Kesulitan Garap Order, Sowan Mbah Google

569
SANGAT TEKUN : Masykur bersama sejumlah orderan percetakannya. (Dokumentasi Rumah Grafika For Rase)
SANGAT TEKUN : Masykur bersama sejumlah orderan percetakannya. (Dokumentasi Rumah Grafika For Rase)
SANGAT TEKUN : Masykur bersama sejumlah orderan percetakannya. (Dokumentasi Rumah Grafika For Rase)

Bermula dari kesasar ketika mencari perusahaan percetakan di Kota Semarang, Masykur, 27, justru kian bersemangat membuka lapangan kerja sendiri. Berguru dari Mbah Google, warga Desa Jajarwayang Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan tersebut, kini menjadi seorang design grafis handal yang telah mendirikan usaha sendiri di bidang percetakan. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL, Kajen

PADA 2010, Ijonk, sapaan akrab Masykur, sempat membungkus muka ketika bertandang ke Kota Semarang, tepatnya di daerah Stasiun Poncol Kecamatan Semarang Utara. Lulusan STAIN Pekalongan Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) itu, bermaksud mencari sebuah perusahaan percetakan yang dikenal memberikan harga miring dengan hasil maksimal.

Setelah berjam-jam berkeliling Kota Atlas, Ijonk akhirnya yakin telah menemukan lokasi yang dicari. “Saya ingat, lokasinya di depan SMP 15 Semarang ada gang masuk. Saat itu, saya dapat informasi dari teman kalau di lokasi itu murah,” kisahnya.
Tanpa basa-basi, Ijonk lantas mengungkapkan keinginannya mencetak kalender 12 halaman sebanyak 2000 eksemplar. Pemaparan yang agak tergesa-gesa, membuat pria keturunan Tionghoa yang ada di hadapannya hanya mengangguk.

“Saya pikir paham, saya jadi bersemangat memaparkan keperluan saya, baik tentang harga dan segala macam. Tapi ternyata bukan perusahaan percetakan,” imbuhnya sembari menghela nafas.

Ternyata perusahaan yang dimasuki bukan perusahaan jasa percetakan, melainkan jasa finishing percetakan seperti laminasi dan UV. Pria yang ditemui Ijonk ternyata juga seorang manager perusahaan bernama Hermanto. Tak terbayang bagaimana mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu membungkus malu begitu mengetahui bahwa dirinya salah alamat.
“Namanya Pak Hermanto. Dia santun sekali orangnya. Saya jadi sangat malu sekali, waktu itu,” akunya.

Namun, mengetahui semangat pemuda yang juga sewaktu kuliah aktif di mahasiswa pecinta alam itu, sang manager justru memberikan dukungan luar biasa. Ijonk yang mengaku bisa design grafis itu diberikan nasehat agar menekuni dunia percetakan.
“Jika punya untung besar, uangnya jangan untuk berfoya-foya. Jangan putus asa, jika terpuruk. Suatu saat pasti akan rugi, karena di percetakan itu, satu kesalahan saja, itu rugi 100 persen. Kemudian saya disuruh ke Jalan Kelinci, di daerah Poncol,” kata Ijonk menirukan ungkapan Hermanto lima tahun silam.

Dari situlah, Ijonk mengaplikasikan bakat. Sejak 2001, kemudian berkembang pesat hingga sekarang. Mulai dari sablon manual, printing digital hingga offset. Pada awal merintis usaha, Sekjend Pimpinan Daerah Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) Kabupaten Pekalongan itu mengaku selalu menggunakan insting dan menempatkan order adalah tantangan. Kemudahan akses informasi melalui internetpun dimanfaatkan. Bahkan pada awal-awal usahanya, Ijonk nekat melayani orderan yang belum dikuasai.

“Saya hanya melihat, garapan seperti ini co’e mampu (mungkin sanggup, red). Kalau kesulitan, saya lihat di internet atau tanya sama teman. Yang pasti orderan itu tantangan buat saya untuk menyelesaikan,” paparnya.

Tanpa mengesampingkan studi, pemilik percetakan Rumah Grafika tersebut telah merambah berbagai bidang percetakan. Memanfaatkan keilmuannya di bangku kuliah, lulusan MTs dan MA Simbangkulon Kabupaten Pekalongan itu memulai dengan membuat penawaran ke berbagai sekolah.

“Mulai fokus tahun 2009, Rumah Grafika itu dunia offset. Saya garap majalah tingkat SMP, SMA atau kampus-kampus. Kalau luar kota ada dari Unsoed Purwokerto, UMP Purworejo, STAIN Purworejo,” kata kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Rifa’iyah Bojongminggir Kecamatan Bojong tersebut.

Pecinta scooter itu acap kali diminta menjadi pengisi pelatihan layout majalah baik di organisasi formal maupun organisasi in formal. Selain bergelut di dunia kertas, seperti buku, majalan, buletin dan boks makan, Rumah Grafika juga menggarap paket seminar kit seperti map, buku ID card, kalender. Kemudian, sticker, gantungan kunci, plakat marker dan lain-lain.
“Untuk pekerja design grafis ada dua orang, untuk finishing saya memberdayakan tetangga. Saya lebih ke produksi,” kata juara lima lomba pembuatan poster bertema pendidikan di Universitas Indonesia 2010 tersebut.

Pria kelahiran Pekalongan 16 Maret 1987 tersebut berharap, usahanya bisa lebih berkembang dan lebih mengangkat dunia pendidikan melalui majalah sekolah. Kini, suami Siti Triyati, SPdI tersebut berharap bisa mempunyai sendiri mesin cetak. Berkat ketekunannya, bekerjasama dengan CV Duta Media Utama (DMU), usaha yang dirintis pria penyuka makanan khas Megono, ini sudah mencetak sedikitnya 15 judul buku. “Nama Rumah Grafika itu, awalnya karena saya ingin bekerja di rumah. Lantaran melihat orang tua saya tidak bekerja. Bagi saya, rumah itu sumber kehidupan, sumber rezeki,” pungkasnya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.