Diduga Palsu, Pupuk Bansos Mangkrak

345
TAK BISA DIGUNAKAN : Soklari, 62, anggota Kelompok Tani Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, menunjukkan bansos pupuk organik yang mangkrak. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
TAK BISA DIGUNAKAN : Soklari, 62, anggota Kelompok Tani Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, menunjukkan bansos pupuk organik yang mangkrak. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
TAK BISA DIGUNAKAN : Soklari, 62, anggota Kelompok Tani Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, menunjukkan bansos pupuk organik yang mangkrak. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG–Pupuk organik bantuan sosial (Bansos) tahun 2014 senilai Rp 1 miliar yang diberikan kepada ratusan petani yang tersebar di 11 desa, Kabupaten Batang, dibiarkan mangkrak. Pasalnya, para petani menduga pupuk tersebut palsu, karena tidak bisa digunakan untuk tanaman pertanian.

Puluhan ton pupuk organik yang dikemas dalam karung plastik seberat 25 kilogram dari PT Petro Kimia Gresik tersebut dibiarkan begitu saja di tepi sawah atau kebun.

Soklari, 62, anggota kelompok tani Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Selasa (24/2) siang kemarin, mengungkapkan bahwa setiap petani pemilik lahan seluas 1 hektare, menerima 3 kantong pupuk organik bansos dan uang Rp 30 ribu. Menurutnya, setelah pupuk tersebut diterima, ternyata tidak bisa digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman.

“Saya terima 3 kantong dan uang Rp 30 ribu dari kelompok tani. Pupuk organik bansos tersebut, tidak bisa melebur dengan tanah dan tetap menggumpal seperti semula. Bahkan kena air pun, pupuk tetap padat tidak menjadi lunak,” ungkap Soklari.

Soklari menandaskan, sebagian besar petani menduga pupuk organik bantuan tersebut palsu. “Kami sengaja tidak mau mengambil pupuk ini,” tandas Soklari, sambil memperlihatkan pupuk organik bansos tersebut di Desa Cepagan.

Sementara itu, petugas dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Batang, Singgih Widiarto, menjelaskan bahwa pupuk organik merupakan bantuan sosial yang diberikan dari Pemerintah Pusat kepada para kelompok petani pada tahun 2014 lalu. Menurutnya, karena itu merupakan bansos, dananya dikirim langsung ke rekening penerima bantuan.

“Pupuk organik tersebut merupakan Bansos tahun 2014. Pemerintah Pusat langsung mengirimkan uangnya ke rekening masing-masing penerima bantuan, dalam hal ini Ketua Kelompok Tani yang di desanya mendapat bantuan,” jelas Singgih.

Singgih Widiarto juga menegaskan, ada 11 Kelompok Tani yang menerima pupuk organik bansos senilai Rp 1 miliar tersebut. Di antaranya, yang berada di Kecamatan Warungasem, yakni Kelompok Tani pada Desa Candiareng, Sawahjoho, Cepagan, Masin, Banjiran, Gapuro, Sijono, Lebo, Menguneng, Terban dan Kalibeluk.

Menurutnya, masing-masing desa menerima bansos dalam jumlah yang berbeda dengan total bansos senilai Rp 1 miliar. Pada Kecamatan Warungasem dengan luas lahan 500 hektare dan setiap hektare mendapatkan dana Rp 2 juta. Bantuan uang tersebut, digunakan untuk pupuk organik, pupuk cair dan benih padi.

“Ada 4 desa yang bermasalah, kami sudah mengecek dan sudah memberikan peringatan kepada kelompok tani tersebut. Agar bantuan dari pemerintah dan untuk petani, dimanfaatkan dengan benar,” tegas Singgih Widiarto. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.