Dikeluhkan, Jalan Berlubang di Maliyan

466
BERBAHAYA: Jalan di Dusun Maliyan, Tukang, Pabelan yang berlubang. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BERBAHAYA: Jalan di Dusun Maliyan, Tukang, Pabelan yang berlubang. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BERBAHAYA: Jalan di Dusun Maliyan, Tukang, Pabelan yang berlubang. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

PABELAN- Sejumlah akses jalan di Dusun Maliyan, Desa Tukang, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang yang mulai rusak dikeluhkan warga. Pasalnya, jalan tersebut merupakan akses utama warga. Apalagi jika malam hari, lubang jalan tidak kelihatan, dipastikan akan membahayakan pengendara motor.

Pantauan Radar Semarang kemarin (22/2), ada dua jalan di Desa Maliyan yang perlu perhatian dari pemerintah desa. Pertama jalan alternatif sebelah utara desa yang belum dibeton, dan masih berupa tanah. Pengajuan sudah lama tidak ditanggapi. Padahal jika hujan, jalan alternatif tersebut licin. Jika jalan utama desa ditutup untuk kegiatan warga, jalan alternatif tersebut dipakai sebagai pengganti jalur utama.

Semenata itu jalan yang berada di jalur utama Desa Maliyan, beberapa bagian mulai rusak, jika tidak segera diperbaiki akan menimbulkan kerusakan lebih parah.

Tokoh masyarakat Maliyan, Thohari Sugito, 63, meminta aparat desa segera memperbaiki jalan tersebut. Karena kerusakan ada beberapa titik. Di samping itu, pemerataan pembangunan desa harus adil. Tidak hanya yang dekat yang dibantu. Karena warga Dusun Maliyan juga membutuhkan infrastruktur jalan yang baik.

“Desa memang mendapat dana bantuan dari kabupaten untuk pembangunan desa. Tapi entah kenapa pengajuan masyarakat terkait jalan tidak segera ditanggapi. Padahal ini untuk kemaslahatan bersama,” tandasnya.

Kepala Dusun Maliyan, Solihin, menuturkan, jika daerahnya merupakan dusun terkecil di antara dusun lainnya. Sehingga kadang aparat desa memberikan prioritas kepada dusun yang lebih besar. Padahal di jalan alternatif tersebut, juga sering dilewati warga. Banyak mobil yang lewat jalan alternatif Maliyan sering selip. Tapi entah kenapa pemerintah tidak segera membangun jalan. Dengan kebijakan seperti ini, seolah pihaknya merasa Dusun Maliyan seperti terisolasi.

“Daerah pinggiran seperti ini memang rawan terjadi penyalahgunaan. Banyak terjadi tebang pilih. Kami sebagai kepala dusun hanya mengikuti perintah dari atas. Kalau disuruh mengajukan, ya mengajukan. Saya tidak mau turut campur, karena takut ribut, akibat rebutan kepentingan,” pungkasnya. (abd/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.