Paling Suka Medan Terjal, Turunan seperti Merdeka

427
ISTIRAHAT: Anggota Komunitas Blondo Action Cycling (Black) saat melakoni gowes rutin jelajah kota. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
ISTIRAHAT: Anggota Komunitas Blondo Action Cycling (Black) saat melakoni gowes rutin jelajah kota. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
ISTIRAHAT: Anggota Komunitas Blondo Action Cycling (Black) saat melakoni gowes rutin jelajah kota. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Komunitas penghobi sepeda onthel ini paling suka berpetualang menyusuri daerah-daerah bermedan jalur terjal. Mereka tergabung dalam Komunitas Blondo Action Cycling (Black).

PUPUT PUSPITASARI, Mungkid

BERJERSEY jingga menyala, sejumlah anggota Black—lengkap dengan helm, sepatu bergerigi, kacamata, dan sarung tangan—mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Iring-iringan mountain bike (MTB), menjadi perhatian warga yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

Kucuran keringat tak menyurutkan gowesan mereka. Sebaliknya, para anggota Black makin bersemangat menaklukkan medan terjal. Salah satunya Amin Joko Widodo. Pria berusia 52 tahun itu masih tampak bugar, meski sudah menggowes sepanjang belasan kilometer.

Di komunitas ini, Joko—panggilan intimnya—dipercaya sebagai ketua. Ia warga Blondo, Kecamatan Mungkid. Profesinya sebagai guru IPS di SMP Negeri 1 Kota Mungkid. Black, kata Amin, terbentuk pada 20 Januari 2013.

Kelahiran komunitas ini, beber Joko, karena komunitas bulutangkis maupun senam jantung sehat yang lebih dulu terbentuk, belum mampu merangkul semua kalangan. Utamanya, warga Blondo I, Kecamatan Mungkid.

Dengan terbentuknya Black, ia berharap bisa menyatukan semua warga Blondo I. Hingga kini, anggota Black bahkan sudah meluas hingga ke Blondo II. Paling muda, anggotanya berstatus pelajar SMA. “Ada juga simpatisan dari daerah lain, seperti warga Tegalrejo yang sering bergabung,” kata Joko.

Saat ini, anggota aktif Black sekitar 30-an. Khusus anggota, mereka diberi kartu tanda anggota. Yaitu, KAB, kependekan dari Kartu Anggota Black. KAB wajib dibawa sebagai tanda pengenal saat mereka berkegiatan di luar. “Tujuannya, bukan sekadar olahraga, tapi juga bisa merekatkan masyarakat.”

Anggota komunitas ini tak memandang strata. KAB difungsikan sebagai pengenal ketika bertemu komunitas serupa dari daerah lain. Kegiatan rutin komunitas Black, gowes setiap Minggu. Juga berpetualang ke beberapa daerah terpencil atau bermedan sulit. “Setiap bulan kami juga rapat. Tempatnya bergantian ke beberapa anggota Black,” akunya.

Meski baru seumur jagung terbentuk, Black punya cita-cita mulia. Mereka ingin terlibat dalam kegiatan sosial. Sayangnya, niat baik tersebut, masih terbentur kendala finansial. Kemampuan mereka, kata Amin Joko, baru sebatas sosial kepada internal anggota. “Jika kami semakin besar dan banyak anggotanya, kami yakin bisa ikut di kegiatan social,” terangnya.

Kendala lain, ucap Joko, adalah cuaca. Saat hujan, mereka tak bisa gowes bareng. Jalan yang cukup licin, jadi kendala yang cukup berarti. “Pernah ada yang terjatuh, karena terlalu asyik gowes, jadi lepas kontrol. Sementara medannya butuh konsentrasi tinggi,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, pernah ada anggota Black yang kakinya kram. Toh, semua kendala bisa terselesaikan. Apalagi Black sudah memiliki teknisi sendiri. “Salah satu anggota kami, ada yang jago utak-atik sepeda. Kami pun sudah mempersiapkan suku cadang agar bisa di perbaiki langsung.”

Darmanto, salah seorang anggota komunitas Black mengklaim, loyalitas anggota komunitas ini patut diacungi jempol. Meski tak memiliki ikatan saudara, namun para anggota Black senantiasa menunggu temannya saat ada trobel.

“Begitu ada yang sakit atau mengalami masalah pada sepedanya, kita semua langsung berhenti dan menunggu sampai semuanya membaik dan terselesaikan,” urainya.

Pemuda 27 tahun itu merasakan banyak manfaat bergabung dengan Black. Selain kehangatan dan kebersamaan, kesehatan juga lebih terjaga. Pun, wawasan semakin bertambah, setelah pelesir ke beberapa tempat yang dikunjungi Black.

“Kami selalu mengunjungi tempat yang berbeda. Di tempat itulah, kami menemukan hal-hal unik, baru dan berbeda. Saling bertukar pengalaman maupun informasi juga sering menjadi pembahasan saat berkumpul.”

Paling menantang, ucap Darmanto, ketika mengayuh di tanjakan. Begitu mendapat turunan, rasanya merdeka. “Paling capek saat dapat tanjakan, tapi rasanya lega banget.”

Pemuda berzodiak Libra itu bermimpi, Black semakin solid dan besar. Kelak, Black ingin bercengkerama dengan komunitas sepeda onthel lainnya. (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.