Per Kamar Dipatok Rp 118 Ribu

458
MANGKRAK : Kondisi bangunan rusunawa di dusun Kalireyeng, Kelurahan Kebonharjo satu tahun lebih mangkrak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MANGKRAK : Kondisi bangunan rusunawa di dusun Kalireyeng, Kelurahan Kebonharjo satu tahun lebih mangkrak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MANGKRAK : Kondisi bangunan rusunawa di dusun Kalireyeng, Kelurahan Kebonharjo satu tahun lebih mangkrak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Dua blok bangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang berada di Kalireyeng, Kelurahan Kebondalem rencananya akan dioperasikan pertengahan Maret nanti. Iuran sewa dimulai dengan harga Rp 118 ribu per kamar. Kepala UPTD Wilayah 1 Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptaru) Kecamatan Kendal, Sugiyono mengatakan, sejauh ini tarif biaya sewa sudah diajukan ke Bupati Kendal dan tinggal menunggu pengesahan. “Jika sudah disahkan, resmi menjadi regulasi biaya sewa yang akan diberlakukan nantinya,” katanya, Senin (23/2).

Menurutnya, regulasi tarif menjadi kendala utama sehingga penempatan rusunawa yang direncanakan Awal Januari lalu hingga kini belum terlaksana. Sebab regulasi ini akan menadi payung hukum terkait tarif biaya sewa yang akan dibebankan kepada penghuni rusunawa nantinya.

Menurutnya, tarif sewa yang akan dikenakan jauh lebih murah dari yang sudah diusulkan Dinas Ciptaru. Harga sewa ditetapkan berdasarkan lantai. Rusunawa sendiri setiap bloknya ada lima lantai. Setiap bangunan memiliki 98 unit yang dapat disewa warga Kendal. “Harga terendah dimulai dengan Rp 118 ribu, kalau lainnya tarif lainnya kami belum mengetahui. Tapi khusus untuk lantai 1 hanya ada 2 unit yang dapat dipakai khusus untuk difabel,” tambahnya.

Harga sewa tersebut sudah menyangkut perihal kebersihan lingkungan dan biaya keamanan. “Tapi belum termasuk biaya listrik dan air. Untuk kedua biaya tersebut harus di bayar sendiri penghuni karena pemakaian disesuikan dengan pemakaian,” tambahnya.

Rusunawa merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU). Rencananya rusunawa bakal dipergunakan untuk masyarakat yang belum memiliki rumah dan masuk dalam kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Sejauh ini 86 yang sudah di setujui dari 104 pendaftar yang mengajukan tinggal di Rusunawa,” paparnya.

Perihal sarana dan prasrana seperti listrik, lampu dan air, menurutnya akan dipenuhi setelah ada regulasi tarif sewa dari Bupati Kendal. “Segera setelah disahkan, listrik dan air akan kami upayakan karena sudah dianggarkan,” tambahnya.

Semetara, warga bantaran sungai Kalireyeng yang rencananya akan direlokasi ke rusunawa jutru menolak rencana relokasi. Warga keberatan biaya tarif sewa. Mujiatun, 44 warga bantaran Kalireyeng mengatakan dari sosialisasi awal Dinas Ciptaru, warga yang akan direlokasi ke rusun diwajibkan membayar uang sewa Rp 150 ribu perbulan. “Jika harus sewa warga kami keberatan. Sebab pendapatan kami tidak seberapa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Rp 150 ribu itupun hanya biaya sewa saja, belum lagi nanti biaya kebersihan lingkungan, keamanan dan listrik,” katanya.

Menurutnya, biaya sewa dan biaya operisonal rusun menurutnya jauh lebih mahal dari biaya jika warga kos atau mengontrak rumah tinggal. Makanya warga bantaran sungai banyak yang memilih mencari rumah kos atau kontrak. “Apalagi sewa itu berlaku selamanya, dalam arti rusun tidak bisa menjadi hak milik warga,” tandasnya. Rumah susun luasnya hanya 12 meter persegi, jadi sempit jika harus ditinggali satu keluarga. “Rumah susun menjadi rumah tidak sehat, jika ditempati lebih dari empat anggota keluarga,” tambahnya. (bud/fth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.