gusti Allah, wau mobile mbalek nganti peng pindo mas (tadi mobilnya sempat terbalik 2 kali, red) baru menabrak tembok jalan yang bawahnya jurang,” katanya.

Saiful, 29, korban selamat mengatakan bahwa awalnya rombongan mobil yang ia naiki dari Pekalongan usai ziarah di makam Habib Ahmad dan pengajian Jumat Kliwon di KH Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya Pekalongan.

“Mungkin ini diingatkan sama yang maha kuasa, hari Jumat tidak melaksanakan salat Jumat. Mobilnya tidak berhenti, malah jalan terus pas jamnya waktu salat Jumat. Ini teguran Allah SWT,” kata Saiful.

Dia menyebutkan bahwa di dalam bus tersebut satu rombongan jamaah dari Kabupaten Bojonegoro yang berasal dari berbagai kecamatan. “Semuanya sekitar 60-an penumpang dalam satu bus. Awalnya dalam daftar penumpang hanya 58 orang. Tapi tambah lagi, di jalan ada warga Bojonegoro sebanyak 3 orang, kebetulan jamaah warga Desa Dander yang baru. Ini merupakan jamaah rutinan setiap Kliwonan di Pengajian Habib Lutfi,” ungkap Saiful.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono di lokasi kejadian mengatakan, bus tersebut sempat terbang setelah menghantam cor pembatas. ”Busnya sempat terbang, sebelum akhirnya menghantam tebing. Ini kecelakaan tunggal yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi. Sopirnya selamat masih dirawat di RS Bhayangkara. Kami masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut,” katanya di lokasi kejadian.

Sementara itu, saksi yang kali pertama melakukan proses evakuasi adalah petugas patroli Jasa Marga bernama Agus Priyadi, 35, warga Mireng Lor, Trucuk RT 7 RW 3 Klaten dan Parijan, 34, warga Babatan, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Bus nahas tersebut sempat menyalip dua saksi saat sedang melakukan patroli. ”Sempat menyalip saya tepatnya di KM 5, dari gerbang Manyaran sampai STA 5500. Mereka menyalip dengan kecepatan tinggi. Saya melaju 100 km/jam. Bus tersebut lebih kencang lagi,” ungkap Agus.

Kurang dari 10 menit kemudian, Agus mengaku menerima kabar bus tersebut terguling di Jalur Lingkar Tol Jatingaleh dari rekannya yang bertugas di Tembalang. ”Saya pertama kali yang melakukan evakuasi. Beberapa penumpang saya bantu keluar dari jendela samping. Kacanya terpaksa kami pecah,” ujarnya.

Agus sendiri mengaku ngeri. Sebab beberapa penumpang selamat mengalami luka parah dan bersimbah darah. ”Bahkan ada seorang wanita paro baya yang kulit kepala di rambutnya menyingkap mau lepas,” ungkapnya.

Menurutnya, bus tersebut seharusnya hanya memuat sebanyak 55 penumpang. Namun dalam kecelakaan itu, bus tersebut melebihi muatan penumpang, hingga 70 penumpang.

Dikatakannya, jalur tersebut memang sangat rawan. Lokasi jalur lingkar tersebut berbentuk tikungan tajam. ”Di sini sering terjadi kecelakaan,” imbuhnya. (amu/mg21/ida/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.